Table Of Content
Bendera One Piece Protes Generasi Baru atau Krisis Nasionalisme

Bendera One Piece: Protes Generasi Baru atau Krisis Nasionalisme?

oleh | Agu 7, 2025 | Sosial dan Budaya | 0 Komentar

Fenomena viral bendera One Piece jelang 17 Agustus memicu debat. Apakah ini simbol protes kreatif atau ancaman bagi persatuan? Simak analisis mendalamnya.

Pendahuluan: Geger Jelang 17 Agustus: Saat Jolly Roger Berkibar di Langit Indonesia

Setiap bulan Agustus, lanskap visual Indonesia bertransformasi. Jalanan, gang-gang sempit, gedung perkantoran, hingga rumah-rumah sederhana serentak dihiasi lautan Merah Putih. Ini adalah ritual tahunan, sebuah penegasan kolektif atas identitas dan kebanggaan nasional dalam menyambut Hari Kemerdekaan. Namun, menjelang perayaan HUT ke-80 Republik Indonesia, sebuah anomali visual yang ganjil dan provokatif muncul, menginterupsi harmoni tradisi tersebut.

Di berbagai penjuru negeri, dari balkon apartemen di kota metropolitan hingga di atas pohon mangga di pedesaan Bima, sebuah bendera lain turut berkibar.1 Warnanya hitam pekat, dengan gambar tengkorak yang menyeringai, mengenakan sebuah topi jerami yang khas. Bendera ini dikenal sebagai “Jolly Roger” dari kelompok Bajak Laut Topi Jerami, simbol utama dari serial anime dan manga Jepang yang fenomenal,

One Piece.2

Apa yang awalnya tampak seperti lelucon atau tribut dari segelintir penggemar fanatik, dengan cepat meluas menjadi sebuah gerakan viral yang masif, didorong oleh kekuatan media sosial.3 Fenomena ini sontak membelah opini publik dan memicu reaksi keras dari panggung politik. Di satu sisi, banyak yang melihatnya sebagai bentuk protes sosial yang cerdas, sebuah ekspresi kekecewaan generasi muda yang dibalut dalam bahasa budaya pop yang mereka kuasai. Di sisi lain, para pejabat negara, termasuk pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), mengutuknya sebagai tindakan subversif, sebuah “upaya memecah belah bangsa” yang mengancam persatuan nasional.5

Insiden ini lebih dari sekadar kehebohan sesaat. Ia membuka kotak pandora pertanyaan-pertanyaan fundamental tentang kondisi bangsa. Apa sesungguhnya makna di balik bendera tengkorak bertopi jerami ini? Mengapa sebuah simbol dari cerita fiksi Jepang mampu menjadi medium artikulasi politik yang begitu kuat di Indonesia? Apakah ini sekadar ekspresi fanatisme budaya yang kebablasan, kritik sosial yang sah, atau, seperti yang dikhawatirkan sebagian pihak, gejala terkikisnya rasa nasionalisme di kalangan generasi baru? Laporan mendalam ini akan membedah fenomena tersebut dari berbagai sudut pandang—penggemar, pemerintah, dan akademisi—untuk memahami apa yang sesungguhnya sedang dikomunikasikan oleh Jolly Roger yang berkibar di langit Indonesia.

Bagian 1: Di Balik Simbol Tengkorak Topi Jerami: Membedah Makna Kebebasan ala One Piece

Untuk memahami mengapa sebuah bendera dari serial animasi dapat memicu kontroversi nasional, pertama-tama kita harus menyadari bahwa One Piece bukanlah sekadar tontonan anak-anak. Bagi jutaan penggemarnya di seluruh dunia, yang dikenal dengan sebutan “Nakama” (kawan seperjuangan), karya epik Eiichiro Oda ini adalah sebuah narasi besar tentang petualangan, persahabatan, dan yang terpenting, perlawanan terhadap tirani. Ini adalah sebuah mitologi modern yang telah berjalan lebih dari dua dekade, membangun dunia fiksi yang kompleks dengan ideologi yang kuat.

Inti dari narasi One Piece adalah perjuangan sang protagonis, Monkey D. Luffy, dan krunya, Bajak Laut Topi Jerami, dalam mengarungi lautan untuk menemukan harta karun legendaris “One Piece” dan meraih impian mereka masing-masing. Musuh utama mereka bukanlah bajak laut lain, melainkan sebuah entitas kekuasaan global yang korup dan totaliter bernama “Pemerintah Dunia” (World Government). Pemerintah Dunia digambarkan sebagai rezim yang menekan kebebasan, memanipulasi sejarah, dan menggunakan kekuatan absolut untuk mempertahankan status quo yang menindas.6

Dalam konteks inilah, bendera Jolly Roger milik kru Topi Jerami memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar identitas kelompok.7 Bendera tersebut, dengan tengkorak bertopi jerami, adalah deklarasi perang terbuka terhadap segala bentuk penindasan yang direpresentasikan oleh Pemerintah Dunia. Mengibarkan bendera itu di dunia

One Piece adalah sebuah tindakan pembangkangan. Ia adalah simbol yang menyuarakan nilai-nilai fundamental: kebebasan untuk mengejar mimpi, keyakinan pada prinsip pribadi, perlawanan terhadap ketidakadilan, dan ikatan persahabatan yang tak terpatahkan.8

Pemilihan simbol ini oleh para penggemar di Indonesia bukanlah suatu kebetulan. Mereka tidak sekadar mengibarkan bendera bajak laut generik. Mereka secara spesifik memilih simbol yang sudah sarat dengan muatan narasi perlawanan terhadap kekuasaan yang sewenang-wenang. Dengan mengibarkan bendera ini, mereka tidak perlu menulis pamflet panjang atau meneriakkan slogan-slogan politik. Simbol itu sendiri sudah menjadi pesan yang utuh. Ia berfungsi sebagai jalan pintas simbolis yang mampu mengkomunikasikan serangkaian gagasan kompleks—kekecewaan pada otoritas, kerinduan akan kebebasan, dan solidaritas dengan sesama warga yang merasakan hal serupa—kepada audiens yang memahami “bahasa” naratif yang sama. Kekuatan komunikatif fenomena ini terletak pada kemampuannya untuk menjadi medium protes yang mudah direplikasi namun tetap memiliki makna yang mendalam bagi komunitasnya.

Bagian 2: Suara Hati “Nakama” Indonesia: Kekecewaan yang Dibungkus Budaya Pop

Lantas, apa yang mendorong para “Nakama” di Indonesia untuk membawa simbol fiksi ini ke dalam realitas politik nasional? Berbagai laporan dan diskusi di ruang digital menunjukkan bahwa tindakan ini bukanlah ekspresi anti-nasionalisme, melainkan sebuah bentuk keterlibatan kewarganegaraan yang unik dan modern. Ini adalah suara kritis yang lahir dari rasa frustrasi dan kekecewaan terhadap kondisi bangsa.

Sebuah unggahan di forum diskusi internasional Reddit secara eksplisit merangkum sentimen ini. Pengguna tersebut menjelaskan bahwa ada “hype di media sosial Indonesia untuk mengibarkan Jolly Roger Topi Jerami alih-alih bendera nasional untuk mengekspresikan kekecewaan dan skeptisisme terhadap Pemerintah Indonesia”.6 Pernyataan ini menegaskan bahwa target dari “protes” ini sangat jelas: kebijakan dan arah kepemimpinan negara saat ini.

Narasi ini diperkuat oleh pernyataan para partisipan di lapangan. Mereka berulang kali menegaskan bahwa sentimen mereka adalah “bukan anti-NKRI, melainkan kecewa terhadap arah negara saat ini”.9 Ini adalah sebuah pembedaan yang krusial. Mereka tidak menolak identitas keindonesiaan mereka, tetapi justru menggunakan kecintaan mereka pada negara sebagai dasar untuk menyuarakan kritik. Mereka merasa negara yang mereka cintai sedang berjalan ke arah yang salah, dan mereka menggunakan satu-satunya bahasa yang mereka rasa paling efektif untuk menyampaikannya.

Fenomena ini juga berhasil meruntuhkan stereotip bahwa partisipannya hanyalah anak muda perkotaan yang terasing dari realitas. Salah satu kasus yang paling menonjol datang dari Desa Lanta Barat, Bima, Nusa Tenggara Barat. Di sana, bendera Jolly Roger ditemukan berkibar di atas pohon mangga, dipasang oleh Kadriansyah, seorang petani berusia 30 tahun.1 Kepada media, Kadriansyah, yang mengaku sebagai penggemar berat

One Piece, menyatakan, “Terkait bendera ini (One Piece), sebenarnya sudah dari dulu kami kibarkan. Bahkan setiap tahun selalu kami kibarkan”.1

Kesaksian Kadriansyah ini sangat penting. Pertama, ia menunjukkan bahwa resonansi narasi One Piece melintasi batas geografis dan kelas sosial, dari pusat kota hingga ke pelosok desa. Kedua, pengakuannya bahwa ini adalah praktik tahunan mengindikasikan bahwa apa yang kita saksikan sebagai fenomena viral bukanlah sebuah tren dadakan, melainkan puncak dari praktik subkultur yang telah lama ada dan kini menemukan momentumnya di panggung nasional.

Secara analitis, apa yang terjadi di sini dapat dipahami sebagai sebuah proses “apropriasi naratif” untuk tujuan politik. Generasi yang tumbuh dengan akses tak terbatas ke budaya global ini merasa kecewa dengan kondisi politik domestik, namun mungkin merasa tidak memiliki platform atau kosakata tradisional untuk menyuarakan keresahan mereka secara efektif. Mereka kemudian menemukan dalam narasi One Piece sebuah kerangka cerita yang sangat relevan: sekelompok individu yang memperjuangkan kebebasan melawan kekuatan besar yang korup. Mereka “meminjam” narasi ini, memproyeksikannya ke dalam konteks Indonesia, dan melihat adanya paralel antara Pemerintah Dunia dalam cerita dengan beberapa aspek dari pemerintahan mereka sendiri.

Dengan demikian, mengibarkan bendera tersebut menjadi sebuah tindakan performatif. Ini adalah cara untuk menyatakan, “Lihat, cerita fiksi ini terasa lebih nyata dan relevan dengan pengalaman kami daripada retorika politik resmi.” Ini adalah bentuk komunikasi politik yang canggih untuk era digital, di mana budaya pop global tidak lagi hanya menjadi hiburan, tetapi telah menjadi sebuah perbendaharaan kata yang kaya untuk mengartikulasikan disentimen lokal.

Bagian 3: Ancaman Persatuan Bangsa? Perspektif Resmi dan Kontroversi Politik

Reaksi dari pihak pemerintah terhadap fenomena ini tidak butuh waktu lama dan datang dengan nada yang sangat serius. Alih-alih melihatnya sebagai kritik sosial atau ekspresi budaya, para pejabat publik membingkainya sebagai ancaman langsung terhadap kedaulatan dan persatuan nasional.

Narasi tandingan yang paling vokal datang dari Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad. Dalam berbagai kesempatan, politikus Partai Gerindra ini secara tegas melabeli tren pengibaran bendera One Piece sebagai sebuah “upaya pecah belah bangsa”.5 Dasco bahkan mengklaim bahwa lembaga keamanan dan intelijen telah mendeteksi adanya gerakan terorganisir di baliknya. Menurutnya, ada pihak-pihak yang “tidak ingin melihat Indonesia maju” dan berusaha menghancurkan kemajuan tersebut dengan cara mengadu domba masyarakat.7 Ia pun mengajak seluruh rakyat untuk tidak terprovokasi dan bersama-sama melawan upaya tersebut.

Keseriusan pemerintah dalam menanggapi isu ini tercermin dari eskalasinya ke panggung media nasional. Stasiun televisi berita terkemuka, KompasTV, mendedikasikan satu episode penuh dari program bincang-bincang primetime-nya, “Satu Meja The Forum,” untuk membahas fenomena ini. Judul episode tersebut secara sempurna merangkum polarisasi yang terjadi: “ONE PIECE”, PROTES PUBLIK ATAU MOTIF POLITIK?”.10 Acara ini menghadirkan narasumber dari berbagai kalangan, mulai dari pejabat istana, politisi, akademisi, hingga kreator konten, menandakan bahwa isu bendera anime ini telah dianggap sebagai diskursus nasional yang penting.

Namun, ironisnya, reaksi keras dari pemerintah ini justru memiliki efek yang berkebalikan dari yang diharapkan. Alih-alih meredam, respons tersebut malah semakin mengobarkan api kontroversi dan, di mata para penggemar, secara tidak sengaja memvalidasi protes mereka. Ketika para penggemar menggunakan narasi One Piece sebagai metafora untuk mengkritik apa yang mereka anggap sebagai kecenderungan otoriter pemerintah, pemerintah merespons dengan tuduhan subversi dan ancaman terhadap keamanan nasional.

Respons ini sangat mirip dengan cara “Pemerintah Dunia” dalam anime yang selalu bereaksi terhadap setiap bentuk pembangkangan: dengan pelabelan kriminal, supresi, dan propaganda. Seorang penggemar di forum Reddit menangkap ironi ini dengan sempurna saat menulis, “Rasanya seperti propaganda Pemerintah Dunia di dunia nyata”.6 Dengan kata lain, dalam upaya mereka untuk membungkam kritik, para pejabat justru akhirnya memainkan peran antagonis yang telah disematkan kepada mereka oleh para penggemar. Dinamika ini menciptakan sebuah lingkaran setan: semakin keras pemerintah mengutuk, semakin akurat metafora

One Piece terasa, dan semakin kuat pula justifikasi bagi para penggemar untuk melanjutkan ekspresi mereka. Fenomena ini menunjukkan adanya jurang pemahaman yang dalam antara negara dan sebagian kaum mudanya, di mana kedua belah pihak berbicara dengan bahasa dan logika yang sama sekali berbeda.

Tabel 1: Perbandingan Interpretasi Fenomena Bendera One Piece

Untuk memetakan kompleksitas perdebatan ini, tabel berikut menyajikan ringkasan dari tiga perspektif utama yang saling bertentangan.

Pihak (Stakeholder)Interpretasi (Interpretation)Landasan Argumen (Basis of Argument)Kutipan/Konsep Kunci (Key Quote/Concept)
Penggemar / “Nakama” IndonesiaSimbol protes sosial dan ekspresi kekecewaan yang kreatif.Bendera melambangkan kebebasan, perlawanan terhadap ketidakadilan, dan solidaritas, sesuai narasi One Piece. 7“Bukan anti-NKRI, melainkan kecewa terhadap arah negara.” 9
Pemerintah / Pejabat PublikUpaya memecah belah bangsa dan ancaman terhadap persatuan nasional.Tindakan ini dianggap menantang simbol negara (Merah Putih) dan dideteksi sebagai gerakan subversif. 5“Upaya pecah belah bangsa.” 5
Analis Budaya / AkademisiFenomena kompleks yang menantang hubungan antara fanatisme budaya pop asing dan nasionalisme.Fanatisme berlebihan pada budaya asing berpotensi mengikis rasa nasionalisme, namun juga bisa menjadi bahasa baru untuk artikulasi politik. 12“Fanatisme Wibu dapat menghambat kemajuan nasionalisme.” 12

Bagian 4: Wibu, Fandom, dan Nasionalisme: Sebuah Analisis Budaya di Era Digital

Kontroversi bendera One Piece tidak dapat dilepaskan dari konteks fenomena budaya yang lebih luas di Indonesia, yaitu subkultur “Wibu”. Istilah yang berasal dari kata Weeaboo ini merujuk pada seseorang non-Jepang yang memiliki kecintaan dan obsesi mendalam terhadap berbagai aspek budaya populer Jepang, seperti anime, manga, musik, dan gaya busana.13 Selama bertahun-tahun, fenomena Wibu seringkali dipandang dengan stigma, dianggap sebagai bentuk eskapisme di mana individu lebih mengagungkan budaya asing daripada budayanya sendiri.14

Kekhawatiran ini bukan hanya ada di level percakapan sehari-hari, tetapi juga telah menjadi subjek penelitian akademis. Beberapa studi menyoroti bagaimana imersi yang dalam pada budaya pop asing dapat memengaruhi gaya hidup dan identitas para pelakunya.14 Sebuah penelitian yang dipublikasikan pada tahun 2023 bahkan sampai pada kesimpulan yang mengkhawatirkan, menyatakan bahwa “fanatisme Wibu dapat menghambat kemajuan nasionalisme dan merusak kesatuan nasional”.12 Dari sudut pandang ini, kekhawatiran yang disuarakan oleh pemerintah seolah-olah mendapatkan pembenaran akademis. Tindakan mengibarkan bendera anime di hari kemerdekaan bisa dilihat sebagai bukti nyata dari terkikisnya rasa kebangsaan.

Namun, apakah sesederhana itu? Apakah para “Nakama” yang mengibarkan Jolly Roger ini benar-benar menolak identitas keindonesiaan mereka? Jika kita melihat lebih dekat pada tindakan mereka, argumen tersebut menjadi kurang meyakinkan. Alih-alih menolak, mereka justru sedang terlibat aktif dalam diskursus tentang Indonesia. Tujuan mereka sangatlah domestik: mengkritik pemerintah Indonesia, menyuarakan keresahan tentang arah negara Indonesia.6

Di sinilah letak pergeseran paradigmatik yang penting. Fenomena ini mungkin bukanlah “Wibunisme” dalam pengertian klasiknya, yang menyiratkan adanya penggantian total budaya asal dengan budaya Jepang. Ini adalah sesuatu yang lebih kompleks dan bernuansa. Para penggemar ini tidak sedang berupaya untuk menjadi orang Jepang. Sebaliknya, mereka menggunakan sebuah produk budaya Jepang sebagai alat atau bahasa untuk berpartisipasi dalam kehidupan sipil di Indonesia.

Ini menantang asumsi lama bahwa nasionalisme dan kecintaan pada budaya global adalah dua hal yang saling bertentangan. Apa yang ditunjukkan oleh fenomena bendera One Piece adalah bahwa keduanya bisa hidup berdampingan, bahkan saling memberdayakan. Bagi generasi ini, menjadi seorang warga negara yang baik—yang peduli pada nasib bangsa dan berani meminta pertanggungjawaban dari penguasa—dapat diekspresikan melalui medium yang berasal dari perpustakaan budaya global. Mereka mendefinisikan ulang bagaimana patriotisme dan tugas kewarganegaraan dapat diekspresikan di era digital.

Debat ini, pada akhirnya, bukan lagi sekadar tentang sebuah bendera. Ini adalah tentang pergeseran generasi dalam mendefinisikan bahasa protes dan makna nasionalisme itu sendiri. Fenomena ini memaksa generasi yang lebih tua dan struktur kekuasaan yang mapan untuk bergulat dengan kenyataan baru: bahwa di era arus informasi transnasional, cinta pada budaya pop global dan cinta pada tanah air bukanlah hal yang mustahil untuk didamaikan. Justru, yang satu bisa menjadi medium ekspresi yang kuat bagi yang lain.

Penutup: Bahasa Protes Generasi Baru dan Masa Depan Ekspresi Publik

Perjalanan analisis kita dimulai dari sebuah gambar yang mengusik: bendera hitam bergambar tengkorak yang berkibar di antara lautan Merah Putih. Dari gambar tersebut, kita menelusuri sebuah kontroversi nasional yang kompleks, yang mempertemukan dunia fiksi One Piece dengan realitas politik Indonesia. Kita telah melihat bagaimana sebuah simbol yang bagi sebagian orang adalah deklarasi kebebasan, bagi yang lain adalah ancaman terhadap persatuan. Kita telah membedah motivasi para penggemar yang merasa kecewa, dan reaksi para pejabat yang merasa terancam.

Fenomena bendera One Piece jauh lebih dari sekadar tren viral sesaat. Ia adalah sebuah studi kasus yang gamblang tentang evolusi ekspresi politik di abad ke-21. Ia menunjukkan bagaimana sebuah generasi yang fasih dalam bahasa budaya pop global mampu memobilisasi narasi bersama untuk mengartikulasikan keluhan-keluhan lokal dengan cara yang kreatif, kuat, dan yang terpenting, sulit untuk dikendalikan atau bahkan dipahami oleh struktur kekuasaan tradisional.

Ketika pemerintah berbicara dalam bahasa stabilitas nasional dan ancaman subversif, kaum muda ini menjawab dengan bahasa metafora, simbolisme, dan narasi fiksi. Terjadinya “salah sambung” komunikasi ini adalah inti dari seluruh kontroversi. Ini bukanlah sekadar perbedaan pendapat, melainkan perbedaan semesta makna.

Pada akhirnya, pertanyaan paling penting yang diajukan oleh Jolly Roger yang berkibar di langit Indonesia bukanlah tentang apakah para penggemar ini mencintai negara mereka atau tidak. Tindakan mereka, yang lahir dari kepedulian terhadap arah bangsa, justru menunjukkan sebaliknya. Pertanyaan yang sesungguhnya adalah: apakah negara ini siap untuk mendengarkan suara kaum mudanya ketika mereka memilih untuk berbicara dalam bahasa yang belum sepenuhnya ia pahami? Masa depan diskursus publik di Indonesia, dan mungkin juga di belahan dunia lain, bisa jadi akan semakin banyak ditulis dengan tinta budaya populer. Dan kesiapan kita untuk membaca dan menafsirkannya akan menentukan kualitas demokrasi kita di masa depan.

Karya yang dikutip

  1. Pengibar Bendera Jolly Roger di Bima Petani Fans Berat One Piece – detikcom, diakses Agustus 7, 2025, https://www.detik.com/bali/nusra/d-8046947/pengibar-bendera-jolly-roger-di-bima-petani-fans-berat-one-piece
  2. Heboh Mengibarkan Bendera One Piece Jelang 17 Agustus, Apa Artinya?, diakses Agustus 7, 2025, https://www.cnbcindonesia.com/lifestyle/20250803084044-33-654550/heboh-mengibarkan-bendera-one-piece-jelang-17-agustus-apa-artinya
  3. Viral Bendera One Piece Berkibar Jelang 17 Agustus – CNN Indonesia, diakses Agustus 7, 2025, https://www.cnnindonesia.com/nasional/20250731152307-20-1257227/viral-bendera-one-piece-berkibar-jelang-17-agustus
  4. Viral Bendera One Piece Jelang HUT RI | AKIM tvOne – YouTube, diakses Agustus 7, 2025, https://www.youtube.com/watch?v=PVKLeEVX6Lg
  5. Dasco Sebut Bendera One Piece Jelang 17 Agustus Upaya Pecah Belah Bangsa, diakses Agustus 7, 2025, https://nasional.kompas.com/read/2025/07/31/22543911/dasco-sebut-bendera-one-piece-jelang-17-agustus-upaya-pecah-belah-bangsa
  6. ‘One Piece’ Anime Flags Pose Threat to National Unity, Says Deputy …, diakses Agustus 7, 2025, https://www.reddit.com/r/OnePiece/comments/1mete1l/one_piece_anime_flags_pose_threat_to_national/
  7. Makna Bendera One Piece yang Dianggap Gerakan Memecah …, diakses Agustus 7, 2025, https://www.liputan6.com/lifestyle/read/6121882/makna-bendera-one-piece-yang-dianggap-gerakan-memecah-belah-bangsa
  8. Apa Arti Bendera One Piece, Kenapa Jadi Simbol Protes?, diakses Agustus 7, 2025, https://www.kompas.com/global/read/2025/08/02/214606870/apa-arti-bendera-one-piece-kenapa-jadi-simbol-protes?page=all
  9. Viral Bendera One Piece Jelang di HUT RI Ke-80, Simbol Perlawanan atau Bentuk Kekecewaan? – Radar Tulungagung, diakses Agustus 7, 2025, https://radartulungagung.jawapos.com/viral/766365802/viral-bendera-one-piece-jelang-di-hut-ri-ke-80-simbol-perlawanan-atau-bentuk-kekecewaan
  10. [FULL] Pengibaran Bendera One Piece Jelang Kemerdekaan, Protes Publik atau Motif Politik? |SATU MEJA – YouTube, diakses Agustus 7, 2025, https://www.youtube.com/watch?v=-2lkQNN087s
  11. “One Piece” Protes Publik atau Motif Politik? I SATU MEJA THE FORUM – YouTube, diakses Agustus 7, 2025, https://www.youtube.com/watch?v=O_-FcYAfuvQ
  12. Wibunisme : Apakah bukti fanatisme menurunkan nasionalisme di …, diakses Agustus 7, 2025, https://journals.usm.ac.id/index.php/jdsb/article/view/6872
  13. Fenomena Budaya Wibu Sebagai Bentuk Komunikasi Remaja Generasi Z (Studi pada Komunitas Cosplay Naruto Fans Palembang) – Pubmedia Journal Series, diakses Agustus 7, 2025, https://journal.pubmedia.id/index.php/bai/article/download/2493/2535
  14. FENOMENA GAYA HIDUP REMAJA WIBU PADA BUDAYA POPULER JEPANG MELALUI ANIME DAN FASHION (studi di daerah Daan Mogot Cengkareng – Institutional Repository USNI, diakses Agustus 7, 2025, https://repository.usni.ac.id/repository/23ac1e17a30397e77c22f0f024be0bc8.pdf

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *