Mengapa kisah Arhan dan Azizah begitu viral? Sebuah analisis tentang bagaimana cerita personal bisa menjadi fenomena sosial yang mencerminkan kita semua.
Pendahuluan
Publik Indonesia seolah mengalami whiplash kolektif. Belum lama rasanya linimasa media sosial dipenuhi potret romantis pernikahan Pratama Arhan dan Azizah Salsha di Tokyo, sebuah seremoni yang digambarkan bak dongeng modern.1 Namun, hanya dalam kurun waktu dua tahun, narasi manis itu berganti tajuk berita yang mengejutkan: gugatan cerai di Pengadilan Agama Tigaraksa.2 Pergeseran drastis dari pemujaan ke pengadilan ini memantik pertanyaan fundamental: mengapa urusan pribadi dua anak muda ini bisa menjadi obsesi nasional?
Untuk memahaminya, kita perlu melihat kedua figur ini bukan sekadar sebagai individu, melainkan sebagai arketipe budaya. Di satu sisi, ada Pratama Arhan, sang pahlawan “Anak Desa”. Pesepak bola berbakat asal Blora, Jawa Tengah, yang merangkak dari latar belakang sederhana menjadi ikon nasional berkat semangat juang dan kemampuan lemparan ke dalam jarak jauhnya yang khas.4 Kisah suksesnya adalah perwujudan impian Indonesia. Di sisi lain, ada Azizah Salsha, seorang selebgram dan sosialita metropolitan, putri dari seorang politisi terkemuka.1 Ia merepresentasikan dunia yang berbeda, dunia privilese urban dan selebritas digital.
Keterlibatan publik yang intens dalam saga Arhan-Azizah ini jauh melampaui sekadar gosip selebriti. Fenomena ini adalah studi kasus yang kuat, sebuah cermin yang merefleksikan dinamika inti masyarakat digital kontemporer kita: kaburnya batas antara kehidupan privat dan publik, penciptaan keintiman ilusi melalui hubungan parasosial, kekuatan algoritma media sosial yang mempolarisasi, serta tekanan psikologis luar biasa yang dibebankan pada figur publik muda. Kisah ini adalah cermin, dan apa yang dipantulkannya adalah potret masyarakat kita yang kompleks dan sering kali penuh kontradiksi.
Isi
Dari Dongeng di Tokyo ke Retak di Dunia Maya: Kronologi Sebuah Sensasi
Sebelum membongkar lapisan-lapisan psikologis dan sosiologis dari fenomena ini, penting untuk menyusun fondasi narasinya. Perjalanan hubungan Arhan dan Azizah, dari awal yang dielu-elukan hingga akhir yang penuh drama, adalah sebuah kronologi yang setiap babaknya dikonsumsi dan diperdebatkan secara masif oleh publik.
Narasi “Beauty and the Best”: Awal Mula Pemujaan Publik
Pernikahan Arhan dan Azizah pada 20 Agustus 2023 di Masjid Indonesia Tokyo, Jepang, menjadi panggung awal dari drama ini.1 Momentumnya sempurna; Arhan saat itu tengah membela klub Jepang, Tokyo Verdy, yang menambah aura internasional pada pernikahan mereka. Media dan publik dengan cepat membingkai pernikahan ini sebagai kisah “Cinderella” terbalik, sebuah penyatuan antara “anak desa” berprestasi dengan “putri sosialita” yang seolah menjembatani jurang kelas sosial dan budaya.1 Narasi ini terbukti sangat menarik dan mudah diterima oleh audiens yang luas.
Pemujaan publik ini tidak dibiarkan tumbuh secara organik, melainkan dipupuk melalui berbagai “pertunjukan keintiman”. Salah satu yang paling ikonik adalah selebrasi “bucin” Arhan di lapangan hijau, di mana ia membuka jerseynya untuk menunjukkan kaus bertuliskan nama “Azizah” dan tanggal pernikahan mereka.1 Aksi yang disiarkan ke jutaan pasang mata ini bukan sekadar ungkapan cinta pribadi, melainkan sebuah performa yang secara sadar mengundang publik untuk masuk dan berinvestasi secara emosional dalam kisah cinta mereka.
Eskalasi Drama di Ruang Publik: Isu, Spekulasi, dan Gugatan Cerai
Namun, citra sempurna itu tidak bertahan lama. Keretakan mulai muncul dan dengan cepat menjadi konsumsi publik. Dinamika hubungan jarak jauh menjadi pertanyaan awal di benak warganet.1 Kemudian, narasi mulai bergeser secara dramatis dengan munculnya isu perselingkuhan yang menyeret nama Azizah dengan Salim Nauderer.1 Puncaknya adalah ketika Azizah tertangkap kamera sedang bermain padel bersama mantan kekasihnya, Philo Paz Armand, sebuah insiden yang menjadi viral dan memicu penghakiman massal.1 Setiap peristiwa ini bukan hanya dilaporkan, tetapi menjadi titik nyala perdebatan dan penghakiman daring yang intens.
Akhir yang tak terhindarkan tiba pada 1 Agustus 2025, ketika Arhan secara resmi mendaftarkan permohonan cerai talak di Pengadilan Agama Tigaraksa.2 Drama ini mencapai klimaksnya ketika detail dari surat gugatan bocor ke publik, mengungkap klaim-klaim seperti ketidakcocokan visi dan misi hingga kurangnya hubungan intim sejak September 2024.11 Bocoran ini seolah memberikan “bukti” bagi publik untuk membedah, menganalisis, dan bahkan mempersenjatai informasi tersebut dalam perang argumen di media sosial.
Pola narasi dari “dongeng” menuju “bencana” ini bukanlah sebuah kebetulan; ini adalah struktur yang sangat selaras dengan logika media viral. Semakin tinggi idealisasi di awal, semakin dramatis dan menarik kejatuhan yang mengikutinya. Media dan publik pada awalnya membangun narasi Arhan-Azizah yang hiper-idealis, menciptakan investasi emosional yang tinggi dari audiens. Media sosial, yang berkembang pesat dari konten bermuatan emosi, menemukan bahwa cerita bahagia memiliki potensi keterlibatan yang terbatas seiring waktu. Munculnya konflik—mulai dari isu perselingkuhan hingga gugatan cerai—menyediakan drama yang diperlukan untuk memicu amplifikasi algoritmik. Gugatan cerai dan detail yang bocor berfungsi sebagai klimaks, membayar lunas investasi emosional awal audiens dengan resolusi dramatis yang menghasilkan klik, komentar, dan pembagian konten secara maksimal.
Mekanisme Keterlibatan Publik: Mengapa Kita Begitu Peduli?
Setelah memahami “apa” yang terjadi, pertanyaan selanjutnya adalah “mengapa”. Mengapa jutaan orang merasa begitu terlibat secara emosional dalam pernikahan dan perceraian orang yang tidak mereka kenal secara pribadi? Jawabannya terletak pada mekanisme psikologis dan teknologi yang mendasari interaksi kita di era digital.
Jebakan Hubungan Parasosial: Saat Penggemar Merasa Memiliki
Keterlibatan publik yang mendalam ini dapat dijelaskan melalui teori hubungan parasosial, sebuah konsep yang merujuk pada keintiman ilusi satu arah antara audiens dan figur media.13 Di era digital, fenomena ini diperkuat secara eksponensial. Figur publik seperti Arhan dan Azizah tidak lagi hanya muncul di televisi; mereka hadir setiap saat melalui media sosial, menyajikan aliran konten “pribadi” yang konstan, yang mengaburkan batas antara persona publik dan kehidupan nyata.15
Interaksi seperti balasan komentar, siaran langsung, dan unggahan kehidupan sehari-hari menciptakan ilusi kedekatan. Publik merasa mengenal mereka, seolah-olah mereka adalah teman atau kerabat. Akibatnya, reaksi publik terhadap perceraian ini bukanlah sekadar rasa ingin tahu, melainkan sebuah “perpisahan parasosial” (parasocial breakup) kolektif.16 Perasaan dikhianati, kesedihan, dan kebutuhan untuk mencari siapa yang bersalah adalah gejala klasik dari fenomena ini. Para penggemar yang telah berinvestasi secara emosional pada “merek” Arhan-Azizah merasa dikecewakan secara pribadi. Mereka merasa memiliki andil dalam hubungan tersebut, sebuah kepemilikan yang lahir dari ilusi akses dan keintiman yang difasilitasi oleh media sosial.16
Ekonomi Perhatian dan Algoritma Polarisasi
Jika hubungan parasosial adalah bahan bakarnya, maka algoritma media sosial adalah mesinnya. Platform seperti TikTok, Instagram, dan X (sebelumnya Twitter) dirancang bukan untuk menyajikan informasi yang seimbang, melainkan untuk memaksimalkan keterlibatan (engagement) pengguna.17 Studi menunjukkan bahwa konten yang memancing emosi kuat—terutama kemarahan dan konflik—menghasilkan interaksi yang jauh lebih tinggi.19
Algoritma ini bekerja dengan menciptakan apa yang disebut “gelembung filter” (filter bubbles) dan “ruang gema” (echo chambers).19 Ketika seorang pengguna menunjukkan simpati kepada Arhan dengan menyukai atau mengomentari unggahan yang mendukungnya, algoritma akan menyajikan lebih banyak konten yang memvalidasi pandangan tersebut. Sebaliknya, mereka yang mengkritik Azizah akan terus-menerus disuguhi konten yang memperkuat keyakinan mereka. Mekanisme ini secara aktif menciptakan dan mengeraskan kubu-kubu yang saling berlawanan.
Proses ini tidak hanya mencerminkan opini publik, tetapi secara aktif membentuk dan mempolarisasinya. Isu pribadi yang seharusnya kompleks dan bernuansa diubah menjadi drama moralitas hitam-putih dengan pahlawan dan penjahat yang jelas. Platform media sosial, dalam upayanya mengejar keuntungan dari perhatian kita, menjadi pihak yang turut andil dalam memproduksi perpecahan ini. Peran publik pun berevolusi dari penonton pasif menjadi partisipan aktif—meskipun tanpa disadari—dalam sebuah drama psikologis berskala besar yang diorkestrasi oleh insentif algoritmik.
Gema di Cermin Digital: Pola Berulang dalam Kultur Selebriti Indonesia
Kasus Arhan-Azizah bukanlah sebuah anomali. Ia adalah bagian dari pola yang lebih besar dan berulang dalam budaya selebriti digital di Indonesia. Dengan membandingkannya dengan saga viral lainnya, kita dapat melihat bahwa ini adalah gejala dari sebuah sistem, bukan sekadar insiden yang terisolasi.
Untuk memberikan gambaran yang jelas, perbandingan pola keterlibatan publik dalam beberapa krisis selebriti digital terakhir dapat disajikan dalam tabel berikut:
| Aspek Analisis | Kasus Arhan – Azizah | Kasus Lesti – Billar | Kasus Fuji – Thariq |
| Narasi Awal | Dongeng “Anak Desa & Sosialita” | Pasangan “Leslar” yang romantis & religius | Pasangan “Thofu” yang lahir dari tragedi |
| Pemicu Krisis Viral | Isu perselingkuhan, gugatan cerai | Laporan KDRT & perselingkuhan | Putus hubungan, kedekatan Thariq dengan Aaliyah |
| Bentuk Keterlibatan Publik | Polarisasi & perdebatan sengit, cyberbullying | Cancel culture, boikot massal, intervensi Komnas Perempuan | Intervensi Fandom, perang antar-penggemar, tekanan untuk “balikan” |
| Peran Media Sosial | Amplifikasi rumor, pembentukan kubu pro/kontra | Platform untuk cancel culture & kontrol sosial | Organisasi fandom, tekanan pada ranah privat |
| Konsep Kunci | Hubungan Parasosial, Algoritma Polarisasi | Dramaturgi (Panggung Depan vs. Belakang), Cancel Culture | Kekuatan Fandom, Parasocial Shipping |
Belajar dari Kasus Lesti-Billar: Antara Citra Panggung dan Realitas
Ada kesejajaran yang kuat antara kasus Arhan-Azizah dengan kasus KDRT yang menimpa Lesti Kejora dan Rizky Billar.22 Kedua pasangan ini sama-sama membangun citra publik yang sempurna—keluarga “Leslar” yang harmonis dan religius—yang ternyata sangat kontras dengan realitas suram di baliknya.24 Ini menyoroti konsep
dramaturgi dalam sosiologi: pemisahan antara “panggung depan” (persona publik yang dikelola dengan hati-hati) dan “panggung belakang” (kehidupan pribadi yang sebenarnya). Reaksi publik terhadap Billar kemudian mewujud sebagai “budaya batal” (cancel culture), sebuah bentuk kontrol sosial digital di mana audiens secara kolektif menghukum seorang figur publik atas pelanggaran norma yang dianggap serius.25
Dinamika Fandom Fuji-Thariq: Intervensi Penggemar dalam Ranah Privat
Fenomena “Thofu” (Thariq-Fuji) menunjukkan sisi lain dari keterlibatan publik yang ekstrem. Dalam kasus ini, basis penggemar yang sangat terorganisir dan militan merasa berhak untuk mendikte kehidupan pribadi pasangan tersebut.27 Para penggemar tidak hanya mengikuti, tetapi secara aktif mengintervensi, menekan mereka untuk tetap bersama, menyerang pasangan baru Thariq (Aaliyah Massaid), dan bahkan menuntut Fuji untuk menghapus foto-foto lama bersama mantannya.29 Ini adalah ilustrasi bentuk ekstrem dari investasi parasosial, di mana penggemar memandang hubungan itu sendiri sebagai sebuah produk yang mereka miliki hak untuk mengontrolnya.
Sorotan Publik dan Dampak Kesehatan Mental
Di balik semua drama dan analisis ini, ada biaya manusia yang nyata. Sorotan publik yang tanpa henti dalam semua kasus ini adalah bentuk perundungan siber (cyberbullying) dalam skala masif.31 Bentuk-bentuknya beragam, mulai dari
flaming (ejekan dan hinaan yang memprovokasi), denigration (pencemaran nama baik), hingga harassment (gangguan yang terus-menerus).34 Bagi figur-figur muda seperti Arhan (menikah di usia 21) dan Azizah (menikah di usia 20) 5, pengawasan digital dan penghakiman tanpa henti ini dapat menyebabkan tekanan psikologis yang parah, termasuk kecemasan, depresi, hilangnya kepercayaan diri, bahkan gangguan stres pascatrauma (PTSD).34
Secara kolektif, kasus-kasus ini menunjukkan evolusi audiens dari konsumen pasif menjadi partisipan aktif, dan sering kali destruktif, dalam kehidupan para selebriti. Partisipasi ini adalah pedang bermata dua: ia bisa menjadi alat kontrol sosial untuk menegakkan keadilan (seperti dalam kasus KDRT), tetapi juga bisa menjadi wahana untuk perundungan massal dan pemaksaan kehendak yang toksik. Cermin digital ini merefleksikan sebuah masyarakat yang tengah bergulat dengan kekuatan barunya, mampu menegakkan keadilan sekaligus melakukan perundungan massal, sering kali tanpa pemahaman yang jelas tentang batas di antara keduanya.
Penutup
Refleksi Akhir: Wajah Masyarakat Kita di Balik Layar Gawai
Pada akhirnya, saga Arhan-Azizah adalah kisah klasik zaman kita. Ini bukanlah sebuah anomali, melainkan hasil logis dari ekosistem media di mana kehidupan pribadi dikomodifikasi, keintiman disimulasikan, dan algoritma memberikan penghargaan tertinggi pada konflik. Fenomena ini menggarisbawahi implikasi yang lebih luas tentang erosi privasi. Bagi figur publik, terutama yang masih sangat muda, garis antara persona publik dan diri pribadi telah larut di bawah tekanan pengawasan konstan. Sorotan publik ini, yang sering kali bermanifestasi sebagai perundungan siber, memiliki konsekuensi nyata dan berat bagi kesehatan mental mereka.31
Namun, tanggung jawab tidak hanya terletak pada platform atau figur publik itu sendiri. Sebagai konsumen media, kita adalah partisipan aktif dalam sistem ini. Setiap klik, komentar, dan tindakan berbagi konten turut menyiram bensin ke dalam api. Memahami mekanisme hubungan parasosial dan manipulasi algoritmik bukan lagi sekadar pengetahuan trivial, melainkan bagian krusial dari literasi digital modern.19 Kita perlu menyadari bahwa di balik setiap akun yang kita ikuti, ada manusia nyata dengan kerentanan yang sama seperti kita.
Mungkin inilah saatnya untuk berhenti sejenak. Ketika kita menatap fenomena Arhan-Azizah di layar gawai kita, cerminan siapa yang sebenarnya kita lihat? Wajah mereka, atau wajah kita sendiri yang terpantul di dalamnya?
Karya yang dikutip
- Perjalanan Cinta Azizah Salsha & Pratama Arhan dari Menikah …, diakses Agustus 28, 2025, https://www.kapanlagi.com/showbiz/selebriti/perjalanan-cinta-azizah-salsha-38-pratama-arhan-dari-menikah-hingga-proses-cerai-naik-turun-bak-roller-coaster-51c019.html
- Pratama Arhan resmi menggugat cerai istrinya, Azizah Salsha, di Pengad… – TikTok, diakses Agustus 28, 2025, https://www.tiktok.com/@cnnindonesia/photo/7542435698830331156
- Profil Pratama Arhan, Pesepak Bola Yang Kini Ceraikan Azizah Salsha di PA Tigaraksa Tangerang – ShowBiz Liputan6.com, diakses Agustus 28, 2025, https://www.liputan6.com/showbiz/read/6142639/profil-pratama-arhan-pesepak-bola-yang-kini-ceraikan-azizah-salsha-di-pa-tigaraksa-tangerang
- Kenalan Sama Pratama Arhan, Yuk! | Telkomsel, diakses Agustus 28, 2025, https://www.telkomsel.com/jelajah/jelajah-lifestyle/kenalan-sama-pratama-arhan-yuk
- Latar Belakang Keluarga Pratama Arhan, Dihina hingga Disebut Berbeda dengan Azizah Salsha – Suara.com, diakses Agustus 28, 2025, https://www.suara.com/lifestyle/2023/10/08/172345/latar-belakang-keluarga-pratama-arhan-dihina-hingga-disebut-berbeda-dengan-azizah-salsha
- Latar Belakang Pendidikan Pratama Arhan – Ambisius Wiki, diakses Agustus 28, 2025, https://wiki.ambisius.com/atlet/pratama-arhan/latar-belakang-pendidikan
- Profil Pratama Arhan: Sang ‘Dewa Jahat’ yang Ceraikan Azizah Salsha – Detikcom, diakses Agustus 28, 2025, https://www.detik.com/jabar/berita/d-8078587/profil-pratama-arhan-sang-dewa-jahat-yang-ceraikan-azizah-salsha
- Azizah Salsha Klarifikasi soal Rumah Tangganya dengan Pratama Arhan – CNN Indonesia, diakses Agustus 28, 2025, https://www.cnnindonesia.com/hiburan/20240822072410-234-1135980/azizah-salsha-klarifikasi-soal-rumah-tangganya-dengan-pratama-arhan
- Heboh Kabar Istri Pemain Timnas PSSI Pratama Arhan, Azizah Salsha Diduga Selingkuh dengan Salim Nauderer – Liputan6.com, diakses Agustus 28, 2025, https://www.liputan6.com/showbiz/read/5679244/heboh-kabar-istri-pemain-timnas-pssi-pratama-arhan-azizah-salsha-diduga-selingkuh-dengan-salim-nauderer
- Kronologi Azizah Salsha Dituding Selingkuh dengan Mantannya, Resbobb Sampai Berani Bilang Kalau Istri Pratama Arhan Itu.. – TvOneNews, diakses Agustus 28, 2025, https://www.tvonenews.com/berita/nasional/361050-kronologi-azizah-salsha-dituding-selingkuh-dengan-mantannya-resbobb-sampai-berani-bilang-kalau-istri-pratama-arhan-itu
- Isi Gugatan Pratama Arhan Bocor, Ungkap Azizah Salsha Gak Nurut hingga Tak Hubungan Badan Sejak 2024 – Viva, diakses Agustus 28, 2025, https://www.viva.co.id/showbiz/1845217-isi-gugatan-pratama-arhan-bocor-ungkap-azizah-salsha-gak-nurut-hingga-tak-hubungan-badan-sejak-2024
- 3 Kontroversi Azizah Salsha: Dari Perselingkuhan hingga Video Syur, Rumah Tangga Anak Andre Rosiade dengan Pratama Arhan di Ujung Tanduk – Solo Balapan, diakses Agustus 28, 2025, https://solobalapan.jawapos.com/berita-utama/2306482000/3-kontroversi-azizah-salsha-dari-perselingkuhan-hingga-video-syur-rumah-tangga-anak-andre-rosiade-dengan-pratama-arhan-di-ujung-tanduk
- INTERAKSI DAN HUBUNGAN PARASOSIAL DALAM AKUN MEDIA SOSIAL SELEBRITI INDONESIA Nuria Astagini, Veronica Kaihatu, Yugo Dwi Prasety, diakses Agustus 28, 2025, https://journal.unj.ac.id/unj/index.php/communicology/article/download/2671/2121/4221
- “Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital – tatkala.co, diakses Agustus 28, 2025, https://tatkala.co/2025/07/16/parasocial-relationship-antara-hiburan-pelarian-emosional-dan-strategi-komunikasi-bisnis-di-era-digital/
- Hubungan Parasosial di Media Sosial (Studi pada Fandom Army di Twitter) – Universitas Pancasila Journal, diakses Agustus 28, 2025, https://journal.univpancasila.ac.id/index.php/coverage/article/download/582/327/1279
- Hubungan Parasosial Pada Era Media Sosial – Himpunan …, diakses Agustus 28, 2025, https://student-activity.binus.ac.id/himpsiko/2022/06/hubungan-parasosial-pada-era-media-sosial/
- Risiko Polarisasi Algoritma Media Sosial : Kajian terhadap …, diakses Agustus 28, 2025, https://jurnal.lemhannas.go.id/index.php/jkl/article/download/114/35/
- Analisis Algoritma Pemrograman Dalam Media Sosial Terhadap Pola Konsumsi Konten – Asosiasi Riset Ilmu Pendidikan Indonesia, diakses Agustus 28, 2025, https://journal.aripi.or.id/index.php/Arjuna/article/download/526/542/2535
- Dampak Algoritma Media Sosial terhadap Ruang Publik – BINUS @Bekasi, diakses Agustus 28, 2025, https://binus.ac.id/bekasi/2025/05/dampak-algoritma-media-sosial-terhadap-ruang-publik/
- Algoritma Media Sosial: Seberapa Besar Pengaruhi Pemilu Indonesia?, diakses Agustus 28, 2025, https://www.voaindonesia.com/a/algoritma-media-sosial-seberapa-besar-pengaruhi-pemilu-indonesia-/7485570.html
- Peran Algoritma Media Sosial Dalam Penyebaran Propaganda Politik (1) | PDF – Scribd, diakses Agustus 28, 2025, https://id.scribd.com/document/854740533/Peran-Algoritma-Media-Sosial-Dalam-Penyebaran-Propaganda-Politik-1
- ABSTRAK Muncul kasus KDRT dengan pasangan artis Lesti Kejora dan Rizky Billar menjadi tren perbincangan hangat masyarakat di Ins – WARUNAYAMA, diakses Agustus 28, 2025, https://ejournal.warunayama.org/index.php/triwikrama/article/download/1934/1795/5998
- ANALISIS FRAMMING PADA KASUS PEMBERITAAN KDRT PASANGAN ARTIS LESTI-BILLAR DI RADAR BANDUNG.ID (Analisis Pemberitaan Di Radar Bandung.id Pada Tanggal 29 September 2022 – Repository | FISIP UNPAS, diakses Agustus 28, 2025, https://repo.fisip.unpas.ac.id/index.php?p=show_detail&id=3622&keywords=
- Analisis Media Representasi Citra Diri (Studi Kasus Lesti dan Billar dalam Membangun Citra Diri Sebagai Keluarga Harmonis) | Sari | Jurnal Pemikiran Sosiologi, diakses Agustus 28, 2025, https://journal.ugm.ac.id/jps/article/view/80526
- Fenomena Cancel Culture Sebagai Kontrol Sosial pada Kasus …, diakses Agustus 28, 2025, https://jurnalrisetkomunikasi.org/index.php/jrk/article/view/713
- Fenomena Cancel Culture Sebagai Kontrol Sosial pada Kasus KDRT Rizky Billar Terhadap Lesti Kejora – ResearchGate, diakses Agustus 28, 2025, https://www.researchgate.net/publication/373946511_Fenomena_Cancel_Culture_Sebagai_Kontrol_Sosial_pada_Kasus_KDRT_Rizky_Billar_Terhadap_Lesti_Kejora
- Fuji Diisukan Low Attitude! Sikap Keluarga Thariq Halilintar Mengejutkan? – YouTube, diakses Agustus 28, 2025, https://www.youtube.com/watch?v=gCu-oRQGflM
- Reaksi Menohok Fuji Usai Dituding Pakai Buzzer: Lebih Baik Sedekah, diakses Agustus 28, 2025, https://www.viva.co.id/showbiz/gosip/1635954-reaksi-menohok-fuji-usai-dituding-pakai-buzzer-lebih-baik-sedekah
- Fuji Masih Pajang Video Bareng Thariq Halilintar, Publik: Hapus Please! – Suara.com, diakses Agustus 28, 2025, https://www.suara.com/lifestyle/2024/08/15/163000/fuji-masih-pajang-video-bareng-thariq-halilintar-publik-hapus-please
- Pertunangan Aaliyah Massaid dan Thariq Halilintar: Ini Pesan Damai Fuji – korsum.id, diakses Agustus 28, 2025, https://www.korsum.id/pertunangan-aaliyah-massaid-dan-thariq-halilintar-ini-pesan-damai-fuji/
- Pemberian Psikoedukasi Dampak Cyberbullying Terhadap Kesehatan Mental Pada Siswa | ABDIKAN: Jurnal Pengabdian Masyarakat Bidang Sains dan Teknologi, diakses Agustus 28, 2025, https://journal.literasisains.id/index.php/abdikan/article/view/281
- Eksplorasi Dampak Cyberbullying di Media Sosial Terhadap Kesehatan Mental Dan Prestasi Akademik Mahasiswa | Pujianti – Jurnal UPI, diakses Agustus 28, 2025, https://ejournal.upi.edu/index.php/JER/article/view/88501
- Bentuk Cyberbullying Terhadap Publik Figur Di Media Sosial Instagram (Studi Kasus Pada “Rahmawati Kekeyi”) Riky Novarizal &a – Journal UIR – Universitas Islam Riau, diakses Agustus 28, 2025, https://journal.uir.ac.id/index.php/sisilainrealita/article/download/17318/6502/61019
- Kenali Dampak Buruk Cyber Bullying pada Kesehatan Mental – Artikel Detail, diakses Agustus 28, 2025, https://telemed.ihc.id/artikel-detail-167-Kenali-Dampak-Buruk-Cyber-Bullying-pada-Kesehatan-Mental.html
- Pengaruh Cyberbullying di Media Sosial Terhadap Kesehatan Mental | De Cive : Jurnal Penelitian Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan – Actual Insight Journals, diakses Agustus 28, 2025, https://journal.actual-insight.com/index.php/decive/article/view/298
- Peningkatan Pengetahuan Mengenai Dampak Cyberbullying Terhadap Kesehatan Mental Pada Remaja | Jurnal Pengabdian Kedokteran Indonesia, diakses Agustus 28, 2025, https://jurnal.fk.umi.ac.id/index.php/jpki/article/view/247


0 Komentar