Siap-siap, AI akan jadi mata pelajaran baru di sekolah! Inilah semua yang perlu orang tua ketahui tentang kurikulum AI, dari manfaat hingga persiapannya.
Pendahuluan: Babak Baru Pendidikan Anak Indonesia di Era Digital
Dalam beberapa waktu terakhir, ruang diskusi publik diramaikan oleh pengumuman penting dari pemerintah mengenai masa depan pendidikan di Indonesia. Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka secara resmi mengonfirmasi bahwa kurikulum Kecerdasan Buatan atau Artificial Intelligence (AI) akan segera diimplementasikan di sekolah-sekolah di seluruh negeri.1 Pengumuman ini, yang menandai sebuah lompatan besar dalam sistem pendidikan nasional, sontak memicu beragam reaksi di kalangan orang tua. Di satu sisi, ada rasa antusias dan harapan bahwa anak-anak Indonesia akan lebih siap menghadapi tantangan zaman. Di sisi lain, muncul pula kekhawatiran dan pertanyaan: Apa sebenarnya AI itu? Apakah anak saya mampu mengikutinya? Dan yang terpenting, bagaimana saya sebagai orang tua dapat mendampingi mereka?
Perasaan campur aduk ini sangat wajar. AI, dengan segala kompleksitasnya, sering kali terasa seperti konsep yang jauh dan teknis. Namun, integrasinya ke dalam kurikulum sekolah bukanlah sekadar tren sesaat, melainkan sebuah langkah strategis yang akan membentuk masa depan anak-anak kita. Ini adalah momen pivotal dalam sejarah pendidikan Indonesia, sebuah titik di mana kita secara sadar mempersiapkan generasi penerus untuk tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga pencipta, inovator, dan pengelola teknologi yang bijaksana.
Artikel ini hadir untuk menjawab kegelisahan dan rasa penasaran tersebut. Tujuannya adalah menjadi panduan yang komprehensif, jelas, dan praktis bagi para orang tua. Kita akan membedah kebijakan ini dari akarnya, memahami apa yang sesungguhnya akan dipelajari anak Anda di setiap jenjang pendidikan, dan yang paling krusial, menyajikan langkah-langkah konkret yang bisa Anda ambil untuk menjadi mitra cerdas bagi anak dalam perjalanan pendidikan yang baru dan menarik ini. Mari kita singkirkan kebisingan dan bersama-sama memahami apa arti kurikulum AI bagi masa depan anak-anak Indonesia.
Isi: Membedah Kurikulum AI dari Kebijakan hingga Ruang Kelas
Era Baru Telah Tiba: Mengapa AI Masuk Kurikulum Sekolah Sekarang?
Integrasi AI ke dalam kurikulum pendidikan dasar dan menengah bukanlah sebuah kebijakan yang muncul tiba-tiba. Keputusan ini merupakan puncak dari perencanaan strategis jangka panjang yang didasari oleh kebutuhan mendesak untuk mempersiapkan sumber daya manusia Indonesia agar mampu bersaing di panggung global yang semakin didominasi oleh teknologi.
Konfirmasi Resmi dan Skala Implementasi
Pemerintah telah memberikan sinyal yang sangat jelas mengenai keseriusan program ini. Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, dalam berbagai kesempatan, telah menegaskan bahwa kurikulum AI akan mulai diterapkan pada tahun ajaran baru.1 Implementasinya tidak tanggung-tanggung, mencakup seluruh jenjang pendidikan dasar dan menengah, mulai dari Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA), hingga Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).3
Langkah ini telah dilegitimasi melalui kerangka regulasi yang kuat. Salah satunya adalah Peraturan Menteri Nomor 13 Tahun 2025, yang secara resmi menetapkan Koding dan Kecerdasan Artifisial sebagai mata pelajaran pilihan.1 Landasan konseptual dan pedagogisnya pun telah disusun secara matang dalam dokumen “Naskah Akademik Pembelajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial” yang diterbitkan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.5 Konsistensi pesan dari berbagai lembaga pemerintah menunjukkan bahwa ini adalah sebuah program prioritas nasional yang akan dijalankan secara terstruktur dan masif.
Visi Jangka Panjang di Balik Kebijakan
Untuk memahami urgensi di balik kebijakan ini, kita perlu melihat gambaran yang lebih besar. Pengenalan kurikulum AI adalah salah satu pilar fundamental untuk mewujudkan visi “Indonesia Emas 2045”, sebuah cita-cita untuk menjadikan Indonesia sebagai salah satu kekuatan ekonomi terbesar di dunia.6 Pemerintah menyadari bahwa penguasaan teknologi, khususnya AI, adalah kunci untuk mencapai tujuan tersebut. Seperti yang ditekankan oleh Wapres Gibran, “manusia yang tidak memanfaatkan AI akan kalah bersaing dengan mereka yang menggunakannya”.2 Pernyataan ini bukan sekadar slogan, melainkan cerminan dari realitas ekonomi global saat ini.
Kebijakan pendidikan ini merupakan bagian integral dari “Strategi Nasional Kecerdasan Artifisial Indonesia (Stranas KA)” yang telah dirintis sejak tahun 2020.6 Stranas KA bertujuan untuk mengakselerasi adopsi AI di berbagai sektor krusial seperti layanan kesehatan, birokrasi pemerintahan, ketahanan pangan, dan tentu saja, pendidikan. Bahkan, sebelum masuk ke sekolah, prinsip-prinsip efisiensi berbasis AI sudah mulai diterapkan di lingkungan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk meningkatkan kinerja dan pengambilan keputusan.8
Dengan demikian, pengenalan kurikulum AI di sekolah bukanlah titik awal perjalanan AI Indonesia. Sebaliknya, ini adalah langkah strategis untuk membangun jalur pipa talenta (talent pipeline) domestik. Saat ini, investasi besar-besaran dari raksasa teknologi global seperti Microsoft, Nvidia, dan Alibaba terus mengalir ke Indonesia untuk membangun infrastruktur data center dan AI.6 Tanpa adanya pasokan sumber daya manusia yang kompeten, Indonesia berisiko hanya menjadi pasar dan konsumen teknologi asing. Kurikulum AI di sekolah dirancang untuk memastikan bahwa di masa depan, anak-anak Indonesialah yang akan membangun, mengelola, dan menginovasi teknologi ini, menjadikan Indonesia sebagai pemain utama, bukan hanya penonton, dalam revolusi AI global.
Bukan Sekadar “Coding”: Apa Sebenarnya yang Akan Dipelajari Anak Anda?
Salah satu kekhawatiran terbesar orang tua adalah bayangan bahwa anak-anak mereka akan dihadapkan pada barisan kode-kode rumit yang sulit dipahami. Namun, kenyataannya jauh lebih ramah dan fundamental. Fokus utama kurikulum ini, terutama di jenjang awal, bukanlah untuk mencetak programmer profesional, melainkan untuk menanamkan cara berpikir baru yang disebut “Berpikir Komputasional” (Computational Thinking). Ini adalah kemampuan untuk memecahkan masalah kompleks dengan membaginya menjadi bagian-bagian yang lebih kecil dan menyelesaikannya secara logis dan sistematis—sebuah keahlian yang sangat berharga di bidang apa pun.
Pondasi di Tingkat SD: Belajar Logika Melalui Permainan Seru
Untuk siswa Sekolah Dasar, khususnya di kelas 5 dan 6, pendekatan pembelajaran akan sangat menekankan aspek kesenangan dan relevansi dengan dunia mereka.5 Sebagian besar kegiatan akan bersifat
unplugged, artinya tidak memerlukan komputer sama sekali. Tujuannya adalah membangun fondasi logika yang kuat. Contohnya, siswa mungkin akan diajak bermain dengan kartu algoritma untuk menyusun urutan langkah-langkah kegiatan sehari-hari, seperti “langkah-langkah menyikat gigi” atau “cara membuat segelas jus”.10 Aktivitas sederhana ini secara efektif mengajarkan konsep dasar algoritma: urutan instruksi yang jelas untuk mencapai suatu tujuan.
Ketika perangkat digital digunakan, platform yang dipilih adalah yang berbasis visual dan intuitif, seperti ScratchJr atau Lightbot.10 Di sini, anak-anak tidak mengetik kode, melainkan menyusun balok-balok perintah berwarna untuk membuat karakter bergerak, menari, atau menyelesaikan sebuah teka-teki. Melalui proses “bermain” ini, mereka secara tidak sadar mempelajari konsep-konsep penting seperti sekuens (urutan),
loop (perulangan), dan logika kondisional.
Eksplorasi di Tingkat SMP: Menciptakan Proyek Digital Pertama
Memasuki jenjang Sekolah Menengah Pertama, siswa akan beralih dari pemahaman konsep ke tahap penciptaan. Mereka akan didorong untuk menerapkan logika berpikir komputasional yang telah dipelajari untuk membuat proyek-proyek digital sederhana. Platform seperti Scratch (versi lebih lanjut dari ScratchJr) atau MIT App Inventor akan menjadi alat utama mereka.10
Pembelajaran akan sangat berorientasi pada proyek. Misalnya, dalam pelajaran IPA, siswa mungkin ditugaskan untuk membuat sebuah game edukatif sederhana tentang siklus air atau rantai makanan. Dalam prosesnya, mereka tidak hanya memperkuat pemahaman materi pelajaran, tetapi juga belajar menerapkan logika IF-THEN (jika-maka), menggunakan variabel untuk menyimpan skor, dan merancang alur permainan yang menarik.10 Di jenjang ini pula, konsep-konsep dasar AI seperti klasifikasi data akan mulai diperkenalkan melalui contoh-contoh yang mudah dipahami, misalnya mengelompokkan hewan berdasarkan ciri-cirinya.
Pendalaman di Tingkat SMA: Memecahkan Masalah Dunia Nyata dengan AI
Di tingkat Sekolah Menengah Atas, kurikulum akan membawa siswa ke tingkat yang lebih kompleks dan aplikatif. Mereka akan mulai diperkenalkan dengan bahasa pemrograman berbasis teks seperti Python, yang merupakan salah satu bahasa paling populer di dunia AI.10 Namun, fokusnya tetap pada aplikasi praktis untuk memecahkan masalah.
Salah satu contoh proyek yang mungkin dikerjakan adalah membuat chatbot sederhana yang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan dasar seputar mata pelajaran sejarah atau geografi.10 Mereka juga akan bereksperimen dengan model-model AI yang sudah ada. Menggunakan alat bantu seperti Teachable Machine dari Google, siswa dapat melatih model AI untuk mengenali dan mengklasifikasikan gambar—misalnya, membedakan antara sampah organik dan anorganik untuk proyek lingkungan, atau mengidentifikasi berbagai jenis daun untuk pelajaran biologi. Yang tidak kalah penting, kurikulum di tingkat SMA secara eksplisit akan memasukkan diskusi mendalam mengenai aspek etika AI, seperti potensi bias dalam algoritma, pentingnya privasi data, dan dampak sosial dari teknologi ini.10
Fokus kurikulum yang berjenjang ini, terutama penekanannya pada berpikir komputasional di tingkat dasar, membawa kabar baik bagi orang tua. Ini berarti Anda tidak perlu menjadi seorang ahli teknologi untuk dapat mendukung anak Anda. Keterlibatan Anda dalam mendorong logika, kreativitas, dan kemampuan memecahkan masalah dalam kegiatan sehari-hari sudah merupakan dukungan yang sangat berharga.
| Jenjang Pendidikan | Fokus Utama Pembelajaran | Contoh Aktivitas di Sekolah & Rumah |
| SD (Kelas 5-6) | Pengenalan Konsep & Logika Dasar (Berpikir Komputasional) | – Permainan kartu algoritma (menyusun urutan) – Aktivitas unplugged (tanpa komputer) – Pengenalan coding visual sederhana (ScratchJr, Lightbot) |
| SMP (Kelas 7-9) | Eksplorasi & Pembuatan Proyek Sederhana | – Membuat game edukasi dengan Scratch – Merancang aplikasi simpel dengan MIT App Inventor – Memahami konsep klasifikasi data dasar |
| SMA (Kelas 10-12) | Aplikasi & Analisis Kritis | – Membuat chatbot sederhana dengan Python – Proyek analisis sentimen media sosial – Diskusi mendalam tentang etika dan bias AI |
Panduan Wajib Orang Tua: Menjadi Mitra Cerdas Anak di Dunia AI
Penerapan kurikulum baru ini menghadirkan sebuah paradoks menarik. Di satu sisi, pemerintah mendorong implementasi yang cepat untuk mengejar ketertinggalan dan memenuhi kebutuhan ekonomi.1 Di sisi lain, para pakar pendidikan, seperti yang diungkapkan oleh peneliti dari UGM, menyarankan pendekatan yang lebih hati-hati dan tidak terburu-buru, dengan penekanan kuat pada fondasi etika dan literasi digital sebelum masuk ke aspek teknis.12 Mereka memperingatkan bahwa mengajarkan aplikasi AI secara instan tanpa dasar yang kuat bisa menjadi “bencana”.12
Kesenjangan antara urgensi pemerintah dan kehati-hatian akademisi ini menciptakan sebuah ruang krusial di mana peran orang tua menjadi sangat vital. Sekolah, di bawah tekanan untuk segera mengadopsi kurikulum, mungkin akan lebih fokus pada aspek teknis yang mudah diukur (misalnya, “apakah siswa berhasil membuat aplikasi?”). Oleh karena itu, tanggung jawab untuk menanamkan pilar-pilar non-teknis yang justru paling fundamental—etika, literasi kritis, dan kreativitas—sebagian besar akan berada di pundak orang tua. Anda bukan lagi sekadar pendukung, melainkan mitra esensial dalam memastikan anak mendapatkan pendidikan AI yang seimbang dan manusiawi.
Pilar Pertama: Menanamkan Etika Digital Sejak Dini
Kurikulum AI yang ideal harus berpusat pada manusia (human-centric) dan berlandaskan etika yang kuat.13 Mengajarkan kecanggihan AI tanpa membekali anak dengan kompas moral adalah hal yang berbahaya.12 Peran orang tua di sini adalah membumikan konsep etika ini dalam percakapan sehari-hari.
- Diskusikan Keadilan dan Bias: Saat anak menonton YouTube, ajak mereka berdiskusi. Tanyakan, “Menurutmu, kenapa YouTube merekomendasikan video ini? Apakah video yang direkomendasikan untukmu sama dengan untuk temanmu? Menurutmu itu adil atau tidak?” Percakapan ini adalah cara sederhana untuk memperkenalkan konsep bias algoritma, di mana sistem AI bisa saja memberikan perlakuan yang tidak setara.13
- Bicarakan Privasi Data: Jelaskan dengan bahasa yang mudah dimengerti bahwa ketika mereka menggunakan aplikasi atau game gratis, data aktivitas mereka (apa yang mereka klik, berapa lama mereka bermain) adalah “harga” yang mereka bayar. Ini membangun kesadaran awal tentang pentingnya privasi data pribadi di dunia digital.14
- Tetapkan Batasan Penggunaan Alat AI: Buat aturan yang jelas di rumah. Misalnya, alat seperti ChatGPT boleh digunakan untuk mencari ide, merangkum materi yang sudah dibaca, atau memeriksa tata bahasa, tetapi tidak untuk mengerjakan tugas sekolah dari nol. Ini menanamkan nilai integritas akademik dan memastikan AI menjadi alat bantu, bukan jalan pintas kemalasan.15 Fokus utamanya harus pada pemahaman etika terlebih dahulu, bukan sekadar mahir membuat
prompt.16
Pilar Kedua: Membangun Literasi Digital yang Kritis
Pakar dari UGM menekankan bahwa inti dari pendidikan AI adalah memperkuat literasi digital dan kemampuan berpikir kritis, agar anak tidak menjadi konsumen teknologi yang pasif.12 Di era di mana AI dapat menciptakan informasi (dan disinformasi) dalam sekejap, kemampuan untuk mengevaluasi secara kritis menjadi tameng utama.7
- Tanamkan Skeptisisme yang Sehat: Ajarkan anak sebuah mantra sederhana: “AI bisa salah.” Biasakan mereka untuk tidak menerima mentah-mentah informasi yang dihasilkan oleh AI. Anggaplah jawaban dari AI sebagai titik awal sebuah penelusuran, bukan sebagai jawaban akhir yang absolut.
- Jadikan Verifikasi sebagai Kebiasaan: Ketika anak menggunakan AI untuk membantu mengerjakan tugas, lanjutkan dengan pertanyaan, “Bagus! Sekarang, ayo kita cari dua sumber lain—misalnya dari buku atau situs web tepercaya—untuk memastikan informasi ini benar.” Proses ini membangun keterampilan pengecekan fakta (fact-checking) yang sangat krusial.
- Analisis Bersama Konten Buatan AI: Ajak anak untuk melihat sebuah gambar yang dihasilkan oleh AI. Tanyakan pertanyaan-pertanyaan kritis: “Coba lihat tangannya, apakah terlihat aneh? Teks di latar belakangnya bisa dibaca tidak? Bagian mana yang terlihat nyata dan bagian mana yang terlihat palsu?” Ini melatih mata mereka untuk jeli dan tidak mudah tertipu oleh konten sintetis.16
Pilar Ketiga: Menjaga Nalar Kritis dan Kreativitas Manusia
Tujuan akhir pendidikan AI adalah untuk memperkuat kecerdasan manusia, bukan menggantikannya.3 Para ahli khawatir jika AI hanya menjadi alat yang “meninabobokkan” atau membuat nalar menjadi tumpul, maka implementasinya akan gagal total.12 Orang tua dapat secara aktif memupuk keahlian-keahlian yang tidak akan pernah bisa ditiru oleh AI.
- Prioritaskan Aktivitas Pemecahan Masalah Unplugged: Libatkan anak dalam berbagai kegiatan yang mengasah logika dan kreativitas tanpa harus menatap layar. Bermain catur, ular tangga, teka-teki silang, menyusun LEGO, atau bahkan merencanakan rute perjalanan liburan keluarga adalah bentuk latihan berpikir komputasional dalam dunia nyata.
- Posisikan AI sebagai “Mitra Kreatif”: Dorong anak untuk menggunakan AI sebagai pemantik ide. Misalnya, “Coba minta AI untuk memberimu sepuluh ide cerita paling aneh. Nanti, kamu pilih satu yang paling menarik dan kembangkan ceritanya versimu sendiri.” Cara ini menempatkan AI sebagai stimulan imajinasi, bukan pengganti kreativitas.
- Fokus pada Kecerdasan Emosional (EQ): Selalu ingatkan anak bahwa sehebat apa pun AI dalam mengolah data, ia tidak memiliki perasaan, empati, ataupun nurani. Tekankan betapa berharganya kemampuan untuk bekerja sama, memahami perasaan orang lain, dan membangun hubungan yang tulus. Di dunia yang semakin otomatis, keahlian-keahlian manusiawi inilah yang akan menjadi pembeda dan paling dicari.
Mengantisipasi Tantangan: Kesenjangan Akses dan Kesiapan Sistem
Penting bagi orang tua untuk bersikap realistis. Implementasi kurikulum berskala nasional ini pasti akan menghadapi tantangan. Salah satu yang terbesar adalah kesenjangan digital (digital divide), di mana akses terhadap perangkat komputer dan koneksi internet yang stabil masih belum merata di seluruh penjuru Indonesia.13 Selain itu, kesiapan guru juga menjadi faktor penentu. Para pendidik memerlukan pelatihan yang intensif dan berkelanjutan agar dapat menyampaikan materi baru ini dengan efektif dan percaya diri.11
Sebagai orang tua, Anda dapat berperan aktif dengan menyuarakan kebutuhan akan fasilitas dan pelatihan guru yang memadai di sekolah anak Anda. Namun, bagi keluarga dengan akses teknologi yang terbatas, jangan berkecil hati. Ingatlah bahwa fondasi terpenting dari kurikulum ini adalah logika dan cara berpikir, yang sebagian besar dapat diasah melalui aktivitas unplugged yang telah dibahas sebelumnya. Dukungan yang bermakna tidak selalu harus mahal.
Penutup: Menyiapkan Generasi Emas yang Cerdas, Kritis, dan Beretika
Integrasi kurikulum AI ke dalam sistem pendidikan Indonesia adalah sebuah langkah maju yang tak terhindarkan dan penuh potensi. Ini bukanlah sekadar tren teknologi, melainkan sebuah keharusan strategis untuk memastikan generasi mendatang mampu menjawab tantangan dan meraih peluang di masa depan. Bagi orang tua, kunci untuk menavigasi perubahan ini adalah pemahaman yang jernih dan peran aktif sebagai pendamping.
Beberapa poin penting yang perlu kita bawa pulang adalah: pertama, kebijakan ini adalah bagian dari visi besar nasional untuk menyiapkan talenta digital unggul. Kedua, fokus pembelajarannya, terutama di tingkat awal, adalah pada “berpikir komputasional”—kemampuan memecahkan masalah secara logis—bukan sekadar coding. Ketiga, keberhasilan sejati dari pendidikan AI ini tidak diukur dari kemahiran teknis semata, melainkan dari keseimbangan tiga pilar fundamental: Etika Digital, Literasi Kritis, dan Nalar Kemanusiaan.
Pada akhirnya, orang tua bukanlah penonton dalam drama transformasi pendidikan ini; Anda adalah salah satu aktor utamanya. Dengan menanamkan nilai-nilai etika, membiasakan sikap kritis, dan terus memupuk kreativitas, Anda sedang memberikan bekal paling berharga yang tidak dapat diajarkan oleh mesin secanggih apa pun. Mari sambut era baru ini bukan dengan kecemasan, melainkan dengan optimisme yang terinformasi dan keyakinan bahwa kita dapat bersama-sama menyiapkan Generasi Emas yang tidak hanya cerdas secara artifisial, tetapi juga bijaksana, kritis, dan beretika dalam mengarahkan kekuatan teknologi untuk kebaikan umat manusia.
Karya yang dikutip
- Wapres Gibran: Kurikulum AI Akan Dimulai pada Tahun Ajaran Baru …, diakses Agustus 28, 2025, https://news.okezone.com/read/2025/05/03/337/3135935/wapres-gibran-kurikulum-ai-akan-dimulai-pada-tahun-ajaran-baru-nbsp
- Wapres: Kurikulum AI akan masuk di tahun ajaran baru sekolah – Antara News jatim, diakses Agustus 28, 2025, https://jatim.antaranews.com/berita/914065/wapres-kurikulum-ai-akan-masuk-di-tahun-ajaran-baru-sekolah/?fullsite=true&m=false
- Gibran Sebut AI Masuk Kurikulum SD-SMA di Tahun Ajaran baru – CNN Indonesia, diakses Agustus 28, 2025, https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20250503145626-185-1225367/gibran-sebut-ai-masuk-kurikulum-sd-sma-di-tahun-ajaran-baru
- Kemendikdasmen Tetapkan Koding dan AI Jadi Mata Pelajaran Pilihan Kurikulum 2025/2026 – Universitas Muhammadiyah Jakarta, diakses Agustus 28, 2025, https://umj.ac.id/just_info/kemendikdasmen-tetapkan-koding-dan-ai-jadi-mata-pelajaran-pilihan-kurikulum-2025-2026/
- Naskah Akademik Pembelajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial …, diakses Agustus 28, 2025, https://kurikulum.kemdikbud.go.id/file/1741766787_manage_file.pdf
- Indonesia AI Revolution: $10.88B Market Attracts Global Tech Giants – Introl, diakses Agustus 28, 2025, https://introl.com/blog/indonesia-ai-revolution-infrastructure-investment-2025
- Kecerdasan Buatan, Membangun Karakter Bangsa di Era Digital – Komdigi, diakses Agustus 28, 2025, https://komdigi.go.id/berita/artikel/detail/kecerdasan-buatan-membangun-karakter-bangsa-di-era-digital
- AI Perspective as an Instrument for Optimizing BUMN Board of Directors’ Decision Making to Increase Revenue and Build the State Economy – ResearchGate, diakses Agustus 28, 2025, https://www.researchgate.net/publication/393114132_AI_Perspective_as_an_Instrument_for_Optimizing_BUMN_Board_of_Directors’_Decision_Making_to_Increase_Revenue_and_Build_the_State_Economy
- La revolución de la IA en Indonesia: Cómo la mayor economía del sudeste asiático se convirtió en una potencia mundial de la IA – Introl, diakses Agustus 28, 2025, https://es.introl.com/blog/indonesia-ai-revolution-infrastructure-investment-2025
- Implementasi Coding dan Kecerdasan Artificial dalam …, diakses Agustus 28, 2025, https://lpmpdki.kemdikbud.go.id/implementasi-coding-dan-kecerdasan-artificial-dalam-pembelajaran-di-jenjang-sd-smp-dan-sma/
- AI Akan Masuk Kurikulum SD-SMA, Apa yang Harus Disiapkan? – Eazy, diakses Agustus 28, 2025, https://eazy-campus.com/ai-akan-masuk-kurikulum-sd-sma-apa-yang-harus-disiapkan/
- Siswa SD Bakal Diajarkan AI dan Coding, Pakar UGM Ingatkan Soal …, diakses Agustus 28, 2025, https://ugm.ac.id/id/berita/siswa-sd-bakal-diajarkan-ai-dan-coding-pakar-ugm-ingatkan-soal-penguatan-literasi-digital/
- Disrupsi Artificial Intelligence pada Pendidikan, diakses Agustus 28, 2025, http://setjen.kemdikbud.go.id/app/disrupsi-artificial-intelligence-pada-pendidikan
- Etika dan Tanggungjawab Penggunaan AI Dalam Bilik Darjah – Che Khairuleffendi, diakses Agustus 28, 2025, https://chekhairuleffendi.com/etika-dan-tanggungjawab-penggunaan-ai-dalam-bilik-darjah/
- Artificial Intelligence (AI): Etika dan Implementasinya dalam Pendidikan – REFO Indonesia, diakses Agustus 28, 2025, https://www.refoindonesia.com/artificial-intelligence-ai-etika-dan-implementasinya-dalam-pendidikan/
- Ajarkan AI di SD, Guru: Soal Etika Dulu, Bukan Prompt – detikcom, diakses Agustus 28, 2025, https://www.detik.com/edu/sekolah/d-8049530/ajarkan-ai-di-sd-guru-soal-etika-dulu-bukan-prompt
- Kebijakan Etika dalam Pengembangan dan Penggunaan Kecerdasan Buatan di Indonesia, diakses Agustus 28, 2025, https://ftmm.unair.ac.id/kebijakan-etika-dalam-pengembangan-dan-penggunaan-kecerdasan-buatan-di-indonesia/
- Dosen PTI UMS Perkuat Pengembangan Kurikulum AI di Korea Selatan, diakses Agustus 28, 2025, https://www.ums.ac.id/berita/fakultas-keguruan-dan-ilmu-pendidikan/dosen-pti-ums-perkuat-pengembangan-kurikulum-ai-di-korea-selatan
- Mendikdasmen ingatkan koding-AI jadi kemampuan penting di 2030 – Antara News jatim, diakses Agustus 28, 2025, https://jatim.antaranews.com/berita/963337/mendikdasmen-ingatkan-koding-ai-jadi-kemampuan-penting-di-2030/?fullsite=true&m=false
- Pendidikan Berbasis AI Pertama di Indonesia, Pemerintah Provinsi Riau Luncurkan Program Sekolah Unggul, diakses Agustus 28, 2025, https://prokopim.bengkaliskab.go.id/web/detailberita/15132/pendidikan-berbasis-ai-pertama-di-indonesia,-pemerintah-provinsi-riau-luncurkan-program-sekolah-unggul
- AI dalam Pendidikan: Revolusi Pembelajaran Menuju Masa Depan yang Lebih Cerdas, diakses Agustus 28, 2025, https://itb.ac.id/berita/ai-dalam-pendidikan-revolusi-pembelajaran-menuju-masa-depan-yang-lebih-cerdas/61183
- Peranan Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence) dalam Pendidikan – PPG, diakses Agustus 28, 2025, https://ppg.dikdasmen.go.id/news/peranan-kecerdasan-buatan-artificial-intelligence-dalam-pendidikan
- Program Bangkit 2024 akan Dilengkapi dengan Kurikulum AI – Marketeers, diakses Agustus 28, 2025, https://www.marketeers.com/program-bangkit-2024-akan-dilengkapi-dengan-kurikulum-ai/
- konsep dan implementasi kecerdasan buatan (artificial intelligence) dalam manajemen kurikulum sd – ABUYA: Jurnal Pendidikan Dasar, diakses Agustus 28, 2025, https://jurnal.inkadha.ac.id/index.php/abuya/article/download/278/187


0 Komentar