Dinding media sosial, khususnya TikTok dan YouTube, kembali riuh oleh suara klakson bus yang khas. Rekaman video yang memperlihatkan sekelompok anak-anak dan remaja di pinggir jalan, berteriak riang saat sebuah bus membunyikan klakson bernada unik, menjadi pemandangan yang lazim ditemui.1 Fenomena ini, yang dikenal luas sebagai anomali bus telolet, bukanlah barang baru. Namun, kembalinya tren ini dengan kekuatan penuh menunjukkan bahwa ia lebih dari sekadar meme sesaat; ini adalah sebuah gelombang budaya yang terus berulang, beradaptasi, dan memiliki akar yang jauh lebih dalam dari yang terlihat.
Kemunculan kembali fenomena ini, tujuh tahun setelah puncak popularitas globalnya pada 2016, menandakan adanya resonansi kultural yang kuat.1 Ia bertahan melintasi pergantian platform media sosial, dari Twitter pada masanya hingga TikTok saat ini, membuktikan bahwa daya tariknya bersifat fundamental. Artikel ini akan mengupas tuntas fenomena anomali bus telolet secara komprehensif. Mulai dari anatomi interaksinya yang unik, jejak sejarahnya yang tak terduga, analisis sosial-budayanya yang mendalam, hingga kontroversi keselamatan serius yang membayanginya.
Membedah Anatomi Fenomena: Apa Sebenarnya Anomali Bus Telolet?
Pada intinya, anomali bus telolet adalah sebuah interaksi sosial yang sederhana namun penuh makna. Ia memiliki dua komponen utama: evolusi suara klakson itu sendiri dan ritual yang terjadi antara penggemar dan pengemudi.
Dari Teriakan “Om Telolet Om” hingga Melodi “Basuri”: Evolusi Suara yang Menjadi Candu
Awalnya, suara yang diminta oleh para penggemar adalah bunyi “telolet” yang relatif sederhana, sebuah istilah onomatope yang meniru bunyi klakson angin tiga corong.3 Namun, seiring berjalannya waktu dan meningkatnya kreativitas dari para pemilik Perusahaan Otobus (PO), klakson ini berevolusi menjadi jauh lebih kompleks.
Kini, varian yang paling populer dikenal sebagai “Basuri”, sebuah sistem klakson udara yang mampu memainkan rangkaian nada musikal yang rumit.4 Klakson Basuri dapat melantunkan melodi lagu-lagu populer, mulai dari lagu anak-anak seperti “Baby Shark” hingga lagu dangdut yang sedang tren.1 Evolusi dari bunyi tunggal menjadi instrumen musik berjalan inilah yang memperkuat daya tarik fenomena ini, mengubahnya dari sekadar permintaan klakson menjadi sebuah pertunjukan mini di jalanan.
Ritual di Pinggir Jalan: Interaksi Unik Antara Penggemar dan Sopir Bus
Aktivitas inti dari fenomena ini adalah sebuah ritual yang khas. Sekelompok orang, sering kali anak-anak atau remaja, akan berdiri di tepi jalan raya, menantikan bus antarkota atau pariwisata yang lewat.6 Saat bus mendekat, mereka akan serempak berteriak, “Om, telolet, Om!”—sebuah panggilan akrab kepada sopir (“Om”) untuk membunyikan klaksonnya.7
Teriakan ini sering kali disertai dengan isyarat tangan yang khas, yaitu gerakan jari seolah-olah sedang menekan tombol klakson.1 Ketika sang sopir merespons dengan membunyikan klakson telolet atau Basuri, ledakan kegembiraan dari para “pemburu telolet” menjadi puncaknya.2 Momen inilah yang menjadi esensi dari fenomena tersebut: sebuah kebahagiaan sederhana yang lahir dari interaksi spontan.
Interaksi ini sejatinya melampaui batasan sosial dan ekonomi. Ia menjadi sebuah bentuk komunikasi non-verbal yang egaliter, menjembatani masyarakat biasa dengan para pekerja kerah biru seperti sopir bus. Dalam sebuah struktur sosial yang sering kali berjenjang, ritual telolet menciptakan sebuah ruang sementara di mana status sosial melebur dalam tawa dan kegembiraan bersama. Ini bukan sekadar hiburan, melainkan sebuah perekat sosial yang kuat, yang menjelaskan mengapa daya tarik emosionalnya begitu mendalam dan bertahan lama.
Jejak Sejarah Telolet: Dari Pengusir Unta di Arab hingga Panggung Dunia
Meskipun identik dengan Indonesia, asal-usul klakson telolet ternyata berada ribuan kilometer jauhnya. Sejarahnya adalah sebuah perjalanan menarik tentang bagaimana sebuah alat fungsional bertransformasi menjadi ikon budaya pop.
Asal-Usul Tak Terduga dari Jazirah Arab
Menurut komunitas pecinta bus, klakson dengan bunyi khas ini pertama kali digunakan di negara-negara Timur Tengah, khususnya Arab Saudi.3 Fungsinya saat itu sangat pragmatis: untuk mengusir unta yang sering kali berjalan atau berkerumun di tengah jalan raya.3 Bunyinya yang nyaring dan tidak biasa efektif untuk menarik perhatian hewan-hewan tersebut dan membersihkan jalur.
Peran Kunci Perusahaan Otobus Lokal dalam Mempopulerkan Telolet di Indonesia
Klakson ini masuk ke Indonesia berkat kejelian seorang pengusaha otobus. Pemilik PO Efisiensi, sebuah perusahaan bus yang berbasis di Kebumen, Jawa Tengah, disebut-sebut sebagai pelopor yang pertama kali membawa dan memasang klakson ini pada armadanya.4 Ia terinspirasi setelah mendengar suara unik klakson tersebut saat berada di Arab Saudi.4
Pemasangan ini terjadi jauh sebelum fenomena “Om Telolet Om” meledak, diperkirakan sebelum tahun 2010.4 Awalnya, klakson ini menjadi ciri khas dan pembeda bagi bus-bus tertentu, sebelum akhirnya menyebar dan diadopsi oleh banyak PO lain di seluruh Indonesia.
Momen Emas 2016: Ketika “Om Telolet Om” Mengguncang Jagat Maya Global
Pada pertengahan Desember 2016, fenomena yang tadinya bersifat lokal ini tiba-tiba meroket ke panggung dunia. Frasa “Om Telolet Om” membanjiri kolom komentar media sosial para selebritas dan musisi internasional, terutama para DJ musik dansa elektronik (EDM).8
Artis-artis papan atas seperti Zedd, DJ Snake, Martin Garrix, dan The Chainsmokers ikut meramaikan tren ini dengan cuitan kebingungan sekaligus geli mereka di Twitter.10 Fenomena ini dengan cepat menjadi meme global, menunjukkan kekuatan tak terduga dari internet dalam melambungkan sebuah keunikan budaya lokal menjadi perbincangan internasional.11
Lebih dari Sekadar Bunyi: Telolet dari Kacamata Sosial dan Budaya
Untuk memahami mengapa anomali bus telolet begitu dicintai dan melegenda, kita perlu melihatnya dari berbagai perspektif, mulai dari sosiologi, komunitas, hingga ekonomi kreatif.
Kebahagiaan Sederhana di Tengah Keterbatasan Ruang Ekspresi
Dari sudut pandang sosiologis, fenomena “berburu telolet” yang dilakukan oleh anak-anak dapat dilihat sebagai respons terhadap keterbatasan ruang bermain dan sarana berekspresi.12 Di banyak daerah, terutama di sepanjang jalur pantura Jawa, ruang publik yang aman dan gratis untuk anak-anak sangat terbatas.
Aktivitas menunggu bus di pinggir jalan menjadi sebuah petualangan yang murah, mudah diakses, dan memberikan sensasi kegembiraan yang instan.13 Ini adalah bentuk kebahagiaan sederhana yang mereka ciptakan sendiri, sebuah hiburan yang lahir dari kreativitas dalam menghadapi keterbatasan.
“Bus Mania”: Denyut Nadi Komunitas di Balik Deru Klakson
Fenomena telolet tidak bisa dilepaskan dari komunitas penggemarnya yang solid dan terorganisir, yang dikenal sebagai “Bismania Community” (BMC).14 Dengan ribuan anggota yang tersebar di seluruh Indonesia, BMC adalah wadah bagi para pecinta bus untuk berbagi hobi dan informasi.14
Bagi anggota BMC, telolet bukan sekadar suara, melainkan bagian dari apresiasi yang lebih besar terhadap dunia perbusan, mencakup desain bodi, spesifikasi mesin, hingga seni interior.14 Popularitas “Om Telolet Om” pada 2016 bahkan sempat membuat jumlah pendaftar yang ingin bergabung dengan komunitas ini membeludak.14 Kompetisi klakson telolet juga sering menjadi acara utama dalam jambore nasional mereka, mempererat rasa persaudaraan antaranggota.11
Perspektif Pelaku: Apa Kata Sopir, Kru, dan Penumpang?
Pandangan para pelaku di lapangan—sopir dan kru bus—terhadap fenomena ini beragam. Sebagian dari mereka merasa senang dan terhibur dengan antusiasme masyarakat. Interaksi ini dianggap dapat menambah semangat kerja dan mengusir kantuk selama perjalanan panjang.8 Namun, ada pula yang merasa terganggu karena dianggap dapat memecah konsentrasi saat mengemudi.8
Para penumpang di dalam bus sering kali ikut terhibur. Mereka menjadi saksi mata dari ritual di pinggir jalan, merasa heran sekaligus geli melihat kerumunan pemburu telolet. Hal ini menciptakan sebuah pengalaman komunal yang unik, di mana orang di dalam dan di luar bus sama-sama menjadi bagian dari pertunjukan.8
Lebih jauh, pemasangan klakson telolet yang canggih bukan lagi sekadar iseng, melainkan telah menjadi bagian dari strategi bisnis. Bus dengan klakson yang unik dan terkenal, seperti armada PO Garuda Mas Mahessa atau Scorpion Holidays, akan memiliki identitas brand yang kuat di kalangan komunitas.5 Popularitas ini dapat diterjemahkan menjadi keunggulan kompetitif, menarik lebih banyak penumpang, terutama untuk segmen pariwisata.17 Ini menciptakan insentif ekonomi bagi operator bus untuk terus berinvestasi pada klakson yang lebih canggih, sekalipun harus berhadapan dengan risiko dan regulasi.
Dua Sisi Mata Uang: Kontroversi dan Bahaya di Balik Euforia Telolet
Di balik keriaan dan euforianya, fenomena telolet menyimpan sisi gelap yang sangat serius. Risiko keselamatan jiwa dan masalah teknis pada kendaraan menjadi perhatian utama pemerintah dan aparat penegak hukum.
Ancaman Keselamatan Jiwa: Tragedi yang Mengintai Para “Pemburu Telolet”
Bahaya terbesar datang dari aktivitas para penggemar itu sendiri. Dalam antusiasme mereka, anak-anak dan remaja sering kali terlalu dekat dengan jalan raya, bahkan sampai mengejar bus yang sedang melaju untuk mendapatkan rekaman video yang sempurna.18
Perilaku ini sangat berbahaya dan telah memakan korban jiwa. Beberapa kasus kecelakaan fatal di mana anak-anak terlindas bus saat sedang “berburu telolet” telah terjadi, mengubah hiburan ini menjadi sebuah tragedi.19 Insiden-insiden inilah yang menjadi pemicu utama sikap tegas dari pemerintah.
Aspek Teknis Kritis: Bagaimana Klakson Telolet Bisa Mengganggu Sistem Pengereman?
Selain risiko di jalan, modifikasi klakson telolet juga menimbulkan ancaman teknis yang kritis pada bus itu sendiri. Klakson telolet atau Basuri yang menggunakan tenaga angin (pneumatik) sering kali dipasang dengan mengambil pasokan udara dari tabung yang sama dengan yang digunakan untuk sistem pengereman bus.21
Menurut Kementerian Perhubungan (Kemenhub) dan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), praktik ini sangat berbahaya. Setiap kali klakson dibunyikan, ia akan mengurangi tekanan udara yang vital untuk fungsi rem.21 Jika terjadi kebocoran pada instalasi klakson, seluruh pasokan angin untuk rem bisa habis, yang berpotensi menyebabkan kegagalan rem total atau “rem blong”.21
Regulasi Pemerintah dan Sikap Tegas Aparat
Menghadapi risiko-risiko ini, pemerintah tidak tinggal diam. Sikap yang ditunjukkan saat ini sangat kontras dengan pandangan pada awal popularitasnya. Jika pada 2016 Menteri Perhubungan saat itu, Budi Karya Sumadi, menyebutnya sebagai “kreativitas luar biasa” dan tidak akan melarangnya 24, kini sikap pemerintah berbalik 180 derajat. Perubahan drastis ini merupakan reaksi langsung terhadap akumulasi konsekuensi negatif, terutama setelah jatuhnya korban jiwa, yang memaksa regulator untuk memprioritaskan keselamatan di atas kreativitas.
Kini, Kemenhub dan Kepolisian secara aktif melarang penggunaan klakson telolet di jalan raya.25 Larangan ini didasarkan pada beberapa peraturan yang sudah ada.
| Aspek Regulasi | Dasar Hukum | Detail Ketentuan | Sanksi |
| Batas Kebisingan | PP No. 55 Tahun 2012, Pasal 69 | Suara klakson paling rendah 83 desibel (dB) dan paling tinggi 118 desibel (dB).20 | Denda tilang Rp 500.000.20 |
| Keselamatan Teknis | Surat Edaran Kemenhub & Rekomendasi KNKT | Dilarang menggunakan klakson bertenaga angin yang mengganggu fungsi sistem rem.21 | Penindakan saat uji berkala & tilang di jalan. |
| Gangguan Publik | UU No. 22 Tahun 2009 | Penggunaan klakson yang tidak sesuai spesifikasi teknis dan mengganggu konsentrasi pengendara lain.26 | Tilang sesuai Pasal 285. |
Aparat kepolisian di berbagai daerah secara rutin melakukan razia dan penindakan terhadap bus-bus yang masih menggunakan klakson telolet, dengan sanksi berupa tilang.12
Telolet dalam Konteks Global: Uniknya Subkultur Otomotif Indonesia
Untuk mengapresiasi keunikan telolet, menarik untuk membandingkannya dengan subkultur modifikasi kendaraan lain di dunia, salah satunya adalah “Dekotora” di Jepang.
Belajar dari “Dekotora” Jepang: Ketika Truk Menjadi Kanvas Seni Berjalan
Dekotora (singkatan dari decoration truck) adalah subkultur di Jepang di mana para pengemudi truk menghias kendaraannya secara ekstrem.28 Modifikasi ini meliputi penambahan panel krom berkilauan, lampu neon warna-warni, lukisan mural yang rumit, dan interior mewah.30 Sama seperti telolet, popularitas Dekotora juga meledak pada era 1970-an berkat sebuah serial film populer berjudul “Truck Yarō”.28
Para pemilik Dekotora rela menghabiskan biaya sangat besar untuk mengubah truk kerja mereka menjadi karya seni berjalan, sebagai bentuk kebanggaan dan ekspresi diri.29 Subkultur ini juga menghadapi tantangan regulasi yang semakin ketat terkait keselamatan dan emisi.28
Mengapa Telolet Menjadi Identitas Kultural yang Khas Indonesia?
Meskipun sama-sama merupakan bentuk seni rakyat pada kendaraan komersial, terdapat perbedaan fundamental antara Dekotora dan Telolet. Dekotora adalah seni yang bersifat visual dan statis; keindahannya dinikmati dengan cara dilihat. Sebaliknya, telolet adalah seni yang bersifat auditori, interaktif, dan performatif.
Keunikan telolet terletak pada keharusan adanya partisipasi dari “penonton” untuk melengkapi karya seni tersebut. Tanpa teriakan “Om, telolet, Om!” dari pinggir jalan, klakson Basuri yang canggih sekalipun akan kehilangan konteks dan maknanya. Aspek interaktif inilah yang membuatnya menjadi fenomena yang sangat khas Indonesia, mencerminkan sifat budaya yang komunal, partisipatif, dan gemar merayakan kegembiraan bersama secara spontan.
Masa Depan Fenomena Telolet: Antara Pelestarian Budaya dan Penegakan Aturan
Di persimpangan antara euforia budaya dan ancaman keselamatan, bagaimana masa depan fenomena telolet? Pertanyaan ini menjadi dilema bagi banyak pihak.
Mencari Titik Temu: Bisakah Hiburan dan Keselamatan Berjalan Beriringan?
Larangan total di jalan raya adalah langkah yang perlu diambil demi keselamatan. Namun, mematikan kreativitas ini sepenuhnya juga terasa disayangkan. Industri otomotif sendiri mengakui bahwa fenomena ini memberi kebahagiaan bagi penggemar, namun tetap harus ada regulasi yang jelas.23
Sebuah jalan tengah mungkin bisa ditemukan. Ide yang pernah dilontarkan pada 2016 untuk mengadakan kontes atau mengizinkan penggunaan telolet di area tertutup seperti terminal bus atau tempat wisata bisa menjadi solusi.24 Dengan cara ini, ekspresi budaya tetap bisa disalurkan dalam lingkungan yang aman dan terkendali, memisahkan hiburan dari risiko di jalan raya.
Inovasi dan Kreativitas: Akankah Telolet Terus Berevolusi?
Melihat daya tahannya selama ini, fenomena telolet kemungkinan besar tidak akan hilang begitu saja. Ia akan terus berevolusi. Mungkin akan muncul inovasi klakson elektronik yang lebih aman dan tidak terhubung dengan sistem rem.
Di sisi lain, budaya telolet sudah merambah ke medium lain. Mainan bus telolet, baik yang biasa maupun yang dikendalikan dari jarak jauh, sangat populer di pasaran.17 Ini menunjukkan bahwa jejak budaya telolet telah melampaui kendaraan aslinya dan menjadi bagian dari imajinasi kolektif, terutama di kalangan anak-anak.
Kesimpulan
Perjalanan anomali bus telolet adalah sebuah narasi yang kaya dan multifaset. Ia adalah suara klakson yang lahir dari kebutuhan praktis di Timur Tengah, diadopsi menjadi ciri khas bus di Indonesia, meledak sebagai meme global, dan akhirnya mengakar menjadi subkultur lokal yang dicintai sekaligus kontroversial. Fenomena ini merupakan cerminan dari kreativitas akar rumput, kekuatan komunitas, dan pencarian kebahagiaan sederhana di tengah berbagai keterbatasan.
Namun, di sisi lain, ia juga menjadi pengingat yang keras tentang bagaimana sebuah euforia massa dapat menimbulkan risiko keselamatan yang fatal. Kisah telolet pada akhirnya adalah sebuah studi kasus tentang tegangan abadi antara ekspresi budaya yang bebas dan kebutuhan akan ketertiban serta keselamatan publik. Ia mengajarkan bahwa dalam setiap kegembiraan, selalu ada tanggung jawab yang menyertainya.
Bagaimana menurut Anda? Apakah fenomena telolet harus dilarang total demi keselamatan, atau adakah cara untuk melestarikan keunikan budayanya secara aman? Bagikan pendapat Anda di kolom komentar!
Karya yang dikutip
- Tujuh Tahun Sudah Berlalu, Tren “Om Telolet Om” Kini Kembali Viral – YouTube, diakses Oktober 16, 2025, https://www.youtube.com/watch?v=jntnTi4tlT0
- Lama Tak Terdengar, Trend “Om Telolet Om” Kembali Viral – YouTube, diakses Oktober 16, 2025, https://m.youtube.com/shorts/twiVbqH6TA4
- ‘Om Telolet Om’ Mendunia, Begini Penjelasan Asal Usul dan Artinya, diakses Oktober 16, 2025, https://news.detik.com/berita/d-3377891/om-telolet-om-mendunia-begini-penjelasan-asal-usul-dan-artinya
- Banyak Yang Belum Tahu, Begini Awal Maraknya Klakson Telolet di …, diakses Oktober 16, 2025, https://otomotifnet.gridoto.com/read/234044556/banyak-yang-belum-tahu-begini-awal-maraknya-klakson-telolet-di-bus
- Dua Sisi Klakson Telolet Bus: Antara Menyenangkan dan Meresahkan, diakses Oktober 16, 2025, https://redigest.web.id/2024/03/dua-sisi-klakson-telolet-bus-antara-menyenangkan-dan-meresahkan/
- ‘Om Telolet Om’ Mendunia – Bahagia itu Sederhana – YouTube, diakses Oktober 16, 2025, https://www.youtube.com/watch?v=P6gd-6PyFpY
- 7 Tahun Berlalu, Tren Om Telolet Om Kembali Viral – YouTube, diakses Oktober 16, 2025, https://www.youtube.com/watch?v=9Ej9tCDaCTM
- Berbagi Kebahagian dalam Om Telolet Om – Tirto.id, diakses Oktober 16, 2025, https://tirto.id/berbagi-kebahagian-dalam-om-telolet-om-cbQ1
- Dari Perusahaan Otobus ini Fenomena ‘Om Telolet Om’ Bermula – detikNews – detikcom, diakses Oktober 16, 2025, https://news.detik.com/berita/d-3378138/dari-perusahaan-otobus-ini-fenomena-om-telolet-om-bermula
- Indonesia’s “Om Telolet Om” phenomenon goes viral – YouTube, diakses Oktober 16, 2025, https://www.youtube.com/watch?v=E9boMgb_Dlg
- Sensasi Perjalanan Diiringi Telolet Bus Pariwisata, diakses Oktober 16, 2025, https://sewabusjogja.co.id/bus-telolet-sensasi-perjalanan-diiringi-telolet/
- Telolet Merenggut Nyawa, Kenapa Anak-anak Candu Berburu Telolet? | Diskusi – YouTube, diakses Oktober 16, 2025, https://www.youtube.com/watch?v=ddpQSpbiuxs
- BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Permasalahan Sarana transportasi saat ini tidak akan lepas sebagai kebutuhan masyarakat I, diakses Oktober 16, 2025, https://digilib.uinsgd.ac.id/91362/26/4_bab1.pdf
- BisMania Community Anggotanya Ribuan, Pendaftar Sempat …, diakses Oktober 16, 2025, https://jabar.tribunnews.com/2020/05/04/bismania-community-anggotanya-ribuan-pendaftar-sempat-membeludak-gara-gara-om-telolet-om
- Bismania Community Jadi Komunitas Bus Tertua – YouTube, diakses Oktober 16, 2025, https://www.youtube.com/watch?v=NqpIN-KVmn4
- Perang Telolet Bus Mewah di Jambore Nasional Busmania 2016 Banyumas – YouTube, diakses Oktober 16, 2025, https://www.youtube.com/watch?v=AktSNtghC7c
- Menikmati Keunikan Bus Telolet Basuri – Lemon8-app, diakses Oktober 16, 2025, https://www.lemon8-app.com/@riko.januar71/7518792121504055824?region=id
- Komunitas Telolet Mania Terbentuk Jadi Hiburan Gratis untuk Anak-anak – YouTube, diakses Oktober 16, 2025, https://www.youtube.com/watch?v=qzT7NJLRY3U
- Sejarah Klakson Bus Telolet yang Viral hingga Makan Korban – Tirto.id, diakses Oktober 16, 2025, https://tirto.id/sejarah-klakson-bus-telolet-yang-viral-hingga-makan-korban-gWZH
- Kemenhub Evaluasi Sanksi Klakson Telolet – Metro TV, diakses Oktober 16, 2025, https://www.metrotvnews.com/read/b3JCrpEl-kemenhub-evaluasi-sanksi-klakson-telolet
- Klakson Telolet Berbahaya, Kemenhub Keluarkan Peringatan Keras, diakses Oktober 16, 2025, https://www.cnbcindonesia.com/news/20240319170825-4-523394/klakson-telolet-berbahaya-kemenhub-keluarkan-peringatan-keras
- Bus Dilarang Pakai Klakson Telolet, Bakal Kena Sanksi Tilang – YouTube, diakses Oktober 16, 2025, https://www.youtube.com/watch?v=_3-YKIO-QDA
- Tanggapi Fenomena Klakson Basuri Pada Bus AKAP, DCVI …, diakses Oktober 16, 2025, https://disway.id/read/768137/tanggapi-fenomena-klakson-basuri-pada-bus-akap-dcvi-memberi-kebahagiaan-busmania-tapi-juga-perlu-regulasi
- Menhub Tidak Melarang Om Telolet Om Kementerian Perhubungan …, diakses Oktober 16, 2025, https://dephub.go.id/post/read/menhub-tidak-melarang-om-telolet-om?language=id
- Basuri atau Klakson Telolet Resmi Dilarang ! | Dishub Karanganyar, diakses Oktober 16, 2025, https://dishub.karanganyarkab.go.id/basuri-atau-klakson-telolet-resmi-dilarang-oleh-kementerian-perhubungan/
- Polisi: Bus Dilarang Gunakan Klakson Telolet – CNN Indonesia, diakses Oktober 16, 2025, https://www.cnnindonesia.com/otomotif/20250223003648-579-1201390/polisi-bus-dilarang-gunakan-klakson-telolet
- Bus dengan Klakson Telolet bakal Ditilang Jelang Lebaran 2025 – Tempo.co, diakses Oktober 16, 2025, https://www.tempo.co/hukum/bus-dengan-klakson-telolet-bakal-ditilang-jelang-lebaran-2025-1208727
- DEKOTORA ART EXHIBITION 2025, diakses Oktober 16, 2025, https://dekotora-arttrucks.jp/3
- Dekotora, Truk Dekorasi yang Sudah Menjadi Bagian dari Budaya Jepang, diakses Oktober 16, 2025, https://japanesestation.com/culture/tradition/dekotora-truk-dekorasi-yang-sudah-menjadi-bagian-dari-budaya-jepang
- Dekotora! Japanese art truck show in Sendai – YouTube, diakses Oktober 16, 2025, https://www.youtube.com/watch?v=vZihXfQHPSA
- Dekotora: Japanese Truck Culture – Todd Antony, diakses Oktober 16, 2025, https://toddantony.com/portfolio/dekotora/
- Dekotora: the Japanese subculture of decorating trucks with neon lights and bright colors, diakses Oktober 16, 2025, https://www.tennders.com/blog/dekotora-the-japanese-subculture-of-decorating-trucks-with-neon-lights-and-bright-colors
- Klakson Telolet Basuri Harga Terbaru Dan Original – Blibli, diakses Oktober 16, 2025, https://www.blibli.com/jual/klakson-telolet-basuri


0 Komentar