Program Sekolah Rakyat digagas sebagai solusi kemiskinan. Namun, apakah program ini benar-benar efektif atau justru menimbulkan masalah baru? Simak analisisnya.
Pendahuluan: Sekolah Rakyat, Harapan Baru Pendidikan Indonesia?
Dalam beberapa bulan terakhir, jagat media dan ruang diskusi publik di Indonesia diramaikan oleh satu nama: Sekolah Rakyat. Program ini sontak menjadi buah bibir, mendominasi tajuk berita dan perbincangan di media sosial.1 Sebagai salah satu program paling ambisius dan menonjol dari pemerintahan baru, Sekolah Rakyat hadir dengan janji yang sangat kuat dan menggugah harapan banyak pihak.
Inti dari program ini adalah sebuah misi mulia yang menyentuh akar persoalan bangsa: menjadi instrumen strategis untuk memutus mata rantai kemiskinan antar-generasi melalui pendidikan berkualitas dan gratis.3 Gagasan ini menempatkan pendidikan bukan lagi sekadar sebagai hak, melainkan sebagai senjata pamungkas untuk mengubah nasib. Dengan pertaruhan sebesar ini, keberhasilan program Sekolah Rakyat terasa begitu krusial.
Namun, di tengah gemuruh optimisme, muncul riak-riak yang tak terduga. Laporan mengenai ratusan guru dan siswa yang memilih untuk mengundurkan diri dari program ini mulai bermunculan, menciptakan sebuah narasi tandingan yang kompleks.5 Fenomena ini melahirkan sebuah ketegangan antara visi agung yang dicanangkan dengan realitas tantangan di lapangan.
Di tengah harapan besar dan tantangan nyata, apakah Sekolah Rakyat benar-benar akan menjadi solusi mujarab bagi pendidikan dan kemiskinan di Indonesia, atau justru melahirkan serangkaian masalah baru yang tak terduga? Artikel ini akan mengupas tuntas program Sekolah Rakyat, dari konsep idealnya, manfaat yang diharapkan, hingga tantangan pelik yang kini menghadang di awal perjalanannya.
Analisis lebih dalam menunjukkan bahwa Sekolah Rakyat bukan sekadar kebijakan pendidikan biasa. Keterikatan program ini secara langsung dengan figur Presiden Prabowo Subianto 3 serta keterlibatan aktif pejabat tinggi dari berbagai kementerian—mulai dari Wakil Presiden, Menteri Sosial, Menteri PANRB, hingga Menko Polkam 2—mengindikasikan bahwa program ini adalah sebuah simbol politik dan sosial yang sangat penting bagi pemerintah. Ia menjadi tolok ukur utama untuk menguji komitmen dan kompetensi pemerintah dalam mewujudkan janji kesejahteraan sosial. Dengan sorotan media yang begitu tajam, setiap keberhasilan akan menjadi legitimasi, dan setiap kegagalan akan menjadi risiko politik yang signifikan.
Mengupas Tuntas Konsep Sekolah Rakyat: Lebih dari Sekadar Sekolah Gratis
Untuk memahami esensi Sekolah Rakyat, kita perlu melihat lebih jauh dari label “sekolah gratis”. Pada dasarnya, Sekolah Rakyat adalah sebuah inisiatif pemerintah yang dipimpin oleh Kementerian Sosial (Kemensos) dengan kolaborasi lintas kementerian, yang menyediakan pendidikan berkualitas dalam sistem sekolah berasrama penuh (boarding school).3
Sasaran yang Sangat Spesifik
Tidak seperti sekolah umum, program ini memiliki target penerima manfaat yang sangat spesifik dan terukur. Sasaran utamanya adalah anak-anak yang berasal dari keluarga dengan tingkat ekonomi paling rentan, yaitu yang terdata dalam desil 1 dan 2 pada Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).3 Desil 1 dan 2 merepresentasikan kelompok 20% keluarga termiskin di Indonesia. Pendekatan ini menunjukkan bahwa Sekolah Rakyat dirancang sebagai intervensi kemiskinan yang presisi dan terfokus, bukan sekadar program pendidikan massal.
Visi dan Misi yang Transformatif
Landasan filosofis program ini tertuang jelas dalam visi dan misinya. Visinya adalah untuk “mencetak agen perubahan pada setiap keluarga miskin”.10 Ini bukan sekadar tentang memberikan ijazah, tetapi membentuk individu yang diharapkan mampu menjadi motor penggerak perubahan di lingkungannya. Misi ini dijabarkan lebih lanjut dalam beberapa poin utama, antara lain memberikan pendidikan berkualitas, menumbuhkan jiwa kepemimpinan dan cinta tanah air, serta menanamkan pola pikir pantang menyerah untuk mengubah nasib keluarga.10
Gema Sejarah dalam Nama
Penggunaan nama “Sekolah Rakyat” sendiri bukanlah tanpa alasan. Istilah ini memiliki gema historis yang kuat, merujuk pada sistem pendidikan dasar di era perjuangan kemerdekaan yang bertujuan memberikan akses belajar bagi rakyat jelata.4 Dengan membangkitkan kembali nama ini, pemerintah seolah ingin menyambungkan program modern ini dengan warisan semangat pendidikan kerakyatan yang egaliter.
Namun, desain program ini membawa sebuah pergeseran filosofis yang fundamental dalam cara negara melakukan intervensi sosial. Model sekolah berasrama penuh, yang secara esensial “mengambil” anak dari lingkungan keluarganya selama 24/7, menandakan sebuah pendekatan yang berbeda dari model-model bantuan sosial sebelumnya yang mendukung keluarga di dalam komunitas mereka. Model ini secara implisit mengasumsikan bahwa lingkungan asal adalah hambatan utama yang harus diatasi dengan cara memindahkan anak ke lingkungan baru yang terkontrol dan dianggap ideal. Tujuannya mulia: untuk memutus transmisi kemiskinan.11 Namun, dampak jangka panjang dari model “ekstraksi” ini perlu dipertimbangkan secara mendalam. Ada potensi terjadinya keterputusan budaya dan emosional antara anak dengan keluarga dan komunitasnya. Para “agen perubahan” ini mungkin akan kesulitan beradaptasi kembali saat pulang, atau bahkan memilih untuk tidak kembali sama sekali, yang pada akhirnya dapat menyebabkan “brain drain” dari komunitas-komunitas yang justru paling membutuhkan mereka.
Di Balik Gerbang Sekolah Rakyat: Fasilitas, Kurikulum, dan Kehidupan Holistik
Program Sekolah Rakyat tidak dirancang sebagai sekolah darurat dengan fasilitas seadanya. Sebaliknya, pemerintah berupaya menetapkan standar tinggi yang dalam beberapa aspek setara dengan sekolah swasta elit, dengan keyakinan bahwa lingkungan fisik yang unggul adalah fondasi untuk pembelajaran yang optimal.
Standar Fasilitas Baru yang Komprehensif
Gambaran fasilitas yang disediakan menunjukkan komitmen besar terhadap kualitas infrastruktur:
- Infrastruktur Modern dan Lengkap: Setiap Sekolah Rakyat dilengkapi dengan asrama yang layak bagi siswa dan guru, ruang kelas modern, laboratorium sains, perpustakaan, dan sarana pendukung lainnya.3
- Integrasi Teknologi Canggih: Siswa tidak hanya belajar secara konvensional. Mereka dibekali perangkat digital seperti laptop atau tablet.7 Lebih dari itu, pemerintah melalui Komite Digitalisasi (Komdigi) menjamin ketersediaan akses internet berkecepatan tinggi hingga 100 Mbps di setiap lokasi.6 Bahkan, teknologi Kecerdasan Buatan (AI) dimanfaatkan untuk melakukan pemetaan bakat dan minat siswa (
talent mapping), sebuah pendekatan yang sangat modern.12 - Dukungan Holistik untuk Tumbuh Kembang: Program ini memahami bahwa pendidikan bukan hanya soal akademik. Ada jaminan asupan gizi seimbang bagi setiap siswa. Selain itu, program Cek Kesehatan Gratis (CKG) secara rutin diselenggarakan untuk memantau kondisi kesehatan para siswa secara komprehensif.8 Fasilitas olahraga dan tempat ibadah juga menjadi bagian tak terpisahkan untuk mendukung pengembangan fisik dan spiritual.7
Perpaduan Kurikulum yang Unik
Kurikulum Sekolah Rakyat dirancang sebagai sebuah model hibrida yang memadukan berbagai elemen penting untuk menciptakan lulusan yang utuh:
- Fondasi Akademik Nasional: Kurikulum inti tetap mengacu pada standar pendidikan nasional yang berlaku, memastikan bahwa siswa mendapatkan basis pengetahuan yang setara dengan sekolah lain.3
- Penekanan Kuat pada Karakter dan Kepemimpinan: Ini adalah elemen pembeda yang paling signifikan. Ada porsi besar yang didedikasikan untuk pembangunan karakter, penanaman jiwa kepemimpinan, nasionalisme, dan mentalitas tangguh (resilience).7
- Keterampilan Vokasi dan Kehidupan: Untuk memastikan lulusannya siap menghadapi dunia nyata, kurikulum ini juga mengintegrasikan keterampilan vokasional praktis dan kewirausahaan. Tujuannya adalah agar siswa memiliki bekal untuk melanjutkan ke pendidikan tinggi atau langsung memasuki dunia kerja, sehingga benar-benar mampu memutus siklus kemiskinan.4
Investasi besar pada fasilitas fisik dan teknologi canggih ini menunjukkan sebuah keyakinan mendasar dari para perancang program: bahwa defisit lingkungan dan materi adalah penghalang utama bagi anak-anak dari keluarga miskin untuk berprestasi. Namun, ironisnya, tantangan terbesar yang muncul di awal implementasi program justru bukan berasal dari “perangkat keras” ini. Masalah yang mencuat ke permukaan adalah masalah “perangkat lunak” yang bersifat manusiawi: guru dan siswa yang mengundurkan diri karena kesulitan beradaptasi, rindu rumah, dan syok psikologis.2 Hal ini mengindikasikan adanya potensi titik buta dalam desain program. Terjadi penekanan berlebih pada penciptaan lingkungan fisik yang sempurna, dengan asumsi bahwa hal itu saja sudah cukup. Sementara itu, tantangan manusiawi yang kompleks dari sebuah eksperimen sosial drastis seperti ini mungkin kurang diantisipasi. Pada akhirnya, keberhasilan Sekolah Rakyat akan lebih bergantung pada kualitas interaksi manusia, sistem pendampingan psikologis, dan dukungan sosial, ketimbang pada kecepatan koneksi internetnya.
Membedah Manfaat: Dampak yang Diharapkan bagi Siswa, Keluarga, dan Bangsa
Visi besar di balik Sekolah Rakyat dapat diurai menjadi serangkaian manfaat berlapis yang diharapkan dapat dirasakan oleh siswa secara individu, keluarga mereka, hingga bangsa secara keseluruhan.
Bagi Siswa: Generasi Baru yang Unggul dan Berkarakter
Bagi anak-anak yang terpilih, Sekolah Rakyat adalah sebuah kesempatan emas. Mereka mendapatkan akses ke pendidikan berkualitas yang mungkin tidak akan pernah mereka dapatkan jika tetap berada di kondisi semula. Program ini menjanjikan pengembangan holistik yang mencakup tiga pilar utama: intelektual melalui kurikulum akademik dan teknologi; fisik melalui jaminan gizi dan kesehatan 7; serta karakter dan spiritual melalui lingkungan asrama yang terstruktur. Di lingkungan yang kondusif ini, mereka juga dilatih untuk menguasai keterampilan abad ke-21 seperti pemecahan masalah, kolaborasi, dan kepemimpinan, yang merupakan modal penting untuk masa depan.7
Bagi Keluarga: Memutus Lingkaran Setan Kemiskinan
Ini adalah janji inti dan tujuan akhir dari program Sekolah Rakyat. Dengan bekal pendidikan dan keterampilan yang unggul, para lulusan diharapkan dapat meraih pekerjaan yang lebih baik atau menjadi wirausahawan sukses. Kesuksesan mereka secara langsung akan meningkatkan kondisi ekonomi keluarga, dan yang terpenting, memutus siklus kemiskinan yang telah menjerat keluarga mereka selama beberapa generasi.11 Selain manfaat jangka panjang, program ini juga memberikan kelegaan finansial jangka pendek bagi keluarga miskin, karena beban biaya pendidikan, makan, dan kebutuhan harian anak sepenuhnya ditanggung oleh negara.
Bagi Bangsa: Investasi Jangka Panjang Menuju Indonesia Emas 2045
Dalam skala makro, Sekolah Rakyat adalah sebuah investasi sumber daya manusia (SDM) jangka panjang. Keberhasilan program ini diharapkan dapat mendongkrak Indeks Pembangunan Manusia (IPM) nasional.8 Program ini juga secara langsung bertujuan untuk menekan angka putus sekolah nasional, yang masih menjadi salah satu masalah pendidikan di Indonesia.4 Lebih jauh lagi, dengan mencetak lulusan yang produktif dan mandiri, program ini berkontribusi pada penciptaan mobilitas sosial yang lebih sehat dan masyarakat yang lebih berdaya.8 Tidak hanya itu, pembangunan dan operasional sekolah di berbagai daerah juga diharapkan dapat memberikan efek ganda, yaitu menggerakkan roda perekonomian lokal.15
Namun, metrik keberhasilan yang ditekankan oleh pemerintah sebagian besar bersifat jangka panjang dan berskala makro, seperti “menuju Indonesia Emas 2045” 16 atau “meningkatkan kualitas SDM”.14 Visi besar yang akan membuahkan hasil dalam puluhan tahun ini menciptakan sebuah diskoneksi dengan kebutuhan dan kecemasan jangka pendek yang sangat nyata dan dirasakan oleh para pesertanya. Guru dan siswa yang berjuang hari ini tidak didorong oleh visi tahun 2045, melainkan oleh pergulatan personal seperti rindu kampung halaman dan kesulitan adaptasi.2 Ada ketidaksesuaian horizon waktu antara perancang program dan pelaksana di lapangan. Oleh karena itu, tantangan krusial bagi pengelola program adalah bagaimana membangun dan mengkomunikasikan sistem dukungan jangka pendek yang efektif. Tanpa adanya pendampingan psikologis dan “kemenangan-kemenangan kecil” yang dapat dirasakan saat ini, visi jangka panjang tersebut berisiko runtuh bahkan sebelum sempat bersemi.
Tantangan di Awal Perjalanan: Badai Krisis Guru dan Siswa
Setiap program besar pasti menghadapi tantangan, namun masalah yang menimpa Sekolah Rakyat di fase awal peluncurannya terbilang cukup serius dan menyita perhatian publik. Isu pengunduran diri massal dari guru dan siswa menjadi “gajah di dalam ruangan” yang tidak bisa diabaikan.
Fakta di Lapangan
Media massa secara serempak melaporkan angka-angka yang mengkhawatirkan. Laporan seperti “160 Guru Mundur dari Sekolah Rakyat”, “143 Guru Sekolah Rakyat Diganti”, hingga “115 Siswa Sekolah Rakyat Juga Mengundurkan Diri” menjadi tajuk utama yang menimbulkan banyak pertanyaan.5 Angka ini signifikan, mengingat program ini baru saja dimulai dan proses seleksinya sangat ketat.
Menganalisis Akar Masalah
Ketika ditelusuri lebih dalam, alasan di balik gelombang pengunduran diri ini ternyata bukanlah masalah klasik seperti gaji atau fasilitas yang tidak memadai. Akar masalahnya jauh lebih personal dan bersifat manusiawi.
- Bagi Guru: Meskipun telah melewati seleksi ketat yang mensyaratkan kualifikasi tinggi seperti sertifikat PPG, IPK minimal 3.00, dan kemampuan berbahasa Inggris 10, banyak guru yang tidak siap dengan realitas di lapangan. Alasan utama yang mengemuka adalah penempatan yang terlalu jauh dari kampung halaman, kesulitan beradaptasi dengan kultur dan tuntutan sistem sekolah berasrama yang berjalan 24/7, serta berbagai alasan pribadi lainnya.6
- Bagi Siswa: Bagi anak-anak yang terbiasa hidup bersama keluarga, transisi ke kehidupan asrama yang terstruktur dan jauh dari orang tua ternyata menjadi sebuah guncangan psikologis. Rasa rindu rumah (homesickness), kesulitan beradaptasi dengan disiplin yang ketat, dan kemungkinan gegar budaya menjadi pemicu utama mereka ingin kembali ke rumah.2
Respons Pemerintah
Menghadapi krisis ini, pemerintah bergerak cepat untuk memberikan respons. Para pejabat terkait, termasuk menteri, mengeluarkan pernyataan yang meyakinkan publik bahwa proses belajar-mengajar tidak akan terganggu. Pemerintah mengklaim memiliki data puluhan ribu calon guru pengganti yang siap dipanggil untuk mengisi kekosongan.12 Namun, narasi yang kerap disampaikan cenderung mereduksi masalah ini sebagai bagian dari proses adaptasi yang wajar, sebuah “penyesuaian” yang sudah diantisipasi.5
Krisis pengunduran diri ini dapat dilihat sebagai gejala sistemik dari apa yang mungkin merupakan “ketergesa-gesaan dalam implementasi”. Ambisi politik untuk meluncurkan program skala besar yang terlihat nyata dalam waktu singkat—dari perencanaan di bulan Maret-April hingga peluncuran nasional di bulan Juli-Agustus 1—kemungkinan besar membuat aspek persiapan sumber daya manusia yang lebih “lunak” dan tak terlihat menjadi terabaikan. Proses rekrutmen guru yang berfokus pada kualifikasi akademis dan teknis 17 ternyata tidak cukup untuk menyaring kesiapan psikologis dan mental kandidat untuk sebuah peran yang menuntut totalitas di lingkungan berasrama, yang seringkali berlokasi di daerah terpencil. Tingginya tingkat pengunduran diri di antara para guru yang notabene sudah terkualifikasi ini bukanlah cerminan dari kualitas kandidat, melainkan indikasi kuat adanya kesenjangan besar antara ekspektasi dan realitas pekerjaan. Ini adalah jebakan klasik dalam manajemen proyek: memprioritaskan target waktu dan
output yang terukur (jumlah sekolah, jumlah siswa) sambil meremehkan proses persiapan non-fisik yang justru menjadi kunci keberhasilan jangka panjang.
Sekolah Rakyat vs. Sekolah Reguler: Apa Bedanya?
Untuk memberikan pemahaman yang jernih, penting untuk membedakan secara tegas antara program Sekolah Rakyat dengan sekolah reguler (negeri maupun swasta) yang sudah kita kenal. Perbedaan mendasar tidak hanya terletak pada biaya, tetapi juga pada filosofi, target, dan metode pelaksanaannya. Tabel berikut merangkum perbedaan kunci antara keduanya.
| Aspek | Sekolah Rakyat | Sekolah Reguler (Umum) |
| Sasaran Siswa | Anak dari keluarga miskin & miskin ekstrem (Desil 1 & 2 DTSEN) 3 | Terbuka untuk umum dari berbagai latar belakang ekonomi 18 |
| Biaya Pendidikan | Sepenuhnya gratis, ditanggung pemerintah 3 | Bervariasi, ada yang gratis (negeri) dengan iuran komite, ada yang berbayar (swasta) |
| Sistem Pembelajaran | Wajib asrama (boarding school) 24/7 3 | Non-asrama, siswa pulang ke rumah setiap hari |
| Kurikulum | Kurikulum Nasional + penekanan kuat pada karakter, kepemimpinan, dan keterampilan vokasi 7 | Umumnya mengikuti Kurikulum Nasional, dengan beberapa muatan lokal atau kekhasan sekolah |
| Fasilitas | Terstandar dan lengkap (asrama, lab, teknologi modern, gizi terjamin) 12 | Sangat bervariasi, tergantung status sekolah (negeri/swasta) dan lokasi |
| Fokus Utama | Memutus rantai kemiskinan dan menciptakan mobilitas sosial sebagai intervensi terfokus 8 | Memberikan pendidikan dasar dan menengah yang merata untuk seluruh populasi sebagai layanan publik umum 18 |
Masa Depan Sekolah Rakyat: Sebuah Refleksi dan Prospek
Sekolah Rakyat tidak diragukan lagi adalah sebuah program dengan ambisi raksasa dan niat yang sangat mulia. Ia merepresentasikan sebuah terobosan kebijakan, sebuah upaya serius dari negara untuk mengintervensi salah satu masalah paling kronis di Indonesia: kemiskinan struktural. Namun, seperti yang telah kita lihat, perjalanan program ini diwarnai oleh dualitas yang tajam: ia adalah mercusuar harapan sekaligus sebuah proyek yang sarat dengan tantangan di fase awalnya.
Keberhasilan program ini di masa depan tidaklah dijamin. Ia akan sangat bergantung pada kemampuan pemerintah untuk belajar dari kesalahan, mendengarkan suara dari lapangan, dan beradaptasi dengan cepat. Fokus tidak bisa lagi hanya pada pembangunan fisik dan pencapaian target kuantitatif. Perhatian yang jauh lebih besar harus dicurahkan pada aspek manusiawi: sistem dukungan psikologis yang kuat bagi siswa dan guru, program orientasi yang lebih komprehensif, serta mekanisme untuk menjaga hubungan anak dengan keluarga dan komunitas asalnya.
Pada akhirnya, program ini juga memaksa kita untuk merenungkan sebuah pertanyaan yang lebih fundamental. Dengan menciptakan sebuah sistem pendidikan “khusus” yang unggul bagi sekelompok anak dari keluarga miskin, apakah kita tidak berisiko menciptakan sebuah bentuk segregasi sosial yang baru? Beberapa pihak menyuarakan kekhawatiran ini, mempertanyakan mengapa sumber daya besar tersebut tidak digunakan untuk memperkuat sekolah-sekolah reguler yang sudah ada, sehingga semua anak, kaya maupun miskin, dapat belajar bersama di lingkungan yang berkualitas.2
Ini adalah sebuah pertanyaan kritis. Ada risiko bahwa dengan adanya program khusus ini, urgensi untuk memperbaiki kualitas sistem sekolah publik secara keseluruhan dapat menurun. Para pembuat kebijakan dan masyarakat luas mungkin akan merasa bahwa masalah “pendidikan untuk si miskin” telah “diselesaikan” melalui jalur terpisah ini. Jika itu terjadi, program yang dirancang untuk menjembatani kesenjangan justru dapat secara tidak sengaja melebarkan jurang pemisah dalam dimensi yang berbeda, menciptakan sistem pendidikan dua tingkat yang lebih terformalisasi.
Masa depan Sekolah Rakyat adalah sebuah narasi yang masih terus ditulis. Sebagai masyarakat, tugas kita adalah untuk terus mengawal, memberikan masukan yang konstruktif, dan memastikan bahwa program ini benar-benar menjadi jalan menuju keadilan sosial, bukan sekadar sebuah proyek monumental yang indah di atas kertas. Karena yang dipertaruhkan di sini bukan hanya anggaran negara, tetapi masa depan jutaan anak Indonesia dan arah strategi pendidikan bangsa.
Karya yang dikutip
- Berita Sekolah Rakyat Terkini Dan Terbaru Hari Ini – Okezone.com -, diakses Agustus 5, 2025, https://www.okezone.com/tag/sekolah-rakyat
- Video dan berita sekolah rakyat Terkini dan Terbaru Hari ini – Metro TV, diakses Agustus 5, 2025, https://www.metrotvnews.com/tag/3083/sekolah-rakyat
- Sekolah Rakyat Resmi Diselenggarakan Hari ini – Universitas Muhammadiyah Jakarta, diakses Agustus 5, 2025, https://umj.ac.id/just_info/sekolah-rakyat-resmi-diselenggarakan-hari-ini/
- Apa Itu Sekolah Rakyat? – Guru Berdaya, diakses Agustus 5, 2025, https://guruberdaya.org/apa-itu-sekolah-rakyat/
- Berita Terkini Harian Sekolah Rakyat Terbaru Hari Ini – Kompas.com, diakses Agustus 5, 2025, https://www.kompas.com/tag/sekolah-rakyat
- Berita dan Informasi Sekolah rakyat Terkini dan Terbaru Hari ini – detikcom, diakses Agustus 5, 2025, https://www.detik.com/tag/sekolah-rakyat
- Sekolah Rakyat – Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas, diakses Agustus 5, 2025, https://id.wikipedia.org/wiki/Sekolah_Rakyat
- Pastikan Layanan Sekolah Rakyat Berjalan, Menteri PANRB Kunjungi SRMP 17 Tabanan, diakses Agustus 5, 2025, https://www.menpan.go.id/site/berita-terkini/pastikan-layanan-sekolah-rakyat-berjalan-menteri-panrb-kunjungi-srmp-17-tabanan
- Minister confirms 100 fully-operational Sekolah Rakyat by August, diakses Agustus 5, 2025, https://en.antaranews.com/news/370361/minister-confirms-100-fully-operational-sekolah-rakyat-by-august
- Seleksi Guru Sekolah Rakyat – Direktorat Pendidikan Profesi Guru (PPG) – Dikdasmen, diakses Agustus 5, 2025, https://ppg.dikdasmen.go.id/seleksi-guru-sekolah-rakyat
- DRAF JUKNIS SEKOLAH RAKYAT 2025 – Informasi Pengawas Sekolah, diakses Agustus 5, 2025, https://www.imrantululi.net/read/221/draf-juknis-sekolah-rakyat-2025
- Berita Sekolah Rakyat Terbaru dan Terkini Hari ini – Medcom.id, diakses Agustus 5, 2025, https://www.medcom.id/tag/26997/sekolah-rakyat
- Sekolah Rakyat: Solusi Pendidikan untuk Mengatasi Kemiskinan – Artikel – Excellent Team, diakses Agustus 5, 2025, https://excellentteam.id/artikel/2025/03/10/sekolah-rakyat-solusi-pendidikan-untuk-mengatasi-kemiskinan/
- 53 Lokasi Siap: Apa Itu Sekolah Rakyat, Tujuan, dan Jadwal – Fakultas Hukum UMSU, diakses Agustus 5, 2025, https://fahum.umsu.ac.id/info/53-lokasi-siap-apa-itu-sekolah-rakyat-tujuan-dan-jadwal/
- Menteri PANRB cek layanan Sekolah Rakyat saat kunjungi SRMP 17 Tabanan, diakses Agustus 5, 2025, https://www.antaranews.com/berita/5013801/menteri-panrb-cek-layanan-sekolah-rakyat-saat-kunjungi-srmp-17-tabanan
- Apa itu Sekolah Rakyat? Simak sasaran, jenjang pendidikan & fasilitas – ANTARA News, diakses Agustus 5, 2025, https://www.antaranews.com/berita/4710453/apa-itu-sekolah-rakyat-simak-sasaran-jenjang-pendidikan-fasilitas
- Cara Pendaftaran Guru Sekolah Rakyat 2025: Syarat, Jadwal & Alur Lengkap – detikcom, diakses Agustus 5, 2025, https://www.detik.com/edu/sekolah/d-8037993/cara-pendaftaran-guru-sekolah-rakyat-2025-syarat-jadwal-alur-lengkap
- Program Sekolah Unggulan Garuda dan Sekolah Rakyat Mulai 2025 – Excellent Team, diakses Agustus 5, 2025, https://excellentteam.id/artikel/2025/01/12/program-sekolah-unggulan-garuda-dan-sekolah-rakyat-mulai-2025/


0 Komentar