Ringkasan Eksekutif
Sejarah kognisi manusia dan evolusi artistik sedang ditulis ulang, dan pusat dari revisi sejarah global ini bukanlah gua-gua di Eropa Barat, melainkan bentang alam karst di Sulawesi, Indonesia. Laporan ini menyajikan analisis komprehensif mengenai penemuan Seni Cadas Sulawesi tertua di dunia, sebuah stensil tangan berusia 67.800 tahun yang ditemukan di Gua Liang Metanduno, Pulau Muna, Sulawesi Tenggara.1
Penemuan ini, yang dipublikasikan di jurnal Nature, tidak hanya memecahkan rekor usia seni cadas yang sebelumnya dipegang oleh lukisan Neanderthal di Spanyol atau lukisan babi kutil di Maros-Pangkep, tetapi juga memberikan bukti terkuat mengenai keberadaan manusia modern (Homo sapiens) di wilayah Wallacea jauh lebih awal dari perkiraan sebelumnya.3 Laporan ini akan mengupas secara mendalam metodologi penanggalan Laser-Ablation Uranium-Series yang revolusioner, implikasi kognitif dari motif “tangan cakar” yang unik, serta dampaknya terhadap teori migrasi manusia menuju benua Sahul (Australia-Papua).
Analisis ini disusun untuk memberikan wawasan tingkat ahli bagi para akademisi, arkeolog, dan pembuat kebijakan, sekaligus memenuhi kebutuhan konten edukasi publik mengenai pentingnya pelestarian situs warisan dunia ini di tengah ancaman perubahan iklim dan aktivitas pertambangan.5
Bab 1: Penemuan di Liang Metanduno dan Konteks Geografis
1.1 Lanskap Karst Pulau Muna: Galeri Seni Purba
Pulau Muna, yang terletak di lepas pantai semenanjung tenggara Sulawesi, merupakan bagian dari wilayah geologis Wallacea yang unik. Terpisah dari paparan Sunda (Asia) dan Sahul (Australia) oleh palung laut dalam, wilayah ini memiliki flora dan fauna endemik yang berbeda dari kedua benua tersebut. Lanskap Muna didominasi oleh formasi batu kapur (karst) yang menjulang tinggi, menciptakan ribuan ceruk dan gua yang telah menjadi tempat perlindungan manusia selama puluhan ribu tahun.1
Gua Liang Metanduno, lokasi penemuan monumental ini, telah lama dikenal oleh penduduk setempat. Situs ini disebut sebagai “galeri seni purba” karena dinding-dindingnya yang dipenuhi oleh lapisan lukisan dari berbagai era. Pengunjung gua ini dapat melihat gambaran sosok manusia terbang, perahu yang dipenuhi penumpang, dan prajurit berkuda yang digambar dengan pigmen merah, cokelat, dan hitam.1 Namun, lukisan-lukisan yang terlihat jelas ini—yang menggambarkan babi, burung, dan kuda—sebenarnya “hanya” berusia beberapa ribu tahun, berasal dari periode Austronesia atau Logam Awal.1
1.2 Ekspedisi dan Identifikasi Lapisan Tertua
Pada tahun 2015, Adhi Agus Oktaviana, seorang arkeolog dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), melakukan survei intensif di Liang Metanduno. Tujuan utamanya adalah mencari jejak ekspresi artistik yang jauh lebih tua, yang tersembunyi di balik atau di antara lapisan lukisan yang lebih muda.1
Di langit-langit gua, di dekat coretan cokelat yang menyerupai ayam, Oktaviana mengidentifikasi dua stensil tangan yang samar. Salah satu stensil ini memiliki karakteristik yang tidak lazim: jari-jarinya tampak meruncing, memberikan kesan visual seperti cakar hewan. Penemuan ini memicu investigasi ilmiah mendalam yang melibatkan kolaborasi internasional antara BRIN, Griffith University, dan Southern Cross University.1
1.3 Karakteristik Fisik “Seni Cadas Sulawesi” di Muna
Stensil tangan di Liang Metanduno bukan sekadar jiplakan tangan biasa. Analisis morfologi menunjukkan adanya modifikasi yang disengaja:
- Teknik Pembuatan: Seniman purba menempelkan tangan mereka ke dinding gua dan menyemprotkan pigmen (kemungkinan oker merah yang dikunyah atau dicampur air) melalui mulut atau alat tiup, menciptakan negative imprint.3
- Modifikasi “Cakar”: Jari-jari pada stensil ini tidak ditampilkan secara natural. Seniman tersebut kemungkinan besar melipat jari, memanipulasi posisi tangan, atau melakukan retouching (melukis ulang) pada hasil stensil untuk menciptakan efek jari yang meruncing tajam.1
- Kondisi Pelestarian: Stensil ini sangat pudar dan hampir tidak terlihat oleh mata telanjang karena tertutup oleh deposit mineral kalsium karbonat (cave popcorn) yang terbentuk selama puluhan ribu tahun. Deposit inilah yang menjadi kunci bagi penanggalan ilmiah.2
Keberadaan motif “tangan cakar” ini sangat signifikan karena menunjukkan bahwa Seni Cadas Sulawesi tidak hanya berfungsi sebagai penanda kehadiran (“saya ada di sini”), tetapi juga memuat muatan simbolis yang kompleks, kemungkinan berkaitan dengan hubungan spiritual antara manusia dan hewan (totemisme atau shamanisme).9
Bab 2: Metodologi Ilmiah: Menerobos Batas Waktu
2.1 Keterbatasan Penanggalan Radiokarbon
Dalam arkeologi konvensional, penanggalan Radiokarbon (C-14) adalah standar emas. Namun, metode ini memiliki keterbatasan fatal untuk seni cadas tua:
- Batas Waktu: C-14 hanya akurat hingga sekitar 50.000 tahun yang lalu.
- Material Organik: Metode ini membutuhkan materi organik (arang, lilin lebah). Sebagian besar lukisan gua di Sulawesi menggunakan pigmen mineral anorganik (seperti hematit/oker) yang tidak mengandung karbon.11
Oleh karena itu, untuk menembus batas waktu 50.000 tahun, tim peneliti harus menggunakan metode yang berbeda: Deret Uranium (Uranium-Series).
2.2 Revolusi Laser-Ablation U-Series Dating
Penemuan di Muna dimungkinkan oleh teknik mutakhir yang disebut Laser-Ablation Inductively Coupled Plasma Mass Spectrometry (LA-ICP-MS). Metode ini jauh lebih presisi dan tidak destruktif dibandingkan metode pengambilan sampel fisik (pengikisan) yang lama.11
Mekanisme Penanggalan:
- Pembentukan Speleothem: Air yang merembes melalui batuan kapur mengandung jejak Uranium yang larut, tetapi tidak mengandung Thorium (karena Thorium tidak larut dalam air). Ketika air ini menetes di dinding gua dan membentuk lapisan kalsium karbonat (kalsit atau cave popcorn) di atas lukisan, “jam atom” dimulai. Uranium yang terperangkap dalam kalsit perlahan meluruh menjadi Thorium-230 dengan laju yang konstan dan diketahui.13
- Rasio Isotop: Dengan mengukur rasio antara Thorium-230 dan Uranium-238, ilmuwan dapat menghitung kapan lapisan kalsit tersebut terbentuk.
- Prinsip Stratigrafi: Karena kalsit tersebut tumbuh di atas pigmen lukisan, maka umur kalsit adalah umur minimum dari lukisan tersebut. Artinya, lukisan itu pasti dibuat sebelum lapisan kalsit mulai tumbuh.3
Keunggulan Laser Ablasi: Metode laser memungkinkan peneliti untuk menembakkan sinar laser mikroskopis ke lapisan kalsit yang sangat tipis (dalam skala mikron). Partikel yang terablasi kemudian dianalisis oleh spektrometer massa. Ini memungkinkan peneliti untuk menghindari area yang terkontaminasi dan menargetkan lapisan kalsit yang paling dekat dengan pigmen, memberikan hasil yang sangat akurat.15
2.3 Hasil Penanggalan: Angka yang Mengubah Sejarah
Analisis terhadap stensil tangan “cakar” di Liang Metanduno menghasilkan data yang mengejutkan komunitas ilmiah global:
- Usia Minimum: Lapisan kalsit terbawah berumur 67.800 tahun.1
- Rentang Usia: Analisis lebih lanjut menunjukkan kemungkinan rentang usia antara 75.400 hingga 67.800 tahun.1
- Sampel Kedua: Stensil tangan lain di gua yang sama ditarikhkan berusia sekitar 60.900 tahun.1
Angka ini menjadikan stensil Muna sebagai seni cadas tertua di dunia yang dibuat oleh manusia modern, menggeser temuan sebelumnya di Sulawesi Selatan dan bahkan menyaingi klaim seni Neanderthal di Eropa.2
Bab 3: Analisis Komparatif: Sulawesi vs Dunia
Penemuan Seni Cadas Sulawesi di Muna tidak berdiri sendiri. Ia adalah bagian dari puzzle raksasa sejarah seni manusia. Tabel berikut menyajikan perbandingan data antara situs Muna dengan situs-situs kunci lainnya di dunia dan regional.
Tabel 3.1: Perbandingan Situs Seni Cadas Tertua di Dunia
| Nama Situs | Lokasi | Jenis Seni | Usia (Minimum) | Atribusi Spesies | Signifikansi Utama |
| Liang Metanduno | Pulau Muna, Indonesia | Stensil Tangan (Modifikasi Cakar) | 67.800 tahun | Homo sapiens | Seni tertua manusia modern; bukti migrasi awal. |
| Gua Maltravieso | Spanyol | Stensil Tangan | ~66.700 tahun | Neanderthals | Masih diperdebatkan; diatribusikan ke Neanderthal. |
| Gua Ardales | Spanyol | Pigmen Merah | ~65.500 tahun | Neanderthals | Dianggap non-figuratif. |
| Leang Karampuang | Maros-Pangkep, Indonesia | Adegan Naratif (Theriantrope) | 51.200 tahun | Homo sapiens | Seni bercerita (naratif) tertua di dunia. |
| Leang Tedongnge | Maros-Pangkep, Indonesia | Lukisan Babi Kutil | ~45.500 tahun | Homo sapiens | Lukisan hewan figuratif tertua. |
| El Castillo | Spanyol | Cakram Merah | ~40.800 tahun | Homo sapiens | Seni tertua di Eropa oleh manusia modern. |
| Lascaux | Prancis | Lukisan Hewan | ~17.000 tahun | Homo sapiens | Sangat terkenal, namun jauh lebih muda. |
3.2 Implikasi Perbandingan: Runtuhnya Eurosentrisme
Selama lebih dari satu abad, narasi sejarah seni didominasi oleh pandangan Eurosentris yang menempatkan “Ledakan Kreatif” (Creative Explosion) di Eropa Barat sekitar 40.000 tahun yang lalu (periode Paleolitikum Atas). Penemuan di Sulawesi secara efektif membongkar paradigma ini.
- Gap Kronologis: Seni di Muna (67.8ka) berusia sekitar 27.000 tahun lebih tua daripada bukti seni tertua manusia modern di Eropa (El Castillo, ~40.8ka).16 Ini membuktikan bahwa kapasitas untuk berpikir simbolis dan artistik tidak muncul tiba-tiba saat manusia sampai di Eropa, tetapi sudah matang jauh sebelumnya di Asia Tenggara.4
- Kompleksitas yang Setara: Jika seni Eropa terkenal dengan realisme hewan, seni Sulawesi menunjukkan kompleksitas dalam hal narasi (Leang Karampuang) dan simbolisme abstrak (Muna). Penemuan di Leang Karampuang (51.2ka) yang menggambarkan perburuan dengan makhluk setengah hewan mendahului seni naratif Eropa puluhan ribu tahun.17
Bab 4: Arkeologi Kognitif: Membaca Pikiran Manusia Purba
Apa arti dari sebuah tangan yang digambar menyerupai cakar? Pertanyaan ini membawa kita ke ranah arkeologi kognitif—upaya untuk memahami cara berpikir manusia di masa lalu.
4.1 Simbolisme dan Therianthropy
Modifikasi jari menjadi bentuk runcing adalah bukti dari pemikiran kontrafaktual (kemampuan membayangkan sesuatu yang tidak nyata). Seniman di Liang Metanduno tidak hanya mereplikasi realitas fisik tangan mereka; mereka mengubahnya menjadi simbol.
- Transformasi Identitas: Motif “cakar” sering dikaitkan dengan konsep Therianthropy (penggabungan bentuk manusia dan hewan). Dalam banyak budaya animisme, cakar melambangkan kekuatan, kemampuan berburu, atau hubungan spiritual dengan predator puncak (seperti burung elang atau reptil).7
- Shamanisme: Adam Brumm, salah satu peneliti utama, menyarankan bahwa seni ini berkaitan dengan praktik shamanistik, di mana praktisi percaya mereka dapat berkomunikasi dengan roh hewan atau mengambil atribut fisik hewan tersebut.9
4.2 Peran Anak-Anak dalam Ritual Seni
Salah satu temuan paling menyentuh dari penelitian ini adalah analisis ukuran tangan. Di Liang Metanduno, serta situs-situs lain di Maluku dan Papua, ditemukan stensil tangan yang ukurannya sangat kecil (sekitar 10 x 14 cm), yang sesuai dengan ukuran tangan anak-anak atau balita.19
Ini memberikan wawasan sosiologis yang mendalam:
- Partisipasi Komunal: Pembuatan seni cadas bukanlah aktivitas eksklusif dukun tua atau pemburu dewasa. Anak-anak dilibatkan secara aktif.
- Enkulturasi: Proses meniupkan pigmen ke tangan anak kemungkinan merupakan bentuk ritual inisiasi atau pendidikan budaya, menanamkan nilai-nilai simbolis kelompok sejak usia dini.19
- Jejak Keluarga: Hal ini mengubah cara kita memandang gua-gua ini—bukan hanya sebagai tempat keramat yang sunyi, tetapi sebagai ruang sosial yang hidup, penuh dengan suara dan aktivitas lintas generasi.
Bab 5: Seni Cadas Sulawesi dan Migrasi ke Benua Sahul
Penemuan di Muna memiliki implikasi geopolitik dan demografis yang sangat besar terkait kolonisasi benua Sahul (gabungan Australia, Papua, dan Tasmania pada zaman Es).
5.1 Debat Rute Migrasi: Utara vs Selatan
Para ahli telah lama memperdebatkan jalur mana yang ditempuh manusia pertama untuk mencapai Australia:
- Rute Selatan: Melalui Jawa, Bali, Nusa Tenggara, menuju Timor, lalu menyeberang ke Australia Utara.
- Rute Utara: Melalui Kalimantan, masuk ke Sulawesi, lalu ke Maluku, dan akhirnya ke Papua (Kepala Burung).4
5.2 Bukti “Rute Utara” yang Tak Terbantahkan
Penanggalan 67.800 tahun di Muna memberikan “bukti terkuat” hingga saat ini untuk dominasi Rute Utara.19
- Posisi Strategis: Sulawesi adalah batu loncatan kritis di Rute Utara. Keberadaan populasi yang mapan dan berbudaya seni di Sulawesi Tenggara pada 68.000 tahun yang lalu menempatkan mereka pada posisi dan waktu yang tepat untuk melanjutkan perjalanan ke Papua dan Australia.21
- Kronologi Panjang (Long Chronology): Temuan ini mendukung model “Kronologi Panjang” yang menyatakan manusia tiba di Australia sekitar 65.000 tahun yang lalu (berdasarkan situs Madjedbebe). Jika mereka sudah ada di Sulawesi pada 68ka, maka kedatangan di Australia pada 65ka adalah skenario yang sangat masuk akal.10
5.3 Teknologi Maritim Paleolitikum
Fakta bahwa manusia mencapai Pulau Muna dan Sulawesi pada masa itu membuktikan kemampuan maritim yang canggih. Bahkan pada tingkat air laut terendah di zaman Es, Sulawesi dikelilingi oleh laut dalam dan tidak pernah terhubung jembatan darat ke Asia (Sunda).
- Pelaut Perdana: Nenek moyang pembuat seni ini harus menyeberangi lautan terbuka, mungkin sejauh ratusan kilometer. Ini menyiratkan adanya teknologi pembuatan rakit atau perahu yang mumpuni, serta kemampuan navigasi dan perencanaan logistik yang jauh melampaui apa yang sebelumnya diperkirakan untuk manusia era tersebut.19
Bab 6: Ancaman dan Masa Depan Warisan Dunia
Meskipun telah bertahan selama hampir 700 abad, Seni Cadas Sulawesi kini menghadapi ancaman eksistensial yang belum pernah terjadi sebelumnya. Paradoksnya, saat kita baru saja memahami nilai sejarahnya yang tak ternilai, kita juga berisiko kehilangannya.
6.1 Krisis Iklim dan Haloklasti
Penelitian menunjukkan bahwa lukisan-lukisan ini mengalami degradasi dengan kecepatan yang mengkhawatirkan akibat perubahan iklim antropogenik.
- Mekanisme Kerusakan: Perubahan pola monsun menyebabkan siklus basah dan kering yang ekstrem. Hal ini memicu proses haloklasti (kristalisasi garam). Garam yang terlarut dalam air pori batuan mengkristal saat cuaca panas, memuai, dan mendesak permukaan batu kapur hingga terkelupas (exfoliation).
- Dampak: Lapisan permukaan batuan yang mengandung lukisan rontok menjadi debu, menghapus sejarah ribuan tahun dalam sekejap.5
6.2 Pertambangan Nikel dan Kebijakan Tata Ruang
Sulawesi adalah pusat pertambangan nikel dunia, bahan baku utama baterai kendaraan listrik. Aktivitas pertambangan di sekitar kawasan karst menimbulkan ancaman fisik:
- Getaran dan Debu: Peledakan tambang dan debu industri dapat merusak struktur gua dan menutupi lukisan.
- Konflik Lahan: Banyak situs seni cadas belum terpetakan dan berada di dalam atau di dekat konsesi pertambangan.5
6.3 Rekomendasi Kebijakan
Para peneliti menyerukan tindakan segera:
- Integrasi Tata Ruang: Perlindungan kawasan karst harus diintegrasikan ke dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) nasional dan daerah, melarang aktivitas ekstraktif di zona inti arkeologis.25
- Cagar Budaya Nasional: Pemerintah Indonesia perlu segera menetapkan kawasan Liang Metanduno dan sekitarnya sebagai Cagar Budaya Nasional dan menominasikannya sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO, menyusul status kawasan Maros-Pangkep.26
- Dokumentasi Digital: Perlombaan melawan waktu (race against time) memerlukan dokumentasi digital 3D dan pemindaian laser untuk mengarsipkan seluruh seni cadas yang ada sebelum hilang selamanya.19
Kesimpulan
Penemuan Seni Cadas Sulawesi tertua di Liang Metanduno adalah tonggak sejarah yang mengubah narasi kemanusiaan. Stensil tangan berusia 67.800 tahun ini berbicara kepada kita melintasi ribuan milenia, menyampaikan pesan bahwa nenek moyang kita di Nusantara adalah pionir kognitif dan penjelajah samudra yang tangguh.
Mereka bukan sekadar manusia yang bertahan hidup; mereka adalah seniman, pencerita, dan pemikir simbolis yang meletakkan dasar-dasar budaya manusia modern jauh sebelum peradaban Barat lahir. Penemuan ini menegaskan posisi Indonesia bukan hanya sebagai jalur lintasan migrasi, tetapi sebagai inkubator utama kreativitas manusia purba. Menjaga warisan ini bukan hanya kewajiban nasional Indonesia, tetapi tanggung jawab global untuk melestarikan bab pertama dari kisah kita bersama.
Daftar Data Pendukung (Tabel Rinci)
Tabel Tambahan 1: Detail Teknis Metode Laser Ablasi
| Parameter | Keterangan | Sumber |
| Target Analisis | Cave Popcorn (Kalsit/Speleothem) di atas pigmen | 2 |
| Isotop Kunci | Peluruhan Uranium-238 menjadi Thorium-230 | 13 |
| Keunggulan | Sampel mikroskopis (minimal invasif), menghindari kontaminasi | 11 |
| Presisi | Error margin sekitar ± 3.800 tahun pada sampel 67.8ka | 2 |
Tabel Tambahan 2: Kronologi Seni Cadas di Sulawesi
| Periode | Lokasi Utama | Karakteristik Seni | Usia |
| Pleistosen Akhir (Awal) | Liang Metanduno (Muna) | Stensil Tangan, Modifikasi Cakar | >67.800 tahun |
| Pleistosen Akhir (Tengah) | Leang Karampuang (Maros) | Naratif, Theriantrope, Babi | >51.200 tahun |
| Pleistosen Akhir (Lanjut) | Leang Bulu’ Sipong 4 | Adegan Perburuan Anoa | >43.900 tahun |
| Holosen / Austronesia | Seluruh Sulawesi | Perahu, Prajurit, Hewan Domestik (Anjing/Ayam) | <4.000 tahun |
Karya yang dikutip
- The world’s oldest rock art discovered in Indonesia | National Geographic, diakses Januari 27, 2026, https://www.nationalgeographic.com/history/article/worlds-oldest-rock-art-indonesia-hand-stencil
- Oldest known rock art dated to 67800 years discovered in Sulawesi cave, diakses Januari 27, 2026, https://archaeologymag.com/2026/01/oldest-known-rock-art-in-sulawesi-cave/
- World’s oldest known rock art discovered in Indonesia, diakses Januari 27, 2026, https://www.theartnewspaper.com/2026/01/21/world-oldest-known-rock-art-discovered-indonesia
- Humanity’s oldest known cave art has been discovered in Sulawesi, diakses Januari 27, 2026, https://leakeyfoundation.org/humanitys-oldest-known-cave-art-has-been-discovered-in-sulawesi/
- Lukisan Cadas dari Zaman Es yang Terancam Tambang Nikel, diakses Januari 27, 2026, https://www.kompas.id/artikel/lukisan-cadas-dari-zaman-es-yang-terancam-tambang-nikel
- Archaeologists discover world’s oldest known cave art in Indonesia – TV BRICS, diakses Januari 27, 2026, https://tvbrics.com/en/news/archaeologists-discover-world-s-oldest-known-cave-art-in-indonesia/
- The world’s oldest rock art discovered in Indonesia – AZERTAC, diakses Januari 27, 2026, https://azertag.az/en/xeber/the_worlds_oldest_rock_art_discovered_in_indonesia-3981075
- World’s oldest rock art holds clues to early human migration to …, diakses Januari 27, 2026, https://news.griffith.edu.au/2026/01/22/worlds-oldest-rock-art-holds-clues-to-early-human-migration-to-australia/
- World’s oldest cave art — the outline of a human hand — discovered in Indonesia, scientists say – CBS News, diakses Januari 27, 2026, https://www.cbsnews.com/news/oldest-cave-art-found-indonesia-outline-hand/
- World’s oldest-known rock art found in Indonesian cave | Popular Science, diakses Januari 27, 2026, https://www.popsci.com/science/oldest-rock-art/
- In situ U-series dating by laser-ablation MC-ICPMS | Request PDF – ResearchGate, diakses Januari 27, 2026, https://www.researchgate.net/publication/253569328_In_situ_U-series_dating_by_laser-ablation_MC-ICPMS
- Indonesia’s 51200 Years Old Narrative Cave Art – Google Arts & Culture, diakses Januari 27, 2026, https://artsandculture.google.com/story/indonesia-39-s-51-200-years-old-narrative-cave-art-brin/BgXRnYO53jNZSg?hl=en
- Uranium–lead dating – Wikipedia, diakses Januari 27, 2026, https://en.wikipedia.org/wiki/Uranium%E2%80%93lead_dating
- Indonesia human hand outline may be world’s oldest rock art | The Jerusalem Post, diakses Januari 27, 2026, https://www.jpost.com/archaeology/archaeology-around-the-world/article-884150
- U-Pb dating by Laser Ablation ICP-MS – Boise State University, diakses Januari 27, 2026, https://www.boisestate.edu/earth-isotope/wp-content/uploads/sites/287/2013/08/3-LA_ICPMS-tagged.pdf
- Where Are the Oldest Cave Paintings? 6 Key Sites Explained – TheCollector, diakses Januari 27, 2026, https://www.thecollector.com/where-are-oldest-cave-paintings/
- Karampuang cave – Wikipedia, diakses Januari 27, 2026, https://en.wikipedia.org/wiki/Karampuang_cave
- Oldest known picture story is a 51000-year-old Indonesian cave painting – The Guardian, diakses Januari 27, 2026, https://www.theguardian.com/science/article/2024/jul/03/oldest-picture-story-cave-painting-indonesia-record-51000-years
- Seni Cadas di Pulau Muna Buktikan Migrasi Jalur Utara ke Australia, diakses Januari 27, 2026, https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20260126131035-199-1321090/seni-cadas-di-pulau-muna-buktikan-migrasi-jalur-utara-ke-australia
- The Oldest Known Rock Art Is Over 67,000 Years Old, Offering Clues Into Our Ancient Ancestors’ Migrations | Discover Magazine, diakses Januari 27, 2026, https://www.discovermagazine.com/the-oldest-rock-art-is-over-67-000-years-old-offering-clues-into-our-ancient-ancestors-migrations-48570
- Hand stencil in Indonesian cave seen as the oldest-known rock art, diakses Januari 27, 2026, https://indianexpress.com/article/technology/science/hand-stencil-in-indonesian-cave-seen-as-the-oldest-known-rock-art-10488370/
- This Handprint May Be the World’s Oldest Rock Art, diakses Januari 27, 2026, https://hyperallergic.com/this-handprint-may-be-the-worlds-oldest-rock-art/
- 67,800-year-old cave art in Indonesia identified as world’s oldest – VnExpress International, diakses Januari 27, 2026, https://e.vnexpress.net/news/news/67-800-year-old-cave-art-in-indonesia-identified-as-world-s-oldest-5008880.html
- A Window into the Prehistoric World at Liang Pominsa – Google Arts & Culture, diakses Januari 27, 2026, https://artsandculture.google.com/story/qAXhkuv1EmSemw
- Penemuan Terbaru Seni Cadas Berusia 67.800 Tahun di … – BRIN, diakses Januari 27, 2026, https://www.brin.go.id/press-release/126386/penemuan-terbaru-seni-cadas-berusia-67800-tahun-di-pulau-muna-lebih-tua-dari-maros-pangkep
- Lukisan Purba Gua Metanduno akan Jadi Cagar Budaya Nasional …, diakses Januari 27, 2026, https://www.tempo.co/hiburan/lukisan-purba-gua-metanduno-akan-jadi-cagar-budaya-nasional-2109431
- U-Pb Dating – Detailed Page | Geo- and Thermochronology Research Group | University of Calgary, diakses Januari 27, 2026, https://www.ucalgary.ca/geo-thermochronology/facilities-and-techniques/u-pb-dating


0 Komentar