Perkembangan teknologi digital dan media sosial telah membawa perubahan yang sangat drastis dalam cara manusia berinteraksi sehari-hari. Berbagai platform digital kini menjadi pusat inkubasi budaya baru, terutama dalam hal penciptaan kosakata yang unik dan eksentrik. Memahami bahasa gaul gen alpha kini menjadi hal yang sangat penting agar tidak tertinggal oleh cepatnya arus perputaran tren sosial di internet. Generasi terbaru ini telah menciptakan ekosistem komunikasi yang sama sekali berbeda dari generasi pendahulunya.
Kehadiran platform video singkat telah mempercepat penyebaran informasi hingga ke titik yang belum pernah dibayangkan sebelumnya. Oleh karena itu, artikel ini akan membedah secara komprehensif dan mendalam berbagai istilah viral, makna konotasi, asal usul, serta konteks sosiologis di balik fenomena bahasa gaul gen alpha. Pembaca akan mendapatkan wawasan holistik mengenai bagaimana budaya internet saat ini sedang membentuk ulang pola komunikasi umat manusia di masa depan.
Era Society 5.0 dan Lahirnya Bahasa Gaul Gen Alpha
Generasi Alpha merujuk pada kelompok demografis yang lahir antara tahun 2010 hingga 2025.1 Kelompok ini tumbuh dan berkembang sepenuhnya di era Society 5.0, sebuah era di mana batasan antara dunia fisik dan dunia virtual semakin memudar.2 Mereka sering disebut sebagai “anak-anak iPad” atau iPad kids karena interaksi mereka dengan perangkat pintar, algoritma media sosial, dan kecerdasan buatan sudah dimulai sejak hari pertama mereka dilahirkan.3 Kondisi lingkungan digital yang sangat dinamis ini secara langsung memengaruhi kemampuan linguistik dan kognitif mereka.
Akses informasi global yang sangat cepat memungkinkan kelompok demografis ini untuk menyerap kosakata dari berbagai bahasa secara instan.1 Mereka tidak hanya menerima informasi secara pasif, tetapi juga memodifikasi kosakata tersebut menjadi ragam bahasa gaul yang disesuaikan dengan konteks sosial mereka secara spesifik.1 Media sosial, khususnya TikTok dan YouTube Shorts, menjadi jembatan utama yang memfasilitasi perkembangan bahasa ini.1 Berbeda dengan generasi sebelumnya yang menggunakan slang atau bahasa gaul sekadar untuk gaya-gayaan di tongkrongan, Generasi Alpha mengintegrasikan bahasa gaul sebagai elemen fundamental dalam komunikasi daring dan luring mereka sehari-hari.5
Fenomena ini memperlihatkan bagaimana kemajuan teknologi dapat merevolusi struktur bahasa dalam waktu yang sangat singkat. Penggunaan emoji, stiker, dan singkatan yang sangat pendek menjadi ciri khas komunikasi mereka yang seringkali membingungkan kelompok orang dewasa.5 Keterikatan Generasi Alpha dengan perangkat digital sangat memengaruhi gaya hidup, pola pikir, cara belajar, dan bahkan kesehatan mental mereka.2 Oleh karena itu, mempelajari bahasa gaul gen alpha bukan sekadar memahami tren, melainkan memahami bagaimana otak mereka memproses informasi di era hiper-konektivitas.
Klasifikasi Linguistik dalam Pembentukan Slang Digital
Para peneliti linguistik dan sosiologi telah mengkaji fenomena bahasa gaul gen alpha secara akademis untuk mencari pola di balik kata-kata yang terkesan acak tersebut. Berdasarkan teori klasifikasi slang oleh Partridge, kosakata yang digunakan oleh anak muda saat ini dapat dibagi ke dalam lima jenis utama yang mendemonstrasikan fleksibilitas ekspresi linguistik mereka.6 Analisis ini sangat penting untuk membedah anatomi dari setiap kata yang viral.
Penciptaan Kata Baru yang Segar dan Imajinatif (Fresh and Creative)
Kategori pertama adalah penciptaan istilah baru yang sangat segar dan imajinatif. Kosakata dalam kategori ini seringkali tidak memiliki akar kata yang jelas dalam kamus bahasa baku. Contoh terbaik dari kategori ini adalah istilah “Skibidi” yang murni lahir dari budaya meme animasi 3D.6 Kata ini diciptakan tanpa mematuhi aturan etimologi tradisional, melainkan murni berdasarkan kecocokan bunyi (sonik) yang mudah diucapkan dan diingat oleh otak manusia.
Penggabungan Konsep Absurd (Flippant)
Kategori kedua adalah jenis Flippant, yang mencakup kata-kata yang terdiri dari dua makna tidak relevan atau kata-kata absurd yang sengaja disatukan. Penggunaan istilah seperti “Skibidi Ohio Rizz” merupakan bentuk hinaan panjang yang menggabungkan berbagai elemen absurd menjadi satu kesatuan frasa.7 Penggabungan ini menciptakan struktur kalimat hibrida yang menantang tata bahasa konvensional, di mana penuturnya lebih mementingkan efek komedi dan ironi dibandingkan penyampaian makna yang harfiah.
Peniruan Figur Otoritas dan Budaya Pop (Imitative)
Kategori ketiga adalah Imitative, yaitu bahasa yang meniru atau dipengaruhi oleh figur otoritas, selebritas, atau tren musik tertentu. Generasi Alpha sangat mudah menyerap pengaruh dari budaya hip-hop dan live streamer populer. Sebagai contoh, penggunaan angka “67” yang meniru lirik dari lagu rapper asal Amerika Serikat, Skrilla.9 Selain itu, istilah “Fanum Tax” juga murni meniru nama seorang pembuat konten YouTube terkenal, Fanum, yang sering mengambil makanan milik temannya.7
Penggunaan Akronim dan Pemotongan Kata (Acronyms and Clipping)
Kategori selanjutnya adalah Acronyms (akronim) yang merujuk pada pembentukan inisial huruf dari frasa yang panjang. Contohnya adalah kata “FOMO” yang merupakan singkatan dari Fear of Missing Out.11 Meskipun sudah digunakan oleh Generasi Z, Generasi Alpha kembali mempopulerkannya. Terakhir adalah kategori Clipping, yang melibatkan pemotongan kata panjang menjadi kata yang lebih pendek dan padat. Kata “Rizz”, misalnya, merupakan hasil pemotongan (clipping) yang diambil dari pertengahan suku kata “Charisma”.6 Teknik pemotongan ini mempercepat proses mengetik di layar sentuh ponsel pintar.
Daftar Lengkap dan Arti Bahasa Gaul Gen Alpha yang Viral
Untuk benar-benar memahami bahasa gaul gen alpha yang berseliweran di media sosial, diperlukan pembedahan leksikal yang komprehensif. Daftar ini merangkum puluhan istilah yang paling sering digunakan, membaginya ke dalam beberapa kategori utama, dan menyajikan makna konotasi serta asal-usulnya.
Kategori 1: Estetika Konten Nonsens dan “Brainrot”
Istilah-istilah di bawah ini berkaitan erat dengan fenomena brainrot atau budaya mengonsumsi konten internet yang tidak memiliki substansi logis. Kosakata ini sering muncul di kolom komentar video yang absurd.
| Kata Gaul | Asal Usul / Konteks Awal | Makna dan Penggunaan Saat Ini |
| Skibidi | Serial YouTube Skibidi Toilet karya animator Alexey Gerasimov yang menampilkan kepala manusia di dalam toilet.7 | Mengacu pada sesuatu yang buruk, negatif, aneh, atau gila. Kata ini juga sering digunakan sebagai kata pengisi tanpa makna sama sekali dalam sebuah kalimat.1 |
| Ohio | Budaya meme Amerika Serikat yang menganggap negara bagian Ohio sebagai tempat kejadian aneh dan supranatural.7 | Secara konotasi berarti “aneh”, “mengerikan”, atau “canggung”. Digunakan untuk mengekspresikan hal-hal yang di luar nalar manusia.1 |
| Fanum Tax | Berasal dari kebiasaan streamer bernama Fanum (teman Kai Cenat) yang selalu meminta atau “memajaki” makanan orang lain.7 | Tindakan mencuri atau mengambil sebagian makanan milik teman. Istilah ini telah meluas untuk mendeskripsikan tindakan merampas hak orang lain dengan dalih pertemanan.7 |
| NPC | Istilah dari dunia game, singkatan dari Non-Playable Character.12 | Seseorang yang tidak memiliki orisinalitas, tidak bisa berpikir kritis, dan hanya mengikuti tren seperti robot tanpa jiwa.12 |
| 6-7 (Six Seven) | Diambil dari lirik lagu rap “Doot Doot (6 7)” oleh Skrilla dan tinggi badan pemain NBA LaMelo Ball.9 | Kata seru spontan yang sepenuhnya tanpa makna. Digunakan sebagai jawaban acak, lelucon, atau penanda identitas kelompok tanpa logika yang jelas.9 |
Istilah seperti Skibidi dan Ohio menunjukkan pergeseran ekstrem dalam cara anak muda menciptakan lelucon. Mereka tidak lagi bergantung pada punchline atau struktur komedi yang jelas. Humor bagi mereka adalah ketika sebuah kata tidak memiliki arti sama sekali, namun diucapkan secara massal hingga menyebabkan kebingungan bagi kelompok usia yang lebih tua.
Kategori 2: Penampilan Fisik, Daya Tarik, dan Romansa
Generasi Alpha juga menciptakan bahasa gaul yang dikhususkan untuk menilai penampilan fisik, karisma, dan dinamika hubungan romantis. Istilah ini sangat sering ditemui pada konten seputar fesyen, kecantikan, dan lifestyle.
| Kata Gaul | Asal Usul / Konteks Awal | Makna dan Penggunaan Saat Ini |
| Rizz | Pemotongan dari kata bahasa Inggris Charisma (Karisma).1 | Memiliki daya tarik, pesona, atau kemampuan luar biasa dalam merayu dan memikat hati orang lain secara romantis.1 |
| Mewing | Dinamakan dari nama ortodontis Dr. John Mew yang menciptakan teknik menempelkan lidah ke langit-langit mulut.1 | Tindakan mengencangkan rahang agar terlihat lebih tajam dan tegas secara estetika. Juga bermakna “keren” atau sedang berupaya terlihat tampan.1 |
| Gyatt / Gyat | Modifikasi atau singkatan dari frasa God damn yang diucapkan dengan penuh penekanan.1 | Ekspresi kekaguman, keterkejutan, atau pujian yang sangat kuat, sering kali ditujukan pada seseorang yang memiliki bentuk tubuh menarik.1 |
| Mogging | Berasal dari komunitas looksmaxxing dan singkatan AMOG (Alpha Male of the Group).15 | Tindakan mendominasi seseorang secara visual karena terlihat jauh lebih menarik secara fisik dibandingkan orang tersebut di dalam satu bingkai foto atau ruangan.15 |
| Looksmaxxing | Gabungan kata looks (penampilan) dan maxxing (memaksimalkan) dari komunitas internet.15 | Berbagai upaya, mulai dari diet hingga perawatan ekstrem, untuk memaksimalkan potensi penampilan fisik seseorang.15 |
| Delulu | Singkatan dari kata delusional.3 | Menggambarkan seseorang yang terlalu banyak berkhayal, memiliki pemikiran yang tidak realistis, atau sangat terobsesi pada figur idola hingga kehilangan akal sehat.3 |
Kosakata seperti Mewing dan Looksmaxxing mengindikasikan adanya tekanan sosial yang cukup besar terkait standar kecantikan dan ketampanan di media sosial. Platform visual seperti TikTok memberikan penekanan yang berlebihan pada estetika wajah dan tubuh. Hal ini memicu Generasi Alpha untuk menciptakan terminologi khusus yang berkaitan dengan upaya peningkatan daya tarik fisik mereka. Di sisi lain, kata Delulu digunakan sebagai tameng komedi untuk menertawakan ekspektasi romantis mereka yang tidak masuk akal.
Kategori 3: Hierarki Sosial, Validasi, dan Komunitas
Sistem pengelompokan sosial sangat lazim terjadi di usia sekolah. Bahasa gaul gen alpha menyediakan instrumen verbal bagi mereka untuk menilai dan mengkategorikan orang-orang di sekitar mereka.
| Kata Gaul | Asal Usul / Konteks Awal | Makna dan Penggunaan Saat Ini |
| Sigma / Sigma Boy | Teori kepribadian serigala penyendiri (lone wolf) yang berada di luar hierarki Alpha-Beta.1 | Merujuk pada pria atau individu yang mandiri, dominan, sangat keren, dan sukses tanpa perlu tunduk pada tekanan kelompok sosial di sekitarnya.1 |
| Aura Points | Berawal dari artikel olahraga New York Times (2020) mengenai karisma pemain bola.16 | Sistem skor imajiner untuk mengukur tingkat kekerenan (coolness). Tindakan memalukan menguras poin (-1000 aura), tindakan keren menambah poin (+2000 aura).16 |
| Pick Me | Budaya internet tentang wanita yang merendahkan gendernya sendiri demi atensi pria.11 | Seseorang yang berusaha terlalu keras mencari perhatian dan validasi dengan cara merendahkan orang lain agar dirinya terlihat “berbeda” dan superior.11 |
| Skena | Modifikasi lokal Indonesia dari kata bahasa Inggris Scene (komunitas).11 | Merujuk pada subkultur atau lingkungan pergaulan sosial tertentu yang eksklusif, biasanya berkaitan erat dengan selera musik indie, fesyen unik, dan gaya hidup artsy.11 |
| Basic | Istilah mode dan kecantikan untuk gaya yang standar.2 | Sebutan merendahkan untuk hal, benda, atau orang yang terlalu umum, pasaran, mudah ditebak, dan sangat kurang memiliki orisinalitas.2 |
| Simp | Budaya internet awal 2000-an yang dihidupkan kembali oleh Gen Z dan Alpha.11 | Seseorang yang terlalu mengagumi, memuja, dan memberikan perhatian yang sangat berlebihan kepada orang lain (biasanya pada gebetan) namun tidak mendapatkan balasan yang setimpal.11 |
Keberadaan frasa seperti Sigma Boy dan Pick Me menunjukkan bagaimana generasi muda ini memiliki tingkat kesadaran yang sangat tinggi terhadap peran gender dan perilaku performatif. Mereka menggunakan istilah-istilah ini untuk “menghukum” individu yang dianggap palsu atau terlalu haus validasi, sekaligus mengagungkan individu yang terlihat autentik dan tidak memedulikan pendapat publik.
Kategori 4: Ekspresi Emosional dan Penilaian Sehari-hari
Kategori ini mencakup ragam bahasa gaul yang paling umum dan sering disisipkan ke dalam percakapan sehari-hari, baik secara lisan maupun melalui pesan singkat (chat). Kosakata ini berfungsi untuk mengekspresikan persetujuan, kekesalan, atau kualitas suatu hal.
| Kata Gaul | Asal Usul / Konteks Awal | Makna dan Penggunaan Saat Ini |
| Slay | Berakar dari budaya ballroom komunitas minoritas di Amerika pada tahun 1980-an.2 | Melakukan sesuatu dengan sangat luar biasa, memukau, atau meraih kesuksesan besar dengan gaya yang mematikan. Sering digunakan untuk memuji penampilan.2 |
| Bussin’ / Bussin | Bahasa slang Afrika-Amerika (AAVE) yang masuk ke platform TikTok.11 | Digunakan untuk mendeskripsikan sesuatu yang rasanya sangat lezat luar biasa, memuaskan, dan tiada duanya. Utamanya digunakan untuk mereview makanan.11 |
| Cap / No Cap | Budaya hip-hop yang berarti “kebohongan” atau batas atas dari kebenaran.1 | Cap berarti berbohong atau membual. Sebaliknya, No Cap berarti berkata jujur secara mutlak, serius, dan fakta seratus persen.1 |
| Salty | Budaya keseharian yang mendeskripsikan rasa asin sebagai bentuk kekesalan.2 | Merasa sangat kesal, jengkel, atau pahit hati terhadap situasi tertentu atau keberhasilan yang diraih oleh orang lain.2 |
| Ghosting | Metafora menjadi “hantu” atau menghilang tanpa jejak secara fisik maupun digital.2 | Tindakan memutuskan seluruh komunikasi secara tiba-tiba dan menghilang tanpa memberikan penjelasan apapun kepada pihak yang bersangkutan.2 |
| Lowkey / Highkey | Slang bermusik tentang nada rendah dan nada tinggi.11 | Lowkey berarti melakukan sesuatu secara diam-diam, sedikit, atau tidak ingin menonjol. Highkey berarti melakukan secara terang-terangan dan penuh intensitas.11 |
| Ate | Perubahan bentuk kata kerja eat (makan) menjadi bentuk lampau.3 | Berarti seseorang telah mendominasi, tampil sempurna, dan “melahap” habis semua perhatian. Jika diucapkan bersama angka “4+4”, maknanya adalah pujian absolut.3 |
| Cringe | Perasaan tidak nyaman secara fisik akibat melihat hal memalukan.2 | Menggambarkan perasaan malu, geli, atau sangat tidak nyaman terhadap sesuatu yang konyol, canggung, dan tidak pada tempatnya.2 |
Daftar di atas menunjukkan dominasi African-American Vernacular English (AAVE) yang sangat kental dalam budaya internet modern. Kata-kata seperti Bussin’, Cap, dan Slay diadopsi oleh anak muda di Indonesia melalui konsumsi video internasional, dan diintegrasikan ke dalam susunan kalimat campuran yang disebut dengan code-mixing atau campur kode bahasa.
Kategori 5: Bahasa Gaul Lokal dan Modifikasi Indonesia
Meskipun sangat dipengaruhi oleh budaya dari Amerika Serikat, pengguna media sosial di Indonesia tidak sekadar menjadi konsumen pasif. Mereka memproduksi dan menciptakan bahasa gaul gen alpha versi lokal yang tak kalah unik. Modifikasi ini menyesuaikan dengan gaya bercanda khas nusantara dan kondisi sosial masyarakat lokal.
| Kata Gaul | Asal Usul / Konteks Awal | Makna dan Penggunaan Saat Ini |
| Apotek Tutup | Lelucon masyarakat Indonesia bahwa sesuatu yang sempurna itu “tidak ada obatnya” (tidak bisa disembuhkan).11 | Ungkapan kiasan hiperbolis yang digunakan untuk mendeskripsikan seseorang, pakaian, atau kejadian yang sangat hebat, luar biasa, dan tak ada tandingannya.11 |
| Stecu | Singkatan dari gabungan dua kata dalam Bahasa Indonesia, yakni “Setelan” dan “Cuek”.11 | Merujuk pada gaya berpakaian kasual, atau sikap hidup seseorang yang sangat santai, tidak ambil pusing, dan tidak peduli terhadap komentar orang lain di internet.11 |
| Ang Ang Ang | Inovasi teks onomatope (tiruan bunyi) dari suara tawa yang aneh di video TikTok.11 | Ekspresi tawa alternatif yang sengaja digunakan untuk menggantikan kata tawa konvensional seperti “hahaha”, “wkwkwk”, atau “xixi”. Memberikan kesan lebih menyindir atau lebih akrab.11 |
| Vibe Check | Terjemahan kultural dari mengecek getaran emosi.11 | Aktivitas kasual untuk menilai suasana hati, energi, niat baik, atau kecocokan aura seseorang terhadap situasi dan lingkungan pergaulan tertentu.11 |
| Girl Math | Konten kreator wanita yang membenarkan kebiasaan berbelanja dengan perhitungan lucu.11 | Logika pemikiran unik dan komedik yang digunakan oleh kaum perempuan untuk membenarkan kebiasaan belanja, diskon, atau pengeluaran finansial yang sebenarnya tidak rasional.11 |
| Very Demure | Tren kecantikan viral tahun 2024 dari kreator Jools Lebron.11 | Mendeskripsikan sikap yang sangat sopan, bersahaja, elegan, dan penuh perhitungan. Di media sosial Indonesia, ini sering digunakan secara sarkastik untuk menyindir sikap yang berlebihan.11 |
Munculnya frasa lokal seperti Apotek Tutup membuktikan kemampuan netizen Indonesia dalam memainkan majas. Mereka menghubungkan ketiadaan obat di apotek dengan sesuatu yang kecantikannya “tidak dapat diobati”. Kreativitas semacam ini membuat bahasa gaul lokal menjadi elemen yang sangat menghibur sekaligus memperkuat ikatan budaya antar pengguna internet di nusantara.
Menggali Lebih Dalam Fenomena “Brainrot”: Estetika Konten Nonsens
Sebuah istilah krusial yang secara harfiah mendasari seluruh pergerakan bahasa gaul gen alpha adalah “brainrot” (pembusukan otak). Istilah ini wajib dipahami secara utuh karena merupakan akar dari banyak slang lainnya. Secara historis, kata brainrot pernah muncul pada publikasi tahun 1800-an untuk mendeskripsikan kondisi penurunan fungsi kognitif dan mental.12 Namun, kata ini meledak dan direvitalisasi pada tahun 2023 dengan makna budaya pop yang sama sekali baru.12
Keberhasilan istilah ini merepresentasikan budaya zaman sekarang bahkan membuat Kamus Besar Oxford University Press secara resmi menobatkan “brainrot” sebagai Kata Tahun Ini (Word of the Year) pada tahun 2024.4 Lembaga tersebut mendefinisikannya sebagai hilangnya kecerdasan atau kemampuan berpikir kritis secara perseptual akibat mengonsumsi konten yang sangat konyol, tidak menantang pikiran, dan dangkal.4
Namun, bagi anak muda, brainrot tidak dianggap sebagai sebuah penyakit medis. Kini, istilah tersebut digunakan secara merendahkan diri sendiri (self-deprecating humor) oleh Generasi Alpha untuk mendeskripsikan jenis konten digital yang sangat tidak masuk akal, kacau, dan berkualitas rendah.4 Konten brainrot biasanya dikarakterisasikan oleh tiga elemen utama: hiper-stimulasi, absurditas tingkat tinggi, dan pengulangan slang secara terus-menerus.20
Video-video ini sering menampilkan pemotongan adegan (cut) yang luar biasa cepat, audio efek suara yang saling tumpang tindih secara memekakkan telinga, dan seringkali menyajikan dua video berbeda secara bersamaan di satu layar—misalnya video wawancara tokoh penting diputar tepat di atas video seseorang sedang bermain permainan Minecraft.20 Strategi visual ini dirancang secara khusus untuk terus menstimulasi reseptor dopamin di otak anak-anak setiap enam detik.20
Menariknya, meskipun mereka sadar bahwa konten tersebut “membusukkan” otak, mereka justru sangat menikmati estetika kekacauan ini. Bagi mereka, brainrot adalah bentuk pelarian eskapisme dari tekanan akademis sekolah dan realitas dunia yang rumit paska-pandemi.12 Mereka menyadari absurditasnya, dan menjadikan pengetahuan akan istilah brainrot ini sebagai “lelucon internal” (inside joke) untuk menyaring siapa saja yang termasuk dalam kelompok sosial mereka dan siapa yang bukan.14
Membedah Sistem Gamifikasi Sosial: Tren Aura Points di TikTok
Di samping tren absurd, bahasa gaul gen alpha juga melahirkan sistem hierarki sosial baru melalui tren “Aura Points” (poin aura). Konsep ini merupakan salah satu tren paling cerdas yang menggabungkan elemen mistis, astrologi, gamifikasi video game, dan psikologi sosial modern.
Secara konvensional, aura didefinisikan sebagai radiasi cahaya berwarna-warni yang memancar dari tubuh seseorang yang dipercaya dapat mengungkapkan status spiritual mereka.17 Namun, di tangan anak muda pemakai TikTok, aura bertransformasi menjadi unit ukuran yang konkret untuk menilai seberapa keren (cool) dan percaya diri seseorang di ruang publik.16
Menariknya, berdasarkan riset dari portal internet Know Your Meme, jejak digital konsep poin aura ini dapat ditelusuri kembali pada tahun 2020 melalui sebuah artikel olahraga dari The New York Times.18 Artikel tersebut membahas tentang seorang pemain sepak bola klub Liverpool yang meskipun melakukan banyak kesalahan di lapangan, namun tetap diselamatkan oleh “auranya” yang memancar mendominasi stadion.18 Diskusi ini kemudian merambat ke komunitas bola basket di platform X (Twitter) dan pada akhirnya bermutasi ketika masuk ke algoritma TikTok.16
Sistem perhitungan ini beroperasi sepenuhnya berdasarkan hukum sebab-akibat yang subjektif. Setiap tindakan yang dilakukan seseorang dalam kehidupan sehari-hari akan memiliki nilai tambah atau nilai kurang yang direpresentasikan dengan angka ribuan.16 Sistem ini berfungsi layaknya papan skor (scoreboard) tidak terlihat yang mengatur dinamika pergaulan.16
Contoh Fluktuasi Aura Points dalam Kehidupan Sehari-hari
- Peningkatan Aura (+ Aura Points): Anda akan mendapatkan tambahan poin aura dalam jumlah besar (+1000 hingga +5000 aura) apabila melakukan hal-hal yang menunjukkan karisma dan dominasi tanpa paksaan. Contohnya: berhasil menyelesaikan tarian TikTok yang sulit (seperti tarian Charlie XCX apple) pada percobaan pertama tanpa cela, membayar tagihan kopi untuk semua teman nongkrong, berpakaian sangat bergaya (stylish), atau berhasil melepaskan diri dari bayang-bayang mantan kekasih yang toxic (beracun) tanpa drama.17 Hal-hal positif ini secara seketika mengangkat derajat status sosial seseorang di mata kelompoknya.
- Penurunan Aura (- Aura Points): Sebaliknya, poin aura Anda akan terkuras drastis jika tertangkap basah melakukan hal yang memalukan (cringe) atau menunjukkan kelemahan sosial. Misalnya: tersandung di trotoar yang rata, salah bicara saat presentasi di depan kelas, kembali mengirim pesan romantis (texting) kepada mantan kekasih yang jelas-jelas mengabaikan Anda, membiarkan diri diselingkuhi tanpa melawan, atau pesan teks diabaikan secara sengaja (hanya dibaca atau left on read).16
Meskipun sistem penilaian ini pada dasarnya adalah lelucon komedi yang sangat arbiter dan tidak ilmiah, ia bekerja dengan sangat efektif. Sistem ini memaksa generasi muda untuk lebih peka terhadap tata krama interaksi sosial dan menumbuhkan kepercayaan diri. Jika aura points diukur dengan baik, hal tersebut menunjukkan bahwa pemiliknya memiliki kepribadian yang tenang (unfazed), menyenangkan, dan relevan dengan zeitgeist kebudayaan saat ini.19 Beberapa akun kreator bahkan mendedikasikan waktu mereka setiap hari untuk mencatat fluktuasi penambahan dan pengurangan aura harian mereka selayaknya laporan portofolio saham keuangan.16
Misteri Angka “67” (Six Seven): Puncak Komunikasi Tanpa Makna
Jika Skibidi masih memiliki dasar dalam bentuk serial animasi YouTube, fenomena kata yang satu ini merupakan puncak tertinggi dari nihilisme komedi Generasi Alpha. Sebuah tren angka “67” atau dibaca dalam bahasa Inggris sebagai “Six Seven” mendadak viral, menginvasi ruang kelas, media sosial, dan kehidupan sehari-hari secara global.9 Angka ini diucapkan terus-menerus tanpa ada alasan logis yang mendasarinya.
Secara historis, kemunculan angka “6-7” bersumber dari lagu rap berjudul “Doot Doot (6 7)” karya musisi Amerika Serikat, Skrilla, yang dirilis resmi pada Februari tahun 2025.9 Lirik lagu tersebut mengulang kata “six-seven” berkali-kali.9 Angka ini pada dasarnya merupakan satuan ukuran tinggi badan 6 kaki 7 inci (sekitar 2,01 meter) yang kebetulan merupakan ukuran tinggi badan pemain bola basket profesional populer di NBA, LaMelo Ball.9 Para pengguna internet sering membuat video kompilasi kelincahan LaMelo Ball dengan menggunakan lagu tersebut sebagai musik latar.10
Namun, transisi frasa tersebut dari referensi olahraga menjadi meme absurd dunia terjadi secara meledak pada tanggal 31 Maret 2025.10 Seorang YouTuber dan pembuat konten, Cam Wilder, mengunggah video pertandingan bola basket tim amatir (AAU) ke salurannya.10 Di pertengahan video tersebut, muncul seorang bocah laki-laki yang tiba-tiba melangkah mendekati kamera sambil melantangkan kata “6-7” dan membuat gerakan gestur tangan memantul yang spesifik.10 Klip pendek bocah ini diunggah ulang ke platform TikTok dan ditonton puluhan juta kali.10
Setelah video “Bocah 6-7” tersebut viral, angka ini benar-benar kehilangan makna aslinya.9 Tergantung pada siapa Anda bertanya, angka ini bisa berarti sesuatu yang “lumayan/standar”, atau yang paling sering, tidak memiliki arti apa-apa.9 Angka 67 menjelma menjadi kata seru spontan (seperti menghela napas panjang atau bersorak) yang diucapkan hanya untuk bersenang-senang dan memancing tawa.14 Anak-anak akan menjawab “67!” ketika ditanya berapa skor ulangan matematika mereka, atau menyapa teman di jalan dengan seruan “67!”.13
Mendefinisikan arti “67” secara kaku justru dianggap akan “merusak” lelucon tersebut.9 Fenomena hilangnya rasionalitas dan menguatnya aspek emosional dalam bahasa internet ini menyebabkan situs leksikografi prestisius, Dictionary.com, menobatkan “6-7” sebagai Word of the Year untuk tahun 2025.14 Direktur Leksikografi mereka, Steve Johnson, menyatakan bahwa saat anak muda mengucapkannya, mereka bukan sekadar mengulang meme, melainkan mengekspresikan ledakan energi murni yang secara instan menghubungkan mereka satu sama lain.14
Bagi guru dan pendidik di sekolah, fenomena ini bagaikan mimpi buruk administratif.9 Banyak guru mengeluhkan murid-murid yang meneriakkan angka tersebut secara acak di tengah pelajaran.9 Sebagai bentuk perlawanan, beberapa tenaga pengajar di Australia memberlakukan larangan ketat (banned) terhadap frasa tersebut.9 Namun, ada pula guru cerdas yang menggunakan taktik psikologi terbalik dengan mengintegrasikannya ke metode mengajar. Seorang guru dilaporkan menghitung sampai angka lima dan membiarkan muridnya berteriak “6… 7!” bersama-sama; setelah siswa merasa puas tertawa, kelas dapat kembali tenang dan kondusif.9 Contoh lain, guru menugaskan murid menuliskan esai tentang asal-usul istilah ini dalam jumlah kata yang dibatasi secara tepat sebanyak 67 kata.9
Pengaruh Ekosistem Influencer TikTok di Indonesia Terhadap Penyebaran Bahasa
Dinamika ekosistem bahasa gaul gen alpha di media sosial tidak dapat bergerak dengan sendirinya secara organik. Terdapat aktor-aktor sentral yang berperan sangat masif sebagai akselerator dan penyebar (diffuser) budaya ini dari kancah internasional menuju penonton lokal. Di Indonesia, laju penyebaran tren bahasa sangat ditentukan oleh performa para influencer atau pembuat konten ternama di aplikasi TikTok.
Menurut berbagai lembaga analitik seperti Modash, HypeAuditor, dan Collabstr, Indonesia memiliki beberapa influencer dengan audiens yang menembus belasan juta pengikut.23 Setiap kata, lelucon, atau gaya yang mereka tampilkan di video harian akan segera diserap, dikomentari, dan direplikasi oleh jutaan penonton yang mayoritas berusia remaja.
Akun-akun populer peringkat atas seperti miskashf, Fadil Jaidi (@fadiljaidi), Juan & Eve (@juanneve), serta Abe Daily menjadi jembatan kultural yang mengartikulasikan slang internasional menjadi lelucon ringan ala Indonesia.24 Fadil Jaidi, misalnya, dengan jumlah pengikut melebihi 16,5 juta, memiliki otoritas sosial yang luar biasa besar untuk menormalisasi sebuah diksi baru di ranah hiburan nasional.24 Ketika figur dengan reputasi komedi tingkat tinggi menggunakan frasa “Sigma” atau “Mewing” saat mengerjai keluarganya, para penggemar secara tidak sadar akan mulai menggunakannya di kehidupan nyata.
Selain itu, kreator konten hiburan yang terkenal dengan gestur hiperaktif dan ekspresif seperti Ganta (7,8 juta pengikut) dan Emil Mario (7,4 juta pengikut) merupakan wadah yang sempurna bagi implementasi budaya brainrot yang digemari Generasi Alpha.24 Mereka sering membawakan narasi yang sangat emosional dengan intonasi tinggi, disisipi oleh istilah seperti “Apotek Tutup”, “Stecu”, atau bahkan tertawa dengan format “Ang Ang Ang” di video mereka.11 Begitu juga dengan kreator kecantikan dan gaya hidup wanita (seperti Shadira Firdausi dan Sakila Agustina) yang aktif mendemonstrasikan perilaku “Very Demure” atau “Girl Math” dalam konteks rutinitas berbelanja dan berdandan mereka sehari-hari.11
Fenomena replikasi ini tidak berhenti di dalam aplikasi. Ketika seorang kreator yang memiliki jutaan pelanggan menggunakan kata tertentu dalam video ulasan makanan atau komedi sketsa, persentase keterlibatan (engagement rate) video tersebut akan melonjak.23 Para pengikut yang merasa terkait (relatable) lantas meniru slang tersebut dalam pembuatan video milik mereka sendiri, menyebarkannya kembali ke dalam grup obrolan WhatsApp, hingga terbawa ke ruang percakapan fisik di sekolah dan kafe. Hubungan simbiotik antara konten kreator dan audiens Gen Alpha inilah yang membuat perputaran siklus hidup sebuah bahasa gaul di Indonesia dapat memudar dan berganti tren hanya dalam hitungan minggu.
Tinjauan Pakar Universitas Mengenai Fenomena Etnolinguistik
Melihat invasi besar-besaran istilah-istilah absurd dari TikTok, tidak sedikit masyarakat yang merasa cemas dan khawatir akan memudarnya esensi dan tata bahasa baku dari Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Muncul ketakutan bahwa generasi masa depan tidak akan mampu lagi menulis atau berbicara secara formal.5 Menanggapi kekhawatiran massal ini, para pakar bahasa dan sosiologi komunikasi akademik turut angkat bicara memberikan perspektif etnolinguistik yang menenangkan dan berlandaskan ilmu.
Evolusi Organik dari Kreativitas Linguistik
Pakar Etnolinguistik dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga (UNAIR), Prof. Dr. Dra. Ni Wayan Sartini, M.Hum., mengemukakan pendapat mendalam bahwa munculnya bahasa gaul gen alpha seharusnya dipandang sebagai bentuk evolusi budaya yang normal, bukan sebuah kemunduran atau degradasi moral.27 Lahirnya kosa kata seperti “Mewing”, “Rizz”, dan “Sigma” merupakan manifestasi langsung dari tingginya kreativitas dan kemampuan inovasi generasi muda yang lahir secara organik dari rahim komunitas digital mereka.27
Dalam sebuah kajian jurnal akademik dari Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar (Pendas) Universitas Pasundan (UNPAS) Volume 09 Tahun 2024, diungkapkan bahwa penggunaan bahasa absurd ini ditujukan untuk mengakomodasi kebutuhan manusia berkomunikasi dengan lebih cepat.1 Era Society 5.0 yang menuntut pertukaran informasi kilat di medium terbatas (seperti kolom komentar, caption singkat, atau video 15 detik) mendorong penutur bahasa mencari jalan pintas linguistik.1 Maka dari itu, memotong suku kata panjang atau menggabungkan singkatan baru dipandang sebagai sebuah manuver efisiensi, alih-alih perusakan struktur tata bahasa.27 Penemuan kosakata tersebut berfungsi dengan amat baik dalam menjadi penanda identitas generasi serta perekat rasa kebersamaan (solidaritas) sesama kaum Generasi Alpha secara eksklusif.1
Sifat Historis dan Masa Berlaku Bahasa Gaul yang Temporer
Hal terpenting yang digarisbawahi oleh para pakar bahasa akademik adalah sifat temporal dari bahasa gaul itu sendiri.27 Sepanjang sejarah umat manusia, setiap generasi yang lahir akan selalu memiliki “bahasa sandi” kaum muda mereka masing-masing.27 Sama halnya ketika generasi milenial memiliki slang “woles”, “alay”, atau bahasa gaul era 2000-an yang dahulu dikhawatirkan merusak bahasa nasional, kosakata Gen Alpha pun akan mengalami masa kadaluwarsanya.
Seiring dengan bertambahnya usia penutur ke jenjang yang lebih tinggi (seperti memasuki dunia perguruan tinggi yang akademis atau terjun ke bursa tenaga kerja profesional), tuntutan pragmatis dari lingkungan sekitar akan memaksa mereka untuk melakukan adaptasi bahasa kembali.27 Kosakata seperti “Skibidi” atau lelucon “6-7” secara perlahan akan berkurang penuturnya dan memudar menjadi sekadar artefak sejarah digital.
Oleh karena itu, penggunaan frasa ini tidak akan serta-merta merusak tatanan keutuhan Bahasa Indonesia.27 Budaya ini dapat ditoleransi sepenuhnya asalkan pengaplikasiannya tetap berada pada domain dan ruang lingkup komunikasi informal yang memang ditujukan untuk bersosialisasi dan hiburan antarteman sebaya.27 Masalah baru yang sesungguhnya baru akan muncul apabila institusi pendidikan dan masyarakat gagal mengajarkan para pelajar tentang etika penempatan bahasa (code-switching)—yakni keterampilan mengetahui batasan yang jelas mengenai kapan, di mana, dan kepada siapa mereka pantas menggunakan bahasa baku konvensional versus bahasa gaul internet.27
Analisis Komparatif: Perbedaan Mendasar Bahasa Gaul Gen Z dan Gen Alpha
Seorang awam yang berusia dewasa mungkin akan kesulitan membedakan antara konten buatan Generasi Z dan Generasi Alpha, mengingat keduanya sangat aktif di TikTok. Namun, pakar sosiologi mengamati adanya perbedaan demarkasi leksikal yang signifikan di antara kedua entitas ini. Perbedaan ini merefleksikan latar belakang sosiokultural serta tahap maturitas platform digital saat mereka bertumbuh.1
Generasi Z (kelahiran pertengahan 1990-an hingga 2009) yang menghabiskan fase perkembangan kanak-kanaknya saat masa transisi menuju era digital, cenderung memproduksi dan menggunakan slang yang masih mengacu pada hukum tata bahasa tradisional serta isu sosial.5 Bahasa gaul Gen Z umumnya lebih terstruktur dan sering terfokus pada penandaan eksistensi kelompok pergaulan, batas-batas moralitas romantisme, serta kesadaran akan kesehatan mental.5 Kata-kata populer mereka seperti “Slay” (kehebatan personal), “Flex” (memamerkan kekayaan), “Ghosting” (menghilang dari kencan), atau “Red Flag” memiliki definisi kausalitas yang sangat mapan dan logis di dunia nyata.11 Kosakata tersebut digunakan untuk memperjelas sikap atau niat seseorang.
Di sisi lain, Generasi Alpha lahir dan membuka mata di tengah puncak kemajuan revolusi algoritma kecerdasan buatan, internet super cepat, dan saturasi platform video mikro pascapandemi.3 Hal ini mengarahkan gaya komunikasi mereka ke ranah yang jauh lebih dinamis, ekstrem, hiperaktif, dan tidak lagi terstruktur.5 Mereka mendobrak logika bahasa konvensional. Mereka sangat gemar memotong kata tanpa pola rasional, menggabungkan secara acak bahasa slang asing (terutama Bahasa Inggris AAVE) dengan lelucon lokal (code-mixing ganda), serta lebih mengutamakan kesan sonik atau efek bunyi sebuah kata dibandingkan dengan utilitas maknanya secara leksikal.5
Kebergantungan massal Gen Alpha pada penggunaan format balasan stiker, reaksi absurd, meme surealis dari YouTube Shorts (seperti Skibidi Toilet), membuat pola struktur komunikasi mereka sangat cair dan sulit dipetakan menggunakan pisau analisis tata bahasa formal lama.5 Perbedaan yang esensial ini merepresentasikan bagaimana penetrasi teknologi yang lebih dini dan lebih dalam pada usia prasekolah mampu memicu transisi budaya percakapan dari yang berorientasi pada “penyampaian makna logis” menuju ekspresi yang berorientasi pada “getaran emosi komunal” murni.5
Strategi Digital Marketing Menghadapi Dinamika Tren Komunikasi Anak Muda
Cepatnya perputaran tren kata dan frasa dalam bahasa gaul gen alpha menciptakan paradigma tantangan—sekaligus peluang yang sangat menguntungkan—bagi orang tua, institusi pendidikan, dan khususnya bagi para pakar optimasi Search Engine Optimization (SEO) serta praktisi pemasaran digital (Digital Marketing) korporat. Memahami pola komunikasi ini adalah investasi bisnis yang esensial untuk mengamankan dominasi pasar di dekade berikutnya.
Bagi orang tua dan tenaga pendidik milenial, pendekatan psikologis terbaik untuk menghadapi rentetan kata absurd ini adalah menghindari sikap reaktif, menghakimi, atau langsung melarang secara otoriter penggunaan istilah tersebut di lingkungan rumah.9 Sejarah membuktikan bahwa pelarangan komunikasi justru hanya akan menciptakan barrier eksklusivitas, membuat bahasa gaul menjadi alat pemberontakan remaja yang semakin kuat.9 Alih-alih menghardik, orang dewasa sangat dianjurkan untuk membuka diri mempelajari makna filosofis di balik kosakata tersebut dan menjadikannya sebagai sarana humor pemecah kebekuan (ice breaker) yang cerdas demi meruntuhkan sekat emosional antargenerasi.3 Mendekati pola pikir anak melalui bahasanya sendiri merupakan kunci pendampingan literasi media yang efektif.2
Sementara itu, bagi perusahaan multinasional dan pemasar digital yang berfokus membangun kesetiaan merek (brand loyalty) pada segmen demografis termuda, menyusupkan secara cerdik bahasa gaul gen alpha di dalam kampanye publikasi adalah senjata rahasia.28 Algoritma mesin pencari Google dan ekosistem indeks penelusuran TikTok sangat mengutamakan kata kunci (keyword) yang relevan dengan kueri perbincangan harian audiens. Menempatkan kata LSI Latent Semantic Indexing seperti “Sigma”, “Rizz”, atau “Aura Points” secara natural ke dalam artikel blog (SEO Content), takarir media sosial, maupun naskah video pendek akan melonjakkan rasio klik (Click-Through Rate / CTR) secara fenomenal.29
Audiens muda saat ini terbukti sangat apatis dan kebal terhadap iklan tradisional yang kaku atau formal.28 Namun, mereka cenderung merespons positif, memberikan interaksi suka (like), dan membagikan (share) konten merek yang berani menanggalkan identitas korporat dan berbicara layaknya teman sebaya di internet. Sebuah jenama (brand) fesyen dapat dengan mudah mempromosikan katalog terbaru mereka dengan narasi kalimat aktif bernada santai seperti, “Outfit stecu ini bakal kasih kamu +5000 aura points hari ini, no cap!“.11 Teknik pemasaran gerilya yang menggabungkan elemen hiburan brainrot dan pesan persuasif produk ini berhasil meretas psikologi Gen Alpha secara subliminal.28 Walau demikian, pemasar harus tetap memastikan penggunaan diksi tersebut tidak melampaui batas kewajaran agar tidak jatuh pada kesan “cringe” atau terlalu dipaksakan (trying too hard).2
Kesimpulan: Navigasi Arus Budaya Internet Masa Depan
Berdasarkan investigasi menyeluruh yang telah dipaparkan, fenomena masifnya bahasa gaul gen alpha di berbagai kanal media tidak dapat lagi dipandang sebelah mata sebagai keributan anak-anak belaka. Ekosistem linguistik ini merupakan bukti nyata, terukur, dan akademis mengenai bagaimana kombinasi revolusi teknologi perangkat keras, kekuatan algoritma media sosial seperti TikTok, dan saturasi kebudayaan digital global dapat menyatu untuk mendikte ulang cara peradaban manusia menyandikan informasi.
Siklus kata-kata gaul telah bertransformasi sepenuhnya. Mulai dari istilah surealis seperti Skibidi dan misteri euforia angka acak 67 yang meniadakan logika rasional 10, hingga lahirnya konsep gamifikasi validasi sosial modern yang diukur melalui parameter Aura Points.16 Ditambah pula dengan puluhan serapan dari budaya meme Amerika hingga ke adaptasi hiper-lokal khas Indonesia, terbukti bahwa generasi termuda kita tidak hanya mewarisi bahasa; mereka merakit ulang bahasa tersebut menjadi sistem sandi yang tak terbatas oleh sangkar tata bahasa baku masa lampau.5
Kendati di mata sebagian masyarakat awam bahasa ini sering dihujat dan dikategorikan secara sinis sebagai konten pembusuk pikiran atau brainrot 20, analisis ilmiah justru merekam hal sebaliknya. Slang ini mengukuhkan kapabilitas inovasi, kreativitas kognitif organik, serta agilitas mental generasi yang terlahir tepat di tengah gempuran era Society 5.0.2 Mereka menggunakan kosakata yang cepat memudar ini bukan untuk merusak sastra klasik, melainkan murni sebagai sarana menajamkan identitas eksklusif komunal dan memangkas jarak transmisi emosional di belantara internet maya.1
Tantangannya kini terletak bukan pada bagaimana menghapus kata-kata sandi ini dari memori kolektif mereka, tetapi lebih kepada bagaimana membimbing Generasi Alpha agar lihai memposisikan kompas komunikasinya. Mereka harus dilatih memahami kapan ruang lelucon daring berakhir dan di mana etika percakapan dunia nyata yang sesungguhnya dimulai. Mempelajari tren komunikasi harian tidak akan pernah menjadi aktivitas yang merugikan. Sebaliknya, upaya menelisik bahasa pergaulan hari ini sesungguhnya adalah membuka jendela intelektual terbesar untuk memproyeksikan peradaban cara berpikir manusia di masa depan.
Bagaimana tanggapan Anda mengenai invasi kosakata Skibidi dan Aura Points di lingkungan Anda belakangan ini? Silakan bagikan sudut pandang, kritik, maupun pengalaman unik berinteraksi menggunakan istilah gaul ini di kolom komentar. Jangan lupa untuk membaca ulasan artikel kami selanjutnya mengenai strategi jitu optimalisasi konten digital pemasaran dalam menyambut Generasi Alpha.
Karya yang dikutip
- Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, ISSN Cetak – Journal Unpas, diakses April 28, 2026, https://journal.unpas.ac.id/index.php/pendas/article/download/21115/10125/84525
- Pemaknaan dan Penggunaan Bahasa Gaul oleh Gen Alpha dalam Komunikasi Online di Era Society 5.0 – dmi-journals, diakses April 28, 2026, https://dmi-journals.org/deiktis/article/download/1180/804/
- Gen Alpha Slang 101: How to Understand Kids This Back-to-School Season, diakses April 28, 2026, https://thestoryexchange.org/gen-alpha-slang-101-how-to-understand-kids-this-back-to-school-season/
- Decoding Gen Alpha’s quirky slang, from ‘skibidi’ to ‘Italian brain rot’ and ‘6 7’, diakses April 28, 2026, https://www.scmp.com/special-reports/article/3335175/decoding-gen-alphas-quirky-slang-skibidi-italian-brain-rot-and-6-7
- Ekspresi Diri dengan Bahasa Gaul Gen Z dan Gen Alpha Halaman 1 – Kompasiana.com, diakses April 28, 2026, https://www.kompasiana.com/teresaadelia7829/6752307ded641539562f8952/ekspresi-diri-dengan-bahasa-gaul-gen-z-dan-gen-alpha
- Know Your Skibidi: Navigating Gen Alpha’s Slang Types and Trend on Social Media X, diakses April 28, 2026, https://publikasi-adpiindonesia.id/icorad/index.php/home/article/view/219
- 55 Gen Alpha Slang Words You Need To Know To Keep from Being ‘Beta’ – Parade, diakses April 28, 2026, https://parade.com/living/gen-alpha-slang
- What is Gen Alpha slang? The meaning behind words like ‘skibidi,’ ‘sigma’ | FOX 5 New York, diakses April 28, 2026, https://www.fox5ny.com/news/gen-alpha-slang-words-meaning-skibidi-sigma
- What the Heck Does ‘6 7’ Mean? Inside Gen Alpha’s Latest Slang. – VICE, diakses April 28, 2026, https://www.vice.com/en/article/what-the-heck-does-6-7-mean-inside-gen-alphas-latest-slang/
- 6-7 (meme) – Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas, diakses April 28, 2026, https://id.wikipedia.org/wiki/6-7_(meme)
- Bahasa Gaul Gen Z dan Alpha Lagi Viral di TikTok -, diakses April 28, 2026, https://mimbarnusantara.com/lifestyle/27315/bahasa-gaul-gen-z-da-alpha-lagi-viral-di-tiktok/
- What is “Brain Rot”? The Gen Alpha Slang Term Explained – Science of People, diakses April 28, 2026, https://www.scienceofpeople.com/what-is-brain-rot/
- Gen Alpha’s “6–7” Explained #shorts – YouTube, diakses April 28, 2026, https://www.youtube.com/shorts/673sZdj8GQA
- Bahasa Gaul ’67 (Six Seven)’ Viral Jadi Word of the Year 2025, Ini Artinya – Wolipop, diakses April 28, 2026, https://wolipop.detik.com/entertainment-news/d-8185518/bahasa-gaul-67-six-seven-viral-jadi-word-of-the-year-2025-ini-artinya
- What does ‘mogging’ mean? Bizarre Gen Z looksmaxxing trend explained – Indy100, diakses April 28, 2026, https://www.indy100.com/viral/what-is-mogging
- Aura Points Meaning | Popular TikTok Trend Broken Down – Plann, diakses April 28, 2026, https://www.plannthat.com/social-media-glossary/aura-points/
- What are aura points? Online trend explained | The Standard, diakses April 28, 2026, https://www.standard.co.uk/culture/tiktok/what-are-aura-points-b1172403.html
- Okay, so what exactly are the aura points you keep seeing all over your TikTok? – The Tab, diakses April 28, 2026, https://thetab.com/2024/06/17/okay-so-what-exactly-are-the-aura-points-you-keep-seeing-all-over-your-tiktok
- What Are Aura Points On TikTok? The Viral Trend, Explained – Bustle, diakses April 28, 2026, https://www.bustle.com/wellness/aura-points-tiktok
- Deciphering ‘Brainrot’: A Parent’s Guide to Gen Alpha Slang and Viral Culture – Screenwise, diakses April 28, 2026, https://screenwiseapp.com/guides/brainrot-the-curious-parents-guide-to-this-crazy-world
- Seeing a lot of ’67’ memes? Here’s what the Gen Alpha trend really means, diakses April 28, 2026, https://timesofindia.indiatimes.com/etimes/trending/seeing-a-lot-of-67-memes-heres-what-the-gen-alpha-trend-really-means/articleshow/124556819.cms
- 67 | Slang – Dictionary.com, diakses April 28, 2026, https://www.dictionary.com/culture/slang/67
- Top 20 TikTok Influencers in Indonesia: Find Indonesian TikTokers (Apr 2026) – Modash, diakses April 28, 2026, https://www.modash.io/find-influencers/tiktok/indonesia
- Top 1000 TikTok Influencers in Indonesia – HypeAuditor, diakses April 28, 2026, https://hypeauditor.com/top-tiktok-indonesia/
- Top 63 Tiktok Influencers in Indonesia: Find & Hire Tiktok Indonesia Influencers on Collabstr, diakses April 28, 2026, https://collabstr.com/top-influencers/tiktok/in/indonesia
- 20 Best TikTok Influencers in Indonesia in 2026 – AJ Marketing, diakses April 28, 2026, https://www.ajmarketing.io/feed/top-20-tiktok-influencers-indonesia
- Pakar Bahasa UNAIR Soroti Bahasa Gaul Gen Alpha – Universitas …, diakses April 28, 2026, https://unair.ac.id/pakar-bahasa-unair-soroti-bahasa-gaul-gen-alpha/
- The use of gen alpha slang as a persuasive language in Instagram reels marketing | Priviet Social Sciences Journal, diakses April 28, 2026, https://journal.privietlab.org/index.php/PSSJ/article/view/543
- What Are LSI Keywords? And How Do They Help With SEO? – PW Skills, diakses April 28, 2026, https://pwskills.com/blog/what-are-lsi-keywords-digital-marketing/


0 Komentar