Table Of Content
Pabrik baterai modern yang menggambarkan potensi Indonesia merespons aturan ekspor baterai Cina dan memperkuat posisinya di pasar global.

Aturan Ekspor Baterai Cina Guncang Dunia, Indonesia Siap Jadi Pemain Kunci Rantai Pasok Global?

oleh | Okt 16, 2025 | Teknologi | 0 Komentar

Peta rantai pasok global untuk transisi energi sedang digambar ulang secara fundamental. Sebuah keputusan strategis dari Beijing telah mengirimkan gelombang kejut ke seluruh dunia, memaksa setiap negara dan perusahaan multinasional untuk mengevaluasi kembali ketergantungan mereka. Aturan ekspor baterai Cina yang baru bukanlah sekadar penyesuaian kebijakan perdagangan; ini adalah sebuah manuver geopolitik yang menandai babak baru dalam perang teknologi global. Kebijakan ini secara efektif mengubah material penting untuk kendaraan listrik (EV) dan penyimpanan energi menjadi instrumen kekuatan negara.

Langkah ini menciptakan kekosongan besar dalam rantai pasok yang selama ini sangat bergantung pada dominasi Tiongkok. Di tengah ketidakpastian ini, semua mata tertuju pada Indonesia, negara dengan cadangan nikel terbesar di dunia. Momen ini menghadirkan peluang emas bagi Indonesia untuk bertransformasi dari sekadar pemasok bahan mentah menjadi pemain kunci yang disegani. Namun, jalan menuju puncak tidaklah mudah. Peluang besar ini diimbangi oleh tantangan teknologi, persaingan pasar, isu lingkungan, dan pertanyaan fundamental mengenai pemerataan ekonomi yang harus dinavigasi dengan strategi yang cerdas dan berkelanjutan.

Membedah Aturan Ekspor Baterai Cina: Senjata Baru dalam Perang Teknologi

Untuk memahami skala disrupsi yang terjadi, penting untuk membedah secara rinci kebijakan yang diterapkan oleh Beijing. Ini bukan sekadar pembatasan, melainkan sebuah sistem kontrol komprehensif yang dirancang untuk melindungi keunggulan teknologi dan memberikan pengaruh strategis.

Detail Kebijakan: Apa Saja yang Dibatasi?

Pada 9 Oktober 2025, Kementerian Perdagangan Cina (MOFCOM) bersama Administrasi Umum Kepabeanan mengeluarkan Keputusan No. 58 Tahun 2025 yang mulai berlaku efektif pada 8 November 2025.1 Kebijakan ini menempatkan serangkaian produk terkait baterai ke dalam Daftar Barang Penggunaan Ganda (Dual-Use) yang ekspornya memerlukan lisensi khusus.1 Kontrol ini mencakup seluruh spektrum rantai nilai, dari material hingga teknologi:

  • Baterai Berkinerja Tinggi: Sel atau kemasan baterai lithium-ion dengan kepadatan energi sangat tinggi, yaitu sama dengan atau lebih dari 300 Wh/kg.2 Target ini secara spesifik menyasar segmen paling canggih dalam industri EV dan sistem penyimpanan energi skala besar.
  • Material Kunci: Pembatasan diberlakukan pada komponen fundamental baterai, termasuk grafit anoda buatan, material katoda canggih seperti Lithium Iron Phosphate (LFP) berdensitas tinggi, dan prekursor nikel-kobalt-mangan (NCM).1
  • Peralatan Manufaktur: Kontrol juga mencakup mesin-mesin vital untuk produksi baterai, seperti mesin penggulung (winding), mesin laminasi, dan peralatan injeksi cairan elektrolit.4 Ini adalah langkah untuk menghambat negara lain membangun kapasitas produksi independen.
  • Teknologi dan Pengetahuan: Kebijakan ini meluas hingga mencakup kekayaan intelektual dan keahlian teknis yang terkait dengan penambangan, pemrosesan, dan manufaktur baterai.7

Mekanisme ini memberikan Beijing kekuatan diskresioner untuk memutuskan siapa yang mendapatkan akses ke komponen-komponen krusial ini, mengubah rantai pasok menjadi arena pengaruh geopolitik.

Alasan di Balik Tirai Bambu: Keamanan Nasional atau Dominasi Pasar?

Secara resmi, pemerintah Cina menyatakan bahwa langkah ini bertujuan untuk “menjaga keamanan dan kepentingan nasional” serta mematuhi kewajiban non-proliferasi internasional untuk barang-barang penggunaan ganda.3 Namun, para analis global melihat konteks yang jauh lebih luas. Kebijakan ini muncul sebagai respons langsung terhadap tekanan yang meningkat dari negara-negara Barat, terutama Amerika Serikat.

Langkah ini mengikuti kebijakan AS yang membatasi penjualan semikonduktor canggih ke Cina dan diumumkan di tengah ancaman tarif impor 100% oleh pemerintahan Trump.4 Menanggapi pembatasan teknologi di satu sektor (semikonduktor), Beijing tidak membalas secara simetris. Sebaliknya, mereka memilih medan perang yang berbeda namun sama krusialnya: material baterai, di mana Cina memiliki dominasi yang tak tertandingi, seperti menguasai lebih dari 90% pemurnian grafit dunia.9

Dengan mengendalikan tidak hanya bahan mentah tetapi juga peralatan manufaktur dan teknologinya, Cina secara efektif menciptakan hambatan teknologi. Ini bukan hanya langkah defensif untuk melindungi inovasi dalam negeri, tetapi juga manuver ofensif yang dirancang untuk memperlambat laju para pesaing. Upaya negara-negara Barat untuk membangun rantai pasok independen menjadi jauh lebih mahal dan kompleks, yang pada akhirnya dapat memperpanjang dominasi pasar Cina di era transisi energi.

Efek Domino Kebijakan Beijing: Rantai Pasok Global dalam Gejolak

Keputusan Cina untuk memperketat kontrol ekspor telah memicu efek domino di seluruh dunia, menyoroti betapa dalamnya ketergantungan global pada ekosistem manufaktur Tiongkok. Guncangan ini dirasakan di berbagai sektor industri vital, memaksa para pemain global untuk bereaksi cepat.

Guncangan di Industri Otomotif dan Teknologi Tinggi

Dampak langsung dari pengumuman ini adalah kepanikan di pasar. Banyak perusahaan bergegas menimbun material sebelum batas waktu berlaku, yang menyebabkan lonjakan ekspor jangka pendek dan kenaikan harga komoditas seperti grafit.13

Bagi industri otomotif, kebijakan ini merupakan ancaman serius. Produsen mobil besar seperti Ford, BMW, dan Mercedes-Benz, yang sangat bergantung pada komponen dari Cina untuk kendaraan listrik mereka, kini menghadapi risiko gangguan produksi dan kenaikan biaya.16 Hal ini memaksa mereka untuk secara agresif mencari pemasok alternatif demi menjaga kelangsungan lini produksi EV mereka. Dampaknya tidak berhenti di situ; sektor lain seperti kedirgantaraan, pertahanan, dan semikonduktor juga terpengaruh, karena mereka menggunakan grafit bermutu tinggi dan logam tanah jarang dalam produk-produk canggih mereka.14

Respons Global: Perlombaan Mencari Alternatif

Guncangan pasokan ini telah menjadi katalisator bagi negara-negara Barat untuk mempercepat upaya diversifikasi. Kebijakan yang sebelumnya hanya sebatas wacana kini diimplementasikan dengan urgensi tinggi. Amerika Serikat, Uni Eropa, dan Australia telah meluncurkan berbagai inisiatif kebijakan untuk membangun rantai pasok non-Cina, mulai dari insentif untuk industri dalam negeri hingga pembatasan perdagangan mineral kritis dengan Tiongkok.18

Negara-negara importir utama seperti Jepang, Korea Selatan, dan India, yang selama ini menjadi pelanggan terbesar grafit Cina, kini berada di garis depan dalam perlombaan mencari sumber pasokan baru.9 Sementara itu, AS dan Eropa tidak hanya mencari bahan mentah alternatif tetapi juga mengucurkan investasi besar untuk membangun pabrik baterai mereka sendiri.21

Ironisnya, langkah Cina untuk “mempersenjatai” dominasinya mungkin secara tidak sengaja menjadi pemicu yang paling kuat bagi inovasi dan investasi di Barat. Ketidakpastian pasokan dan biaya yang lebih tinggi memaksa pemerintah dan perusahaan Barat untuk mengalokasikan modal besar-besaran guna membangun tambang, kilang, dan pabrik baterai mereka sendiri. Lebih jauh lagi, ancaman terputusnya pasokan baterai berbasis nikel mendorong percepatan riset dan pengembangan (R&D) pada teknologi baterai alternatif, seperti baterai berbasis natrium (sodium-ion), yang dapat sepenuhnya menghindari rantai pasok nikel dan kobalt.23 Dengan demikian, upaya Cina untuk mengamankan dominasinya hari ini bisa jadi merupakan tindakan yang justru mengikis dominasi tersebut di masa depan.

Momen Emas Indonesia: Peluang di Tengah Ketidakpastian Global

Di tengah gejolak rantai pasok global, Indonesia muncul sebagai kandidat utama yang dapat mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh kebijakan Cina. Dengan aset strategis yang dimilikinya, Indonesia berada dalam posisi unik untuk menarik investasi dan meningkatkan perannya secara signifikan.

Nikel Sebagai “Senjata” Strategis Indonesia

Kekuatan utama Indonesia terletak pada kekayaan sumber daya alamnya. Negara ini memiliki cadangan nikel terbesar di dunia, yang diperkirakan mencakup 42% hingga 52% dari total cadangan global.24 Selain itu, Indonesia juga merupakan produsen nikel nomor satu di dunia, memberikannya pengaruh besar terhadap pasokan bahan baku utama untuk baterai EV.24

Keunggulan ini diperkuat oleh posisi geopolitik Indonesia yang netral. Di tengah meningkatnya persaingan antara AS dan Cina, sikap non-blok Indonesia menjadikannya lokasi yang menarik dan relatif stabil bagi investasi dari kedua belah pihak, baik dari Barat maupun Timur.27

Visi Hilirisasi: Dari Penjual Tanah ke Produsen Teknologi

Pemerintah Indonesia telah mengantisipasi pergeseran ini dengan kebijakan “hilirisasi” yang ambisius. Dengan melarang ekspor bijih nikel mentah sejak tahun 2020, pemerintah memaksa investasi asing untuk membangun fasilitas pengolahan (smelter) di dalam negeri.28 Langkah proaktif ini, yang diambil jauh sebelum aturan ekspor baterai Cina diumumkan, menempatkan Indonesia beberapa langkah di depan negara-negara lain yang baru mulai membangun industri pengolahan mereka.

Tujuan dari kebijakan ini adalah untuk menangkap nilai tambah yang lebih besar dari sumber daya alam. Indonesia tidak lagi ingin dikenal hanya sebagai pengekspor bahan mentah, melainkan sebagai produsen terintegrasi produk bernilai tinggi seperti feronikel, nikel matte, dan puncaknya, komponen baterai EV.29 Visi besar yang digaungkan oleh para pemimpin negara dan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) adalah menjadikan Indonesia sebagai pusat manufaktur dan pemain kunci dalam ekosistem baterai dan kendaraan listrik global.27

Namun, keberhasilan awal dari kebijakan hilirisasi ini juga menciptakan bentuk ketergantungan baru. Pembangunan industri smelter yang pesat sebagian besar didanai oleh modal dan teknologi dari Cina, yang datang untuk mengamankan akses terhadap bijih nikel.35 Ketergantungan ini menghadirkan serangkaian tantangan strategis yang akan menentukan apakah Indonesia benar-benar dapat menjadi pemain independen atau hanya menjadi perpanjangan tangan dari rantai pasok negara lain.

Langkah Nyata Hilirisasi: Dari Tambang Menuju Pabrik Baterai Raksasa

Visi besar pemerintah untuk menjadikan Indonesia sebagai pemain utama industri baterai global tidak hanya berhenti di level wacana. Aliran investasi senilai triliunan rupiah telah mulai merealisasikan ambisi tersebut, dengan pembangunan pabrik-pabrik berskala masif yang menjadi bukti nyata kemajuan program hilirisasi.

Investasi Triliunan Rupiah Mengalir Deras

Indonesia telah berhasil menarik komitmen investasi bernilai miliaran dolar untuk membangun ekosistem baterai yang terintegrasi, mulai dari penambangan hingga manufaktur sel baterai.37 Beberapa proyek raksasa telah menjadi tonggak penting dalam perjalanan ini:

  • PT HLI Green Power: Sebuah perusahaan patungan antara Hyundai, LG Energy Solution, dan Indonesia Battery Corporation (IBC) yang telah mencapai prestasi signifikan dengan memulai produksi massal sel baterai di Karawang sejak April 2024.32 Ini adalah pabrik sel baterai pertama dan terbesar di Asia Tenggara.
  • Konsorsium IBC-CATL: Proyek kolosal senilai US$5,9 miliar (sekitar Rp 96 triliun) yang dirancang sebagai ekosistem terintegrasi penuh. Proyek ini mencakup seluruh rantai pasok, mulai dari penambangan dan peleburan nikel di Maluku Utara hingga produksi sel baterai dan fasilitas daur ulang di Karawang.39
  • Investor Lainnya: Kepercayaan pasar terhadap potensi Indonesia juga tercermin dari masuknya investor lain seperti PT LBM Energi Baru di Batang dan minat besar dari raksasa otomotif seperti Volkswagen untuk berinvestasi dalam ekosistem baterai nasional.42

Proyek-Proyek Strategis yang Menjadi Tulang Punggung

Skala dan keseriusan komitmen investasi ini paling baik diilustrasikan melalui rincian proyek-proyek strategis yang sedang berjalan. Proyek-proyek ini menjadi tulang punggung bagi ambisi Indonesia untuk menguasai rantai pasok baterai.

Tabel 1: Proyek Investasi Baterai EV Strategis di Indonesia

Nama Proyek / PerusahaanInvestor KunciNilai Investasi (Estimasi)Kapasitas Produksi (Target)LokasiTarget Operasi
PT HLI Green PowerHyundai, LG Energy Solution, IBCUS$1,1 Miliar (Rp 13,5-50 Triliun)Fase 1: 10 GWh/tahunKarawang, Jawa BaratSudah Beroperasi (2024)
Ekosistem Terintegrasi IBC-CBLIBC, CATL (via CBL)US$5,9 Miliar (Rp 96 Triliun)Total 15 GWh/tahun (sel baterai)Maluku Utara & KarawangBertahap 2026 – 2031
– Proyek Sel Baterai (JV 5)IBC, CBLBagian dari total investasi15 GWh/tahunKarawang, Jawa BaratFase 1: 2026
– Proyek Material Baterai (JV 4)IBC, CBLBagian dari total investasi30.000 ton Li-hydroxideHalmahera Timur, Malut2028
PT LBM Energi Baru IndonesiaLBM New Energy (China)Rp 1,5 Triliun (Tahap 1)TBDBatang, Jawa TengahDalam Pembangunan

Pembangunan masif ini menunjukkan bahwa Indonesia tidak hanya memiliki potensi bahan baku, tetapi juga mulai membangun kapasitas industri yang nyata untuk bersaing di panggung global.

Jalan Terjal Menuju Puncak: Tantangan Krusial di Balik Ambisi Besar

Meskipun peluang dan kemajuan yang telah dicapai sangat menjanjikan, jalan Indonesia untuk menjadi pemimpin global dalam industri baterai masih penuh dengan tantangan yang kompleks dan saling terkait. Mengabaikan rintangan ini akan menjadi kesalahan fatal dalam perumusan strategi nasional.

Tantangan Teknologi dan Ketergantungan Impor

Kekuatan Indonesia saat ini masih terkonsentrasi di sektor hulu (penambangan). Namun, penguasaan teknologi di sektor hilir yang memiliki nilai tambah tertinggi, seperti produksi material katoda dengan kemurnian tinggi, masih menjadi tantangan besar.28 Sebagian besar produk ekspor nikel olahan Indonesia saat ini masih berupa produk antara seperti Nickel Pig Iron (NPI) atau Mixed Hydroxide Precipitate (MHP), bukan komponen baterai jadi.44

Selain itu, ada satu kelemahan fundamental: Indonesia tidak memiliki cadangan litium, komponen vital yang tidak dapat digantikan dalam baterai lithium-ion. Ini berarti Indonesia akan selalu bergantung pada impor litium dari negara lain seperti Australia.39 Keberhasilan jangka panjang juga sangat bergantung pada transfer teknologi yang efektif dari mitra asing seperti CATL dan LG kepada para insinyur dan ilmuwan Indonesia, sebuah proses yang membutuhkan waktu dan komitmen berkelanjutan.41

Persaingan Pasar Global dan Ancaman Baterai Non-Nikel

Dominasi Cina di pasar baterai global sangatlah kokoh. Dengan kapasitas produksi masif dan efisiensi biaya yang tinggi, Cina diproyeksikan masih akan menguasai lebih dari 80% pasar anoda global pada akhir dekade ini.45 Bersaing secara langsung dengan raksasa industri ini akan sangat sulit.

Ancaman lain datang dari inovasi teknologi. Pasar global menunjukkan pergeseran yang signifikan ke arah baterai Lithium Iron Phosphate (LFP), terutama untuk kendaraan listrik jarak standar. Baterai LFP tidak menggunakan nikel maupun kobalt, dua komoditas andalan Indonesia.44 Pangsa pasar baterai LFP telah meningkat pesat dari 28% pada tahun 2021 menjadi 40% pada tahun 2023.44 Tren ini merupakan ancaman strategis yang dapat mengurangi relevansi cadangan nikel Indonesia jika tidak diantisipasi dengan diversifikasi teknologi.

Jerat Isu Lingkungan dan Sosial (ESG)

Industri pertambangan nikel Indonesia sering kali dibayangi oleh stigma “nikel kotor” (dirty nickel).46 Praktik penambangan dituding menyebabkan kerusakan lingkungan yang parah, termasuk deforestasi, pencemaran sumber air, dan emisi karbon yang tinggi dari smelter yang mayoritas ditenagai oleh batu bara.47

Tekanan ini bukan hanya datang dari aktivis lingkungan, tetapi juga dari pasar. Konsumen utama di Uni Eropa dan Amerika Serikat menerapkan regulasi Environmental, Social, and Governance (ESG) yang semakin ketat. Regulasi seperti “Paspor Baterai” Uni Eropa akan mewajibkan transparansi penuh atas jejak karbon di seluruh rantai pasok.47 Produk yang gagal memenuhi standar ini berisiko ditolak di pasar-pasar kunci tersebut. Selain itu, ekspansi pertambangan juga sering memicu konflik sosial terkait sengketa lahan dengan masyarakat lokal dan adat, seperti yang terjadi pada suku O’Hongana Manyawa di Halmahera.47 Meskipun beberapa perusahaan seperti PT Vale di Morowali dan IWIP di Teluk Weda telah berupaya menerapkan praktik ESG yang lebih baik, tantangan ini tetap menjadi isu krusial.49

Kritik Ekonomi: Siapa yang Paling Diuntungkan dari Hilirisasi?

Di tengah narasi kesuksesan hilirisasi, muncul suara kritis yang mempertanyakan siapa sebenarnya yang paling diuntungkan. Ekonom senior Faisal Basri adalah salah satu kritikus paling vokal, dengan argumen bahwa model hilirisasi saat ini lebih banyak menguntungkan Cina daripada Indonesia.36

Menurut analisisnya, hingga 90% dari nilai tambah yang dihasilkan dari proses pengolahan nikel mengalir ke investor Cina, sementara Indonesia hanya mendapatkan sekitar 10%.36 Ia menyoroti data dari Kabupaten Morowali, di mana Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) melonjak 25 kali lipat, namun tingkat konsumsi rumah tangga lokal hanya tumbuh 2,2 kali lipat. Ini mengindikasikan bahwa kekayaan yang dihasilkan tidak menetes ke bawah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal secara signifikan.52 Kritik ini diperkuat oleh fakta bahwa banyak perusahaan smelter asing mendapatkan fasilitas tax holiday atau bebas pajak selama bertahun-tahun, yang semakin mengurangi pendapatan langsung bagi negara.36

Keempat tantangan ini—teknologi, persaingan, ESG, dan pemerataan ekonomi—saling terkait erat. Untuk mengatasi kesenjangan teknologi, Indonesia membutuhkan investasi asing. Namun, untuk menarik investasi tersebut, pemerintah memberikan insentif pajak yang memicu kritik pemerataan ekonomi. Pembangunan smelter yang cepat untuk memenuhi permintaan investor sering kali menggunakan energi batu bara yang murah, yang memperburuk masalah ESG dan mengancam akses pasar di masa depan. Memutus siklus ini membutuhkan sebuah strategi nasional yang jauh lebih canggih daripada sekadar membangun smelter.

Kesimpulan: Strategi Indonesia Menjadi Pemain Kunci, Bukan Sekadar Pemasok

Kebijakan pembatasan ekspor baterai oleh Cina telah secara fundamental mengubah lanskap industri energi global, membuka sebuah jendela peluang yang monumental bagi Indonesia. Dengan cadangan nikel terbesar di dunia dan langkah-langkah hilirisasi yang telah berjalan, Indonesia berada pada posisi yang sangat strategis. Namun, analisis mendalam menunjukkan bahwa memiliki bahan mentah saja tidak cukup untuk memenangkan persaingan di panggung dunia.

Tantangan yang dihadapi sangat nyata dan kompleks, mulai dari ketergantungan pada teknologi dan impor litium, persaingan ketat dengan dominasi Cina dan inovasi baterai non-nikel, hingga jerat isu lingkungan (ESG) yang dapat menutup akses pasar, serta kritik tajam mengenai pemerataan manfaat ekonomi dari hilirisasi.

Untuk benar-benar bertransformasi menjadi “pemain kunci” (key player) dan bukan hanya sekadar lokasi pengolahan bagi kepentingan negara lain, Indonesia harus mengadopsi strategi yang lebih holistik dan berwawasan ke depan. Beberapa langkah strategis yang krusial antara lain:

  1. Investasi pada Riset dan Pengembangan (R&D): Pemerintah dan industri harus secara agresif mengalokasikan sumber daya untuk membangun kapabilitas R&D dalam negeri. Tujuannya adalah untuk mendaki rantai nilai teknologi, mengurangi ketergantungan pada kekayaan intelektual asing, dan pada akhirnya menciptakan inovasi sendiri.
  2. Menegakkan Standar ESG Kelas Dunia: Indonesia harus proaktif dalam mengadopsi dan menerapkan standar ESG yang diakui secara internasional. Ini bukan lagi pilihan, melainkan keharusan untuk memastikan akses pasar jangka panjang, menarik investasi berkualitas, dan menjamin keberlanjutan lingkungan dan sosial.
  3. Renegosiasi Kemitraan Investasi: Struktur kesepakatan investasi di masa depan harus dirancang ulang untuk memastikan porsi manfaat ekonomi yang lebih besar—baik melalui pajak, royalti, maupun transfer teknologi—tetap berada di Indonesia dan dirasakan oleh masyarakat luas.
  4. Diversifikasi Strategis: Bergantung sepenuhnya pada nikel adalah pertaruhan yang berisiko. Indonesia perlu secara serius menjajaki diversifikasi, termasuk membangun industri daur ulang baterai berskala besar dan membuka kemitraan dalam pengembangan teknologi baterai alternatif seperti LFP atau natrium-ion untuk melindungi diri dari pergeseran pasar di masa depan.

Perjalanan Indonesia masih panjang dan terjal. Namun, dengan navigasi strategis yang cerdas, Indonesia memiliki potensi tidak hanya untuk menjadi pemasok material kritis, tetapi juga untuk menjadi pusat inovasi dan produksi teknologi bersih yang disegani di dunia.

Menurut Anda, langkah strategis apa yang paling krusial bagi Indonesia untuk memenangkan persaingan di rantai pasok baterai global? Bagikan pendapat Anda di kolom komentar!

Karya yang dikutip

  1. China imposes export controls on lithium-batteries and artificial graphite anode materials | Herbert Smith Freehills Kramer | Global law firm, diakses Oktober 16, 2025, https://www.hsfkramer.com/insights/2025-10/china-export-controls-lithium-batteries-and-artificial-graphite-anode-materials
  2. China Tightens Export Controls on Lithium Battery and Graphite Materials – Asia Pacific, diakses Oktober 16, 2025, https://energetica-india.net/news/china-tightens-export-controls-on-lithium-battery-and-graphite-materials
  3. China’s Lithium Battery Export Controls Reshape Global Energy Landscape, diakses Oktober 16, 2025, https://www.battery-energy-storage-system.com/news/china-lithium-battery-export-control-2025.html
  4. China imposes new export controls on lithium ion battery technology – Energy Storage, diakses Oktober 16, 2025, https://www.ess-news.com/2025/10/13/china-imposes-new-export-controls-on-lithium-ion-battery-technology/
  5. Lithium market braces for new Chinese export controls, shifting supply picture: LME Week 2025 – Fastmarkets, diakses Oktober 16, 2025, https://www.fastmarkets.com/insights/lithium-market-braces-for-new-chinese-export-controls-shifting-supply-picture-lme-week-2025/
  6. China imposes new export controls on lithium ion battery tech – pv magazine India, diakses Oktober 16, 2025, https://www.pv-magazine-india.com/2025/10/13/china-imposes-new-export-controls-on-lithium-ion-battery-tech/
  7. PRC Announces New Export Controls on Rare Earth and Battery Materials and Technology, diakses Oktober 16, 2025, https://www.mayerbrown.com/en/insights/publications/2025/10/prc-announces-new-export-controls-on-rare-earth-and-battery-materials-and-technology
  8. China expands export controls on rare earths, magnets, and high-tech materials: What companies need to know | News & Events – Clark Hill, diakses Oktober 16, 2025, https://www.clarkhill.com/news-events/news/china-expands-export-controls-on-rare-earths-magnets-and-high-tech-materials-what-companies-need-to-know/
  9. China Mau Batasi Ekspor Bahan Baku Baterai Kendaraan Listrik …, diakses Oktober 16, 2025, https://finance.detik.com/industri/d-6994338/china-mau-batasi-ekspor-bahan-baku-baterai-kendaraan-listrik-ada-apa
  10. Cina Batasi Ekspor Bahan Mentah Baterai – Avolta.id, diakses Oktober 16, 2025, https://www.avolta.id/cerita/2023/10/cina-batasi-ekspor-bahan-mentah-baterai/
  11. US doubles down on China with additional 100% tariff, effective November 1, 2025 or earlier, diakses Oktober 16, 2025, https://m.economictimes.com/news/international/global-trends/trump-announces-100-tariffs-on-china-over-and-above-any-tariff-they-are-currently-paying/articleshow/124468423.cms
  12. China – U.S. Export Controls – International Trade Administration, diakses Oktober 16, 2025, https://www.trade.gov/country-commercial-guides/china-us-export-controls
  13. China extends export controls to lithium ion batteries and battery materials, diakses Oktober 16, 2025, https://source.benchmarkminerals.com/article/china-extends-export-controls-to-lithium-ion-batteries-and-battery-materials
  14. Membongkar Kontrol Ekspor Grafit China: Krisis Rantai Pasok Baterai Global?, diakses Oktober 16, 2025, https://www.metal.com/id/newscontent/103269594
  15. Graphite prices tick up following China’s proposed export regulations – Benchmark Source, diakses Oktober 16, 2025, https://source.benchmarkminerals.com/article/graphite-prices-tick-up-following-chinas-proposed-export-regulations
  16. Industri Otomotif dan Robot Terancam Gegara China Batasi Ekspor Tanah Jarang, diakses Oktober 16, 2025, https://finance.detik.com/industri/d-7959725/industri-otomotif-dan-robot-terancam-gegara-china-batasi-ekspor-tanah-jarang
  17. Pembatasan Mineral Langka China Makan Korban, Produsen Otomotif Global Stop Produksi – YouTube, diakses Oktober 16, 2025, https://www.youtube.com/watch?v=Tt7NKrLXCe4
  18. Reviu Informasi Strategis – Kementerian ESDM, diakses Oktober 16, 2025, https://www.esdm.go.id/assets/media/content/content-reviu-informasi-strategis.pdf
  19. China Perketat Cengkeraman pada Teknologi Baterai Kendaraan Listrik dengan Kontrol Ekspor Baru – Shanghai Metal Market, diakses Oktober 16, 2025, https://www.metal.com/id/newscontent/103438013
  20. Tiba-tiba China Umumkan Keputusan Penting, Bikin Dunia Geger – CNBC Indonesia, diakses Oktober 16, 2025, https://www.cnbcindonesia.com/research/20231021141613-128-482518/tiba-tiba-china-umumkan-keputusan-penting-bikin-dunia-geger
  21. Laporan Reviu Informasi Strategis Periode Juli – September 2024 – Kementerian ESDM, diakses Oktober 16, 2025, https://www.esdm.go.id/assets/media/content/content-laporan-reviu-informasi-strategis-periode-juli-september-2024.pdf
  22. Kebangkrutan Produsen AS Picu Risiko Rantai Pasokan, China dan Eropa Bersaing Kembangkan Jalur Baru untuk Paduan Magnesium dan Baterai Magnesium [Survei SMM] – Shanghai Metal Market, diakses Oktober 16, 2025, https://www.metal.com/id/newscontent/103533022
  23. Akibat EV Mahal, Investasi Global untuk Baterai LFP Makin Marak – Bloomberg Technoz, diakses Oktober 16, 2025, https://www.bloombergtechnoz.com/detail-news/77223/akibat-ev-mahal-investasi-global-untuk-baterai-lfp-makin-marak
  24. Indonesia Punya Cadangan Nikel Terbesar di Dunia – GoodStats Data, diakses Oktober 16, 2025, https://data.goodstats.id/statistic/indonesia-punya-cadangan-nikel-terbesar-di-dunia-OqxIS
  25. Booklet-Nikel-FA.pdf – Kementerian ESDM, diakses Oktober 16, 2025, https://www.esdm.go.id/assets/booklet/tambang-2020/Booklet-Nikel-FA.pdf
  26. STRATEGI INDONESIA DALAM PENGEMBANGAN INDUSTRI NIKEL TAHUN 2020 – E-journals Universitas Mulawarman, diakses Oktober 16, 2025, https://e-journals2.unmul.ac.id/index.php/RGJ/article/download/3653/1633/11746
  27. Indonesia Punya Potensi Jadi Hub Rantai Pasok Industri Kendaraan Listrik Dunia, diakses Oktober 16, 2025, https://www.metrotvnews.com/read/kELCzMZJ-indonesia-punya-potensi-jadi-hub-rantai-pasok-industri-kendaraan-listrik-dunia
  28. Indonesia Menuju Kedaulatan Mineral Kritis, diakses Oktober 16, 2025, https://indonesia.go.id/kategori/editorial/8718/indonesia-menuju-kedaulatan-mineral-kritis?lang=1
  29. Hilirisasi Nikel, Ambisi Indonesia Punya Pabrik Baterai – IESR, diakses Oktober 16, 2025, https://iesr.or.id/infografis/hilirisasi-nikel-ambisi-indonesia-punya-pabrik-baterai/
  30. Hilirisasi Nikel Hasilkan Nilai Tambah Industri Baterai Kendaraan Listrik – Kementerian ESDM RI – Media Center – Arsip Berita, diakses Oktober 16, 2025, https://www.esdm.go.id/id/media-center/arsip-berita/hilirisasi-nikel-hasilkan-nilai-tambah-industri-baterai-kendaraan-listrik
  31. Hambatan dan Tantangan dalam Pengembangan Battery Electric Vehicle Indonesia Tinjauan Atas Pelaksanaan Dana Alokasi Khusus Fisik – DPR RI, diakses Oktober 16, 2025, https://berkas.dpr.go.id/pa3kn/buletin-apbn/public-file/buletin-apbn-public-146.pdf
  32. Presiden Jokowi Resmikan Ekosistem Kendaraan Listrik dan Pabrik Sel Baterai Listrik Pertama dan Terbesar di Asia Tenggara – Presiden RI, diakses Oktober 16, 2025, https://www.presidenri.go.id/siaran-pers/presiden-jokowi-resmikan-ekosistem-kendaraan-listrik-dan-pabrik-sel-baterai-listrik-pertama-dan-terbesar-di-asia-tenggara/
  33. Menteri Investasi Yakin Indonesia Jadi Pemain Global Ekosistem Baterai Mobil Listrik – BKPM, diakses Oktober 16, 2025, https://www.bkpm.go.id/id/info/siaran-pers/menteri-investasi-yakin-indonesia-jadi-pemain-global-ekosistem-baterai-mobil-listrik
  34. Kadin optimis RI jadi produsen baterai mobil listrik terbesar di dunia – ANTARA News, diakses Oktober 16, 2025, https://www.antaranews.com/berita/2394225/kadin-optimis-ri-jadi-produsen-baterai-mobil-listrik-terbesar-di-dunia
  35. Korupsi dan Ancaman Masa Depan Teluk Weda Ditengah Industrialiasi Nikel, diakses Oktober 16, 2025, https://ti.or.id/korupsi-dan-ancaman-masa-depan-teluk-weda-ditengah-industrialiasi-nikel/
  36. Faisal Basri: 90% Program Hilirisasi Nikel Untungkan Industri China – kabarbisnis.com, diakses Oktober 16, 2025, https://www.kabarbisnis.com/read/28120168/faisal-basri-90-program-hilirisasi-nikel-untungkan-industri-china
  37. Prabowo Dorong Hilirisasi Nikel dan Ekosistem Baterai Listrik: Proyek US$ 45 Miliar Siap Dimulai, diakses Oktober 16, 2025, https://nikel.co.id/2025/05/28/prabowo-dorong-hilirisasi-nikel-dan-ekosistem-baterai-listrik-proyek-us-45-miliar-siap-dimulai/
  38. Nilai investasi pabrik baterai EV terintegrasi capai Rp100 triliun – ANTARA News, diakses Oktober 16, 2025, https://www.antaranews.com/berita/4931693/nilai-investasi-pabrik-baterai-ev-terintegrasi-capai-rp100-triliun
  39. Pabrik Baterai EV Rp96 Triliun RI Dibangun, Target Beroperasi Mid …, diakses Oktober 16, 2025, https://www.cnbcindonesia.com/news/20250707101428-4-646807/pabrik-baterai-ev-rp96-triliun-ri-dibangun-target-beroperasi-mid-2026
  40. RI Bakal Punya Pabrik Baterai Rp 95 Triliun, Target Produksi 2027 – detikFinance, diakses Oktober 16, 2025, https://finance.detik.com/energi/d-7997816/ri-bakal-punya-pabrik-baterai-rp-95-triliun-target-produksi-2027
  41. Bukti Nyata Hilirisasi Nikel, Indonesia Siap Produksi Massal Baterai Kendaraan Listrik pada April 2024 – BKPM, diakses Oktober 16, 2025, https://www.bkpm.go.id/id/info/siaran-pers/bukti-nyata-hilirisasi-nikel-indonesia-siap-produksi-massal-baterai-kendaraan-listrik-pada-april-2024
  42. Investasi Rp 1,5 Triliun, LBM Energi Baru Garap Pabrik Baterai EV di Batang, diakses Oktober 16, 2025, https://listrikindonesia.com/detail/17847/investasi-rp-15-triliun-lbm-energi-baru-garap-pabrik-baterai-ev-di-batang
  43. Volkswagen Siap Jadi Pemain Industri Baterai Kendaraan Listrik di Indonesia – Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, diakses Oktober 16, 2025, https://bkpm.go.id/id/info/siaran-pers/volkswagen-siap-jadi-pemain-industri-baterai-kendaraan-listrik-di-indonesia
  44. Segudang Tantangan Mengadang Mimpi Indonesia Jadi Pemain Baterai EV Dunia, diakses Oktober 16, 2025, https://www.voaindonesia.com/a/segudang-tantangan-mengadang-mimpi-indonesia-jadi-pemain-baterai-ev-dunia/7684783.html
  45. What do China’s export restrictions mean for graphite? – YouTube, diakses Oktober 16, 2025, https://www.youtube.com/watch?v=pHkdCmlm88E
  46. ESG Jadi Kunci PT Vale Wujudkan Praktik Nikel Bersih di Indonesia, diakses Oktober 16, 2025, https://vale.com/pt/w/esg-jadi-kunci-pt-vale-wujudkan-praktik-nikel-bersih-di-indonesia-1
  47. Narasi Hijau Sekadar Polesan, Nikel Bisa Kehilangan Masa Depan, diakses Oktober 16, 2025, https://transisienergiberkeadilan.id/id/special-reports/detail/narasi-hijau-sekadar-polesan-nikel-bisa-kehilangan-masa-depan
  48. Rangkuman Tinjauan Lingkungan dan Sosial (ESRS) Proyek Tambang Nikel PT Weda Bay Nickel – MIGA, diakses Oktober 16, 2025, https://www.miga.org/sites/default/files/archive/Documents/ESRS_Weda_Bay_Translation.pdf
  49. IWIP Dorong Penerapan ESG untuk Industri Nikel Berkelanjutan di ESG Forum 2025 – PT Indonesia Weda Bay Industrial Park, diakses Oktober 16, 2025, https://iwip.co.id/2025/06/12/iwip-dorong-penerapan-esg-untuk-industri-nikel-berkelanjutan-di-esg-forum-2025/
  50. Melihat Bingkai Praktik ESG dalam Industri Nikel Morowali – Indonesian Mining Association, diakses Oktober 16, 2025, https://ima-api.org/melihat-bingkai-praktik-esg-dalam-industri-nikel-morowali/
  51. Kritik Kebijakan Jokowi, Faisal Basri Sebut 90 Persen Keuntungan Hilirisasi Nikel Mengalir ke Cina | tempo.co, diakses Oktober 16, 2025, https://www.tempo.co/ekonomi/kritik-kebijakan-jokowi-faisal-basri-sebut-90-persen-keuntungan-hilirisasi-nikel-mengalir-ke-cina–158060
  52. Ekonom Faisal Basri Ungkap Hilirisasi Nikel Hanya Untungkan Pihak China, Ini Datanya, diakses Oktober 16, 2025, https://nasional.kontan.co.id/news/ekonom-faisal-basri-ungkap-hilirisasi-nikel-hanya-untungkan-pihak-china-ini-datanya
  53. Menjawab Sanggahan Presiden Jokowi tentang Hilirisasi Nikel – faisal basri, diakses Oktober 16, 2025, https://faisalbasri.com/2023/08/11/menjawab-sanggahan-presiden-jokowi-tentang-hilirisasi-nikel/

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *